
...“Aku telah gagal menjaga, maka biarkanlah aku menebus rasa bersalah ini dengan menutup diri dari siapapun yang ingin bersanding denganku.”...
...(RAYMOND WESLEY WIRATMAJA)...
.
.
.
.
“Mengapa tak kamu saja yang menyelidiki ini dengan kemampuanmu Boy. Papa yakin dia seperti ini karena ada alasan yang tak bisa dijelaskan, Papa harap kamu tak marah maupun kecewa dengan sikapnya. Apa kamu paham?” Raymond pun memberinya saran sekaligus peringatan keras pada putranya itu.
“Ya sudah kalau begitu, untuk rapat hari ini sebaiknya kita Batalkan saja. Papa tak ingin kamu tak fokus pada rapat ini, istirahatkan pikiranmu dengan tenang. Papa pergi ke ruangan dulu.”
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Raymond dengan Sean asisten pribadinya beranjak dari ruangan pribadi Leonard, untuk membicarakan hal penting yang menyangkut penyelidikan tentang ketiga kembar anaknya yang saat ini masih belum menunjukkan kabar titik terang.
Sampai tiba di ruangan milik Raymond, di dalam kamar pribadi itu, Raymond dengan Sean pun mulai membicarakan tentang penyelidikan terhadap ketiga kembar anaknya yang telah lama berpisah dengan dirinya.
“Mengapa kau tak mengatakan pada putramu, bahwa kau sudah lama bisa berjalan?” tanya Sean yang merasa heran dengan sikap sahabat dan atasannya itu.
“Apa kau tahu mengapa aku melakukan ini pada diriku sendiri?” jawab Raymond seraya balik bertanya. “Karena aku merasa gagal melindungi mendiang istriku, bahkan aku merasa bersalah telah mengkhianati pernikahan kita. Kau tahu bukan dihatiku hanyalah terpatri nama Siska, tak ada wanita lain yang sanggup menggeser posisinya yang bertahta menjadi ratu dihatiku. Bahkan sekalipun dia menggunakan dukun untuk menjeratku, aku sama sekali tak pernah tertarik dengannya.”
“Jadi selama ini kau benar-benar tak menganggapnya sebagai istrimu?”
“Jadi kau tak bisa mempunyai anak itu benar adanya?”
“Apa kau lupa hah? Saat kecelakaan itu terjadi, semua tubuhku terjepit bahkan mengenai bagian organ vitalku. Maka dari situlah dokter mengatakan bahwa aku tak akan bisa mempunyai keturunan lagi,” jawab Raymond lugas.
“Baiklah aku mengerti. Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan Ray?” tanya Sean.
__ADS_1
Dengan berdehem dingin Raymond pun memberi Sean perintah untuk menyelidiki sesuatu yang mengganjal pikiran dan hatinya, “Selidiki apa yang sedang dilakukan oleh Theo. Karena di mobil tersebut telah aku pasang alat pelacak GPS yang telah aku persiapkan sejak dulu.”
“Oke akan aku lakukan sekarang, sebaiknya kau juga jangan katakan hal apapun pada putramu. Karena aku merasa istrimu itu terlalu mencampuri urusanmu dengan putramu!” Peringat Sean tegas. “Karena aku melakukan hal ini tentang janjiku pada mendiang istrimu itu.”
Setelah mengatakan itu, dengan gerakan cepat Sean pun melakukan tugasnya, tentunya dengan ke ahlianya ia dapat melacak mobil yang di kendarai oleh Theo asisten putranya tersebut.
Selang beberapa menit kemudian kemudian Sean pun mendapatkan lokasi yang di tuju oleh asisten Leonard, dengan cepat ia menyampaikan langsung pada Raymond.
“Aku sudah berhasil melacak keberadaannya,” ucap Sean sambil menyodorkan laptop pada Raymond.
Kening Raymond menyerngit saat melihat titik merah, pertanda mobil tersebut meninggalkan tempat sebelumnya.
“Coba kau retas CCTV, tempat mobil Theo berhenti,” Perintah Raymond tegas.
Tanpa banyak kata Sean pun melakukan tugasnya kembali, jemari kekarnya pun menari di atas keyboard untuk melacak tempat terakhir Theo berhenti di suatu tempat.
__ADS_1
“Bagaimana sudah kau dapatkan di mana Theo sekarang berada?” tanya Raymond.