
“Tenang saja aku pasti akan menjaga rahasia Ayah,” jawab Theo datar tanpa ragu.
Ivone yang mendengar obrolan mereka itupun terkejut, saat mendengar nada suara yang sangat familier ditelinganya, dan untuk memastikannya dengan terpaksa Ivone menyapa teman semasa sekolahnya dulu.
“Tunggu,” sahut Ivone. “Apa kau Theo yang dulu sering dibully anak-anak?” tanya Ivone dengan raut wajah serius.
Sebelah alis Theo terangkat saat mendengar pertanyaan dari seorang gadis di samping atasan ayahnya itu, “Dari mana kau tahu namaku?” tanya Theo balik dengan heran.
“Pasti kau lupa denganku. Padahal aku sangat ingat betul, saat dulu kau sering dibully mereka. Karena kau di anggap anak yang aneh,” terang Ivone sembari pikirannya menerawang kejadian di mana temannya tersebut dibully.
“Maksudmu apa? Bagaimana kau bisa tahu hal itu?” tanya Theo yang merasa heran dengan seseorang yang didepannya itu.
“Sudahlah lupakan saja. Anggap aku tak mengenalimu,” ucap Ivone ketus.
Bola mata Theo membulat saat dirinya secara tak sengaja mengingat masa di mana ia selalu mendapat bullyan dari teman-temannya itu.
Namun ada seseorang gadis yang menolongnya, meskipun gadis tersebut mendapat bullyan dari teman-teman.
Namun bedanya gadis tersebut dibully oleh teman-temannya karena tak mempunyai seorang ibu, seketika itu saat menatap ke arah gadis tersebut alangkah kagetnya ketika menatap mata gadis itu, mengingatkannya pada teman semasa smp.
__ADS_1
Tentunya hanya gadis tersebut yang tak menganggapnya aneh, karena kemampuannya yang dapat melihat makhluk tak kasat mata.
“Kau Ivone?” tanya Theo seraya memastikan sesuatu.
Dengan jengah dan malas menanggapi pertanyaan dari Theo, tanpa sengaja Ivone pun justru tak menjawab pertanyaan dari temannya tersebut.
Kevin yang mendengar perdebatan mereka pun sedikit terkejut, dengan pernyataan dari keduanya. Untuk membuktikannya dengan terpaksa ia menanyakan hal tersebut pada mereka. “Jadi kalian saling kenal?”
Dengan mengangguk kepala, Ivone pun mulai menceritakan tentang pertemanannya dengan Theo pada Papanya tersebut. “Aku mengenalnya karena dulu dia selalu dibully dan dianggap aneh sewaktu masih smp Pa. Untuk itulah aku mulai mempunyai teman seperti dia,” jawab Ivone dengan jelas.
“Oh begitu! Ya sudah, kalau kamu senang berteman dengannya Papamu tak mempermasalahkannya. Yang jelas Papa sangat ingin mengetahui tentang dianggap aneh itu apa?”
“Kenapa Papa tak tanya sendiri pada Om Andra?”
Sembari menunggu hasil operasi yang masih dilakukan oleh dokter tersebut, dari arah lain lebih tepatnya di sebuah tempat kosong tak berpenghuni itu.
Terdapat Albert dan Angel yang tengah menunggu keadaan Araxi dari kejauhan, Albert sendiripun merasa cemas dengan keadaan gadis tomboi dingin yang secara tak terduga mendapat serangan mengejutkan dari sesosok makhluk kecil berupa jenglot.
Membuat darah Albert mendidih, bagaimana bisa Araxi diserang oleh makhluk tersebut. Ia pun ingin membuat perhitungan dengan makhluk itu, akan tetapi pikiran dan hatinya tengah kacau, sehingga ia tak dapat melacak kembali keadaan jenglot tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana bisa Araxi mendapat serangan dari makhluk itu Kak?” tanya Angel cemas.
“Entahlah Kakak sendiripun tak tahu. Mengapa bisa Araxi diserang olehnya!” jawab Albert dingin.
Obrolan keduanya pun terhenti, saat tiba-tiba ada pocong yang datang mengejutkan mereka.
“Dia mendapat serangan dari makhluk itu. Karena darah tubuhnya langka, dan juga telah ditandai oleh makhluk kecil yang biasa disebut jenglot,” sahut pocong tersebut yang datang dengan tiba-tiba.
.
.
.
.
.
Jangan lupa ya kopi sama kembang
__ADS_1
E canda ding
See you next time