Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Melawan Penghuni Hutan Alam Ghaib


__ADS_3

“Kalian berdua apa siap berhadapan dengan penghuni hutan alam ghaib ini?” tanya Araxi dingin. “Karena hutan ini adalah kawasan yang sangat terlarang, sehingga mobil Om Kevin masuk ke dalam wilayahnya.”


“Jadi ini bukan alam kita begitu maksudmu Ra?” sahut Alex dengan bertanya balik.


“Lalu bagaimana cara kita menghadapinya?” tanya Alexa dengan membuka suara.


“Kalian tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Biar aku sendiri yang menghadapi penghuni hutan alam ghaib ini!” jawab Araxi sembari memberi kedua kembarannya perintah untuk tetap berada di dalam mobil.


“Tidak boleh!” cegah Alex dan Alexa dengan kompak.


“Kenapa kalian mencegahku? Aku bahkan tak butuh jawaban dari kalian berdua.” Kata Araxi dengan nada dingin.


“Kamu tak boleh menghadapi lawanmu dengan sendiri Ra,” sahut Alexa tanpa merasa takut.


“Kalian ini mengapa selalu berdebat seperti ini,” tegur Albert pada ketiga kembar tersebut.


“Diam!” bentak ketiga kembar itu dengan kompak.


“Salah satu di antara kita harus ada di dalam mobil ini, untuk menjaga mereka berdua. Agar mereka tak di culik oleh penghuni alam ghaib yang ada di dalam hutan ini,” sahut Alex dengan mencemaskan keadaan dua orang yang mengikuti mereka.


“Baiklah kamu dan Albert yang menjaga Om Kevin dan Kak Ivone. Biar aku dan Alex yang menghadapi penghuni hutan ini,” putus Araxi tanpa ada bantahan.


Kemudian setelah Araxi dan Alex keluar dari mobil, di sini Alexa berdiam diri dengan Albert yang menemaninya.


Tentunya dengan Albert yang selalu waspada terhadap sekitar arah luar mobil tersebut.


“Alexa,” panggil Albert. “Kau jangan sampai melamun dalam keadaan sendirian. Bisa-bisa nanti aku kena omel dari kembaranmu,” peringat Albert tanpa menoleh ke arah Alexa.


“Apa kamu yakin ingin melawannya Ra?” tanya Alex yang merasa cemas.


Tanpa mau mendengarkan pertanyaan dari Alex, dengan tekad yang bulat Araxi pun harus bisa melawan penghuni alam ghaib tersebut.


Mengapa ia merasa kecolongan tanpa tahu mobil yang ditumpangi olehnya memasuki kawasan yang sangat terlarang.


Tanpa mereka sadari keduanya pun disambut oleh si pemilik penghuni hutan alam ghaib tersebut dengan suara tawa yang membuat bulu kuduk manusia meremang.


Tidak berlaku bagi Araxi maupun Alex, karena keduanya pun merupakan anak yang sangat istimewa.


“Tak sia-sia aku menahan mobil tersebut hingga masuk kedalam kawasanku, rupanya kau datang sendiri untuk mengantar nyawamu,” ungkap penghuni hutan alam ghaib tersebut sambil tertawa bahagia.


“Apa maumu dari kami?” tanya Alex dengan geram pada penghuni hutan alam ghaib itu.


Masih dengan tawa ciri khasnya, mau tak mau baik Alex maupun Araxi harus dengan ekstra sabar untuk menghadapi penghuni hutan alam ghaib itu, karena yang mereka hadapi ialah sejenis penghuni yang selalu meminta tumbal seorang manusia.


“Apa kalian tidak mengerti mengapa aku menahan laju mobil tersebut, hingga masuk ke dalam kawasanku?” tanya penghuni hutan alam ghaib tersebut.


“Aku tak butuh pertanyaan bodohmu!” sahut Araxi dingin.

__ADS_1


“Sudah aku duga kau pasti berbeda dari ketiga kembaranmu.” Kata penghuni hutan alam ghaib itu dengan senyum yang simpul.


“Apa maksudmu?” tanya Alex dengan raut wajah yang bingung.


Sambil memikirkan sebuah cara kedua kembar tersebut benar-benar dibuat dengan tingkah laku penghuni hutan alam ghaib itu.


“Aku bisa membesarkan kalian bertiga tanpa syarat, karena kalian anak yang sangat istimewa. Sebaliknya sebagai gantinya, kalian harus membiarkan kedua yang mengikuti kalian tinggal bersamaku. Menjadi tumbalku kesekian kalinya, karena kehidupan mereka sangat menyedihkan,” ujar penghuni hutan alam ghaib itu dengan tawa yang begitu menyeramkan.


