
Araxi pun telah berada di dalam dimensi milik hantu anak kecil tersebut, tanpa ia duga dengan menahan rasa sakit disekujut tubuhnya, akan teteap ia bersikukuh untuk tetap membantu hantu kecil tersebut, agar dapat menemukan penyebab kematian yang membuat hantu itu bergentayangan.
Bahkan tak juga dengan sengaja ia menutup akses masuk ke dalam dimensi tersebut, agar Albert tak bisa mengikutinya atau menyusulnya ke dalam tempat yang sedang ia tuju.
Pandangan mata Araxi menjadi dingin, saat ia tak sengaja melihat keadaan di suatu rumah yang membuat menahan napas amarah mendidih, tetapi ia lebih memilih mengikuti langkah hantu kecil tersebut, seperti menunjukkan suatu kejadian di mana ia meregang nyawa.
“Mas, kenapa kau selalu menyiksa anak kita?” tanya seorang wanita yang di duga sebagai ibu kandung dari hantu anak kecil tersebut.
“Sudah kukatan bukan, dia itu bukan anak kandungku. Aku menikahimu karena aku hanya menginginkan harta warisan yang ditinggalkan oleh, ayah kandungnya!” jawab seorang pria dengan tawa yang menggelegar. “Beri aku uang banyak! Bukankah almarhum suamimu itu meninggalkan banyak uang?”
“Mas, jangan seperti ini. Aku tak punya uang sebanyak itu, bahkan itu bukan hak milikku tapi hak milik anak kita.”
Sebuah tamparan keras pun mendarat dipipi wanita tersebut, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
“Kau itu tuli atau bukan, hah? Sudah kukatan berkali-kali. Anak itu bukanlah darah dagingku, lantas aku harus selalu menyayanginya begitu, hm! Menyusahkan saja.” pria itu tanpa merasa bersalah dengan sikap dan perkataan yang terlontar dari bibirnya.
__ADS_1
Sebab keduanya tak menyadari, ada seorang anak lelaki yang diam-diam mendengarkan pertengkaran mereka dini hari itu, tanpa sadar air mata anak lelaki tersebut mengalir dengan sendirinya.
Ia pun berpikir apakah dirinya dibutuhkan atau memang, kedua orang sangat egois bahkan tak jarang mereka tak pernah berpikir tentang perasaannya sangat terlukai itu.
Araxi yang melihatnya pun menjadi geram, dengan kelakuan dari seorang pria tanpa merasa bersalah pada seorang anak lelaki tersebut.
Aku pikir bukan wanita busuk itu saja yang selalu menyakiti, bahkan dia jauh lebih menjijikkan dari wanita itu! Jadi kau ingin menyelamatkan seluruh harta milikmu begitu?
Itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh dirinya, bahkan ia pun berpikir bagaimana caranya nanti mengatakan pada suster tersebut, untuk tak terlalu serakah dalam menggunakan harta yang seharusnya milik hantu anak lelaki itu.
“Bangun!” menyiram anak lelaki tersebut dengan air yang sangat dingin, sebab ia mencampurnya dengan beberapa bungkus es batu yang ia temukan sebelum di campur dengan air biasa. “Dasar, anak pembawa sial! Kau pikir aku sudi menyayangimu, hah? Cih … Jangan pernah bermimpi … Bahwa aku mau mengakuimu sebagaimana mesti anak kandungku … Karena aku hanya mengincar seluruh harta yang di tinggalkan oleh mendiang, ayahmu itu!” katanya dengan meludah ke arah anak kecil yang ia ikat erat, agar dirinya bisa menyiksa hati dan batinnya.
Ia yang masih kecil itu pun tak bisa berkutik, saat kedua kaki beserta dengan kedua tangan itu terikat erat, bahkan wajahnya pun terlihat sangat pucat sehingga, membuat bibirnya menjadi biru.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Gess maaf ya nge up cuman per bab saja sebab aku juga lagi nulis karyaku genre mafia yang mangkrak setahunan aku revisi ulang alurnya yang penuh misteri
Jangan lupa mampir ya di sana
Langsung klik saja Profil ku
See you next time
__ADS_1