
Halo readersku yang tersayang maaf baru bisa nge up ya
Beneran loh aku lagi sibuk ngurus naskah novelku lain yang mau aku terbit cetak
Insha allah doakan juga untuk kembar tiga indigo akan tetap usahakan aku up ya
Jadi jangan kemana-mana karena aku juga yo enggak kemana-mana kok
Seperti biasa jangan lupa like vote biar aku bisa makin up.
See you next time
Love you all
Di bawah ini aku kasih split Araxi yang menatap dingin ke arah...
Hayo tebak siapa tuh...
.
.
.
.
.
********
“Cih.” Desisnya sembari membuang puntung rokok yang sedang ia hisap sembari meludah ke arah Sumarni.
Tak lama kemudian sorot matanya menjadi lebih tajam nan menusuk saat menatap kearah dirinya. “Aku ingin menikah denganmu dan semua hutang yang menjadi bebanmu aku anggap selesai. Bagaimana apa kau mau?”
Tawaran yang di ajukan dari Juragan Dendi pada Sumarni seketika membuat tubuhnya melemas.
Bagaimana mungkin dirinya dibuat syok mendengar tawaran yang di ajukan oleh Juragan Dendi tersebut.
Mengingat dirinya sangat tahu persis bahwa ada dua istri-istrinya yang sangat tidak menyukai bila suami mereka mendekati seorang gadis muda dan juga lebih cantik dari mereka.
__ADS_1
Dengan sisa keberanian yang Sumarni punya ia pun segera mengatakan perihal tentang permintaan dari Tuannya tersebut.
“Maaf Tuan saya menolak tawaran anda,” ucap Sumarni dengan melangkahkan kakinya.
Meninggalkan sang Juragan tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah dirinya merasa tidak bergerak sama sekali akibat penolakan dari gadis muda tersebut, hingga salah satu ajudannya mengagetkan dirinya.
“Tuan,” Suara ajudan botak dari Juragan Dendi mengagetkan dirinya. “Gadis itu sudah beranjak pergi. Apakah perlu saya menangkapnya?” ucap botak tersebut seraya menawarkan diri.
“Tidak usah kau kejar, nanti kita yang mendatangi rumahnya.” Kata Juragan Dendi tegas. “Lebih baik kau antarkan aku ke rumah, pasti dua Nyonyamu itu akan mengamuk tidak karuan ketika melihatku mendekati daun muda.”
Dengan patuh akhirnya dua ajudan yang selalu mengikuti dirinya itu pun mengantarkannya pulang ke rumah yang mana dirinya tengah di tunggu oleh dua wanita yang sangat mengerikan namun sedikit licik.
Sedangkan itu Sumarni tengah berjalan dengan tergopoh-gopoh, bagaimana bisa dirinya berada dalam situasi yang mencekam setelah mendengar tawaran yang di lontarkan oleh Juragan Dendi tersebut.
Karena biar bagaimana pun juga Sumarni harus berhati-hati terhadap Juragan Dendi itu sendiri, mengingat tatapan sorot matanya mengandung makna yang sulit di artikan.
Hingga tanpa sadar dirinya telah sampai di depan rumah sederhana, peninggalan satu-satunya dari mendiang almarhum bapaknya itu.
Sementara itu di rumah besar mewah milik dari Juragan Dendi, terdapat dua wanita yang tengah bersantai sembari menggosipkan sesuatu yang tengah mengganggu pikiran mereka masing-masing.
“Kak,” panggil wanita lebih muda darinya dengan manja.
“Ada apa?” tanya seorang istri yang lebih tua seraya jemari lentiknya mencepit sebuah batang rokok yang sedang di hisapnya. “Apa yang tengah mengganggu pikiranmu?”
“Apa Kakak tidak takut, kalau sewaktu-waktu suami kita menikah lagi dengan yang lebih muda dari kita.” Kata istri Juragan Dendi yang lebih muda dari yang tengah mengobrol dengannya.
“Kalau pun dia menikah lagi biarkan saja, yang penting kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.” Sahut istri tua Juragan Dendi acuh. “Selama ini kita tak pernah kekurangan apa pun, bahkan suami kita tak mempermasalahkan kita tidak bisa memberinya anak. Lagi pula kalau itu yang kau takutkan, bukankah kita berdua justru wanita yang paling di takuti di kampung ini.”
Istri tua dari Juragan Dendi itu pun mempertegaskan, bahwa mereka tidak perlu terlalu panik. Jika mendapatkan suami mereka menikah, karena saat itulah mereka akan menunjukkan taringnya.
Araxi yang mendengar semua perkataan tersebut, hanya bisa menatap dingin ke arah dua wanita istri dari Juragan Dendi yang mana kedua orang itu mempunyai sorot mata yang mematikan.
******
Sementara itu malam hari telah menyambut di sebuah kantor milik Kevin Morgan Adhitya, dengan Andra yang tengah selesai membereskan berkas-berkas yang di kerjakan oleh dirinya itu.
Bersiap-siap untuk pulang ke rumah yang mana sang putra tercinta tengah menantikan kedatangannya.
__ADS_1
Namun saat ia akan melangkah terdengar suara bariton Kevin dengan sang putri tercinta ya itu menyapa dirinya yang akan bersiap beranjak dari ruang kerja milik Andra.
“Apa kau tidak mampir ke mansionku Ndra?” ucap Kevin sembari menawarkan sang sahabatnya untuk mampir ke mansion ya berada.
Serta Kevin menggenggam tangan putrinya tercinta yang selalu menampilkan senyum palsu, jika sedang berhadapan dengan dirinya.
“Istri dan anakku pasti sudah menungguku di rumah. Jadi tak usah Vin, lain kali saja.” Tolak Andra halus sembari melangkahkan kakinya, meninggalkan dua orang berbeda generasi yang tengah berjalan berlawanan arah tempat mobil terparkir.
Dua mobil tersebut meninggalkan gedung kantor pencakar langit, dengan arah yang berlawanan.
Andra yang tengah menyetir tersebut, hanya bisa menghela napas gusar. Yang mana perasaannya semakin tak karuan, andai benar putranya tercinta mengetahui sebuah rahasia yang selama ini dirinya sembunyikan.
Mengingat dirinya dengan Kevin Tuannya tersebut terpaksa melakukan hal tersebut, untuk menutup kecurigaan dari wanita yang pernah membunuh ayah itu.
Serta juga atas permintaan dari salah dari mereka, yang selalu menjaga dan melindungi ketiga kembar tersebut. Yang kini telah beranjak dewasa.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai oleh dirinya itupun, telah sampai di pekarangan rumah. Yang mana dirinya mendapat sambutan hangat dari istrinya tercinta.
“Dear apa kamu menunggu kepulanganku?” tanya Andra sembari mengecup bibir Ella singkat.
“Tidak juga kok, aku barusan ingin membuang sampah.” Sahut Ella berkilah. “Oh iya tuh putra kesayanganmu ingin berbicara penting denganmu.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.