‘Sial dia benar-benar licik, lebih licik dari wanita iblis yang pernah membunuh Mama.’


Araxi pun tak akan menyerah dan kalah dengan keadaan apapun, dengan tegas Araxi menolak.


Karena Araxi lebih peduli dengan keselamatan mereka semua, meskipun nyawanya menjadi taruhan. Untuk menghadapi penghuni hutan alam ghaib yang sangat sombong dan menyebalkan menurut dirinya.


“Aku menolak!” tantang Araxi pada penghuni hutan alam ghaib dengan sorot mata yang sangat dingin.


“Kau berani menolakku wahai anak manusia?” tanya penghuni hutan alam ghaib itu dengan sorot mata yang nyalang memerah.


“Menurutmu!” jawab Araxi singkat padat dan jelas.


“Kau tak akan pernah bisa keluar dari tempat ini.” Katanya yang masih dengan sorot mata yang begitu nyalang.


“Aku tak pernah takut denganmu, sekalipun kau menggunakan kedua orang itu untuk menggunakan kelemahanku? Silakan jika kau berani menglangkahi mayatku,” hardik Araxi dengan nada yang begitu dingin.


Sebelum Araxi melangkah terlebih dalam melawan penghuni hutan alam ghaib tersebut, seketika Araxi memanggil sesosok yang mendiami tubuhnya.


“Loh kau kan bisa meminta bantuan Albert,” sahutnya dengan santai.


Dengan geram Araxi pun hanya bisa memutar bola mata malasnya, entahlah menurut Araxi sesosok itu begitu menyebalkan dari Albert sendiri.


“Aku tak butuh bantuanmu!” cetus Araxi dengan nada dingin.


“Eits begitu saja marah. Mengapa kau sangat sensitif dengan perkataanku? Apa aku salah?” tanyanya dengan pura-pura tak tahu.


“Menurutmu!”


“Oke baik aku tak akan mengganggumu, rupanya selain dingin pada semua orang. Kau tak bisa disentuh dengan mudah. Kau benar-benar seperti ...”


“Seperti apa dan seperti siapa maksudmu?” sela Araxi dengan cepat.


Karena sejatinya Araxi masih sangat bingung dengan sesosok yang mendiami tubuhnya.


“Sudah aku katakan bukan. Tidak sekarang untuk kau tahu tentang rahasiaku.”


Setelah berdebat dan bertengkar dengan sesosok yang mendiami tubuhnya.


Dengan cepat Araxi pun membiarkan tubuhnya di ambil alih oleh sesosok itu, dengan memancarkan suhu tubuh yang begitu dingin.

__ADS_1


Secara tak sadar penghuni hutan alam ghaib itupun telah membuat Araxi di ambil alih tubuhnya, tentunya suhu yang begitu dingin dihutan miliknya itu.


Tentunya berasal dari sesosok yang berada didalam tubuh Araxi, sama-sama memancarkan aura permusuhan.


Justru sebaliknya penghuni hutan alam ghaib tersebut, tak takut dengan sesosok yang berada didalam tubuh Araxi.


Suhu yang begitu dingin itu, tanpa sadar mengantarkannya ke arah Albert pun tengah menyadari sendiri suhu dingin tersebut, bukanlah kehendak Araxi melainkan sesosok yang mengambil alih tubuhnya.


‘Sial suhu dingin ini bukan milik Ara. Mengapa harus muncul sekarang?’ batin Albert bergumam dengan bingung.


Tanpa ia duga kebungkamannya disadari oleh Alexa. “Kau kenapa melamun begitu Al? Apa yang terjadi dengan Araxi dan Alex?” tanya Alexa yang merasa cemas dengan kembarannya.


Tak mendapat jawaban dari Albert dengan terpaksa Alexa mengulang kembali pertanyaannya dengan sedikit keras. “Kau kenapa melamun begitu Al? Apa yang terjadi dengan Araxi dan Alex?”


Lamunan Albert tersentak saat mendapat pertanyaan ulang dari Alexa. “Ah iya itu tak ada apa-apa kok,” jawab Albert berkilah. “Tadi kau bertanya apa padaku Sa?”


.


.


.


.


.


.


.


.


Besok aku libur up ya..


Hari senin nanti aku siapin 2 naskah yang bakal aku lempar


Sebagai gantinya minta kopi ya kalau bisa hati deh


E canda ding


Promosi antologiku mau beli enggak?


Silakan mampir ya


Ig : @Sii_mama_tomboy


Fb : Puput purwanti

__ADS_1


See you next time


__ADS_2