Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Gambaran Araxi Tentang Raymond


__ADS_3

Mengingat saat ini ia sangat ingin bertemu dengan pemilik dari daftar nama tersebut.


Bahkan Raymond mulai berpikir tentang sebuah gambar foto yang dikirimkan oleh putranya tersebut, apakah menurutnya ia mempunyai salah satu dari nama yang tertera di daftar itu? Hal tersebut yang saat ini mengganggu hati dan pikirannya.


Jika memang pemikiran Raymond tak akan salah lagi, ia pasti menebak gambar yang di kirim oleh putranya merupakan salah satu dari ketiga kembar anaknya yang hilang tersebut.


Ia pun selalu berharap semoga, apa yang menjadi harapannya itu dapat terwujud seperti sebelumnya.


Dengan tekad yang bulat, ia akan mendukung sepenuhnya untuk Leonard yang tentunya saat ini kemungkinan putranya tersebut telah bertemu dengan salah satu dari ketiga kembar adiknya itu.


“Se, lakukan apa yang menjadi permintaan dari Leonard. Selebihnya kau rahasiakan semua hal ini dari istriku,”Perintah Raymond tanpa berasa-basi. “Karena aku tak mau kehilangan lagi setelah aku meyakinkan bahwa aku mampu menemukannya.”


Tanpa membantah Sean pun dengan tanggap langsung melakukan permintaan dan juga perintah dari sahabatnya tersebut.


******


Di luar kamar inap Araxi seorang suster tengah tergesa-gesa menuju ke arah ruangan kamar inap Araxi.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Kevin merasa heran dengan suster tersebut, ia sengaja bertanya pada suster yang tengah tergesa masuk ke dalam kamar inap si pasien itu. “Sus apa terjadi sesuatu dengan pasien di dalam kamar ini?”


“Saya juga tak tahu Pak. Dan sebaiknya lebih anda menunggu kabar selanjutnya, ketika saya selesai memeriksa keadaan pasien.” Setelah mengatakan hal tersebut, suster itu pun membuka daun pintu untuk memeriksa keadaan pasien yang di tangani oleh dokter Arif.


Alangkah kagetnya suster tersebut, saat memasuki kamar rawat inap pasien atas nama Araxi, ia mendapati pasien tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.


Berusaha menahan malu, dan menahan rasa takut. Dengan terpaksa suster tersebut menghampiri pasien tersebut, untuk memeriksa keadaan serta tak lupa mengecek semua luka jahitan yang berada dibahu pasien dokter Arif. “Oh maaf saya tak tahu kalau anda sudah sadar. Karena saya tergesa-gesa datang ke kamar ini, setelah mendengar bunyi bel yang sedang anda tekan.”


Araxi yang mendengar ucapan suster itupun hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.


Ia sendiri tak menduga kemarahannya berimbas pada suster yang mendatangi dan memeriksa keadaannya.


Apa yang dikatakan oleh suster tersebut memang benar adanya, luka jahitan di bahunya terasa sangat ngilu jika di gerakan.


“Sus di luar kamar ini apa ada kedua kembaran saya?” tanya Araxi to the poin.


Suster tersebut menggeleng kepala, pertanda bahwa saat datang ke kamar inapnya itu, memang tak melihat keberadaan kedua kembarnya berada.

__ADS_1


Meskipun ia sendiri telah mengetahui di mana keberadaan mereka berdua.


“Usahakan untuk tak bergerak dulu ya,” kata suster itu sembari membereskan peralatan untuk berpamitan pada si pasien tersebut. “Saya akan memanggil paman anda di luar. Apa tak kebaratan?”


Tak mendapat jawaban dari pasien dengan terpaksa suster berlalu meninggalkannya, yang tengah berdiam diri sembari melamunkan seseorang yang sangat ia rindukan.


Saat suster tersebut berhasil keluar kamar inapnya, dari luar tersebut suster itu mendapat pertanyaan dari Kevin yang merupakan orang terdekat dari pasien yang tak banyak bicara.


“Bagaimana Sus keadaannya? Apa dia sudah sadar?” tanya Kevin dengan cemas.


“Selamat pasien telah sadar dan berhasil melewati masa kritisnya, akan tetapi pasien di harapkan untuk tak bergerak terlebih dahulu. Karena luka jahitan pasien belum bisa di buat bergerak bebas,” terang suster itu sembari menjelaskan keadaan Araxi.


“Baik Sus terima kasih informasinya. Kalau boleh tahu apa saya dengan putri saya bisa masuk ke dalam kamarnya?”


“Silakan Pak! Akan tetapi usahakan bapak juga mengingatkan pada pasien, agar pasien bisa sembuh dengan cepat, kalau pasien sangat ingin cepat keluar dari rumah sakit. Itu saja yang saya sampaikan dan juga saya pamit undur diri,” sahut suster itu seraya mempersilakan Kevin melihat keadaannya dan juga tak lupa berpamitan pada keluarga pasien tersebut.


Karena Araxi kembali mendapat sebuah gambaran tentang seorang pria paruh baya, yang mana pria tersebut tengah menatap wajah dinginnya ke dalam suatu gambar, akan tetapi ia tak menahu di mana gambar tersebut berasal.

__ADS_1


Hal tersebut yang saat ini menjadi lamunan Araxi tentang suatu gambaran tersebut.


__ADS_2