
“Bukan Alex yang menangkap jenglot itu Kak, akan tetapi justru pria itu yang bisa menangkapnya!” lapor Angel pada kakaknya tersebut.
“Maksudmu yang menangkap jenglot adalah dia?” tanya Albert sembari memastikan apa yang telah ia dengar dari adiknya itu.
“Memangnya kenapa Kak! Apa kau mengenalnya?”
“Aku justru tak mengenal dengannya, akan tetapi aku sangat tahu siapa penjaganya. Bahkan aku mengenal dengan mendiang Kakeknya itu,” jawab Albert.
“Apa kau bisa memberitahu padaku tentangnya Kak?”
Albert justru tak menjawab dengan pertanyaan dari Angel, bahkan ia memutus telepati tersebut, yang membuat Angel merasa kesal dengan kakaknya tersebut.
Sambil menunggu ketiganya kembali dari desa tersebut, dengan terpaksa Angel menghilangkan diri, tentunya Angel pergi ke suatu tempat di mana hanya ia sendiri yang tahu.
__ADS_1
Sementara itu setelah melakukan semua apa yang menjadi tugas Alexa dan Alex, seketika itu kedua kembar beda gender teringat dengan Araxi kakak sulungnya yang tengah terbaring lemah di atas brankar kamar inap rumah sakit tempatnya di rawat.
Namun sebelum mereka kembali ke rumah sakit, Theo pun meminta izin pada kedua kembar tersebut.
Karena ia akan menyelesaikan urusan pribadinya dengan sesosok yang selama ini menjaga dirinya.
“Sepertinya kau sangat tak sabar ya ingin melihat wujud asliku?” Bisik sesosok itu di samping telinga Theo.
“Apa aku sangat mengenal wujudmu?” tanya Theo datar. “Mengapa kau bisa tahu banyak tentangku?”
“Jadi kau adalah anak buah dari Kakekku begitu?”
“Kau sangat benar! Untuk itulah aku dan semua anak buah Kakekmu tak berani menunjukkan wujud asli, agar kau tak terlalu takut saat melihat keberadaan kami!”
__ADS_1
“Lalu sekarang apa yang kau inginkan dariku, jika aku berhasil melawan rasa takut ini?”
“Sudah aku katakan bukan sebelumnya, aku akan menunjukkan wujudku jika kau mampu melawan rasa takutmu itu. Dan sekarang sudah saatnya kau harus bisa menerima keberadaan kami, yang memang di tugaskan oleh Tuan kami untuk melindungi dan menjagamu dari jauh.” Sesosok kesayangan dari Kakek Theo pun mulai menunjukkan wujudnya di depan Theo.
Theo pun mendengus setelah mendengar semua penjelasan yang di lontarkan oleh makhluk itu, dengan tekad yang bulat mau tak mau Theo pun mulai menerima takdir yang telah di gariskan untuk dirinya.
“Mengenai kau bisa menangkap jenglot itu dengan mudah tanpa merasa terluka. Karena darah di tubuhmu itu sebagai pertanda, bahwa kau telah mampu menaklukkan beberapa dari makhluk pesugihan yang selalu meresahkan.” Kata sesosok makhluk yang menjadi bagian dari kehidupan Theo dengan panjang dan lebar.
“Apa tak ada hal lain selain tadi, mengingat aku tak begitu mampu memasuki daerah yang bukan menjadi bagian milikku!” tolak Theo dengan sungkan.
“Aku tak memaksamu untuk menjadi seperti mendiang Kakekmu, hanya saja kau harus selalu siap jika berhadapan dengan beberapa bagian dari kami, yang masih sering menjadi pesugihan alat manusia yang selalu tamak dan kikir.”
“Oke baiklah! Sekarang aku harus kembali mengantar mereka ke rumah sakit,” ucap Theo yang terlalu malas berbasa-basi.
__ADS_1
“Mereka sudah menunggumu di mobil, baiklah aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, ingat jika kau sedang menyetir fokuskan pikiran pada jalanan.” Setelah mengatakan hal tersebut makhluk yang menunjukkan wujud di depan Theo perlahan menghilang.
Kemudian Theo pun melangkahkan kakinya, menghampiri mobil yang mana berisi dua remaja kembar yang tengah menunggunya. “Maaf ... Apa kalian terlalu lama menungguku? Tadi aku ada urusan sebentar,” ucap Theo sambil memegang setir kemudi.