
Sampai akhirnya Alexa pun terkejut melihat kembarannya tengah berjuang memisahkan makhluk kecil tersebut dari tubuhnya.
“Araxi!” pekik Alexa bola mata membulat sempurna.
Mendengar pekikan dari Alexa, seketika Alex pun dibuat terkejut sama halnya dengan Alexa yang masih syok dengan keadaan kembarannya.
Tanpa berpikir panjang baik Alexa maupun Alex berusaha melepaskan jenglot tersebut, sebelum Araxi kehilangan banyak darah. Akibat hisapannya yang begitu kuat berasal dari makhluk kecil tersebut.
Sampai akhirnya Araxi menggunakan kemampuan terakhirnya untuk bisa lepas dari jenglot itu.
Dengan dibantu oleh Alexa dan Alex, akhirnya Araxi berhasil terlepas dari jenglot itu. Sampai wajah Araxi menjadi pucat, sebelum ia pingsan dipelukan Alex.
“Alex bagaimana ini?” tanya Alexa panik. “Kalau menghubungi Om Kevin tak mungkin bisa, sinyal di sini tak ada sama sekali.”
“Kamu pegang jenglot itu dengan kemampuanmu, supaya makhluk itu tak menyerang Kak Ivone.” Titah Alex yang tak terlalu mengidahkan perkataan Alexa.
“Sebaiknya kita harus segera membawanya ke klinik, darahnya menetes terus tak mau berhenti!” sahut Ivone yang berusaha menghentikan pendarahan yang mengalir dari bahu Araxi.
“Aku akan menggendong Araxi ya Kak. Kau harus selalu disamping Alexa Kak, karena aku tak ingin kejadian ini terulang kembali.” Dengan cepat Alex pun menggendong kembarannya sambil menahan tangis yang tak terbendung.
Albert pun tiba-tiba datang dari arah lain, tentunya tanpa dipanggil pun ia datang dengan sendirinya. Alangkah terkejutnya saat melihat Araxi berada didalam gendongan Alex.
Sampai akhirnya mereka ke tempat tujuan mereka sebelum datang ke desa tersebut.
Netra mata Alex memicing ke arah mobil yang tengah berhenti didepan mereka, tentunya ia mulai berpikir mobil siapakah yang berhenti menghadang didepan.
“Apa kau anak dari Om Kevin?” tanya Theo yang menatap datar ke arah Ivone.
“Dari mana kau tahu namaku?” tanya Ivone balik. Yang sedikit berlari menghampiri pria tersebut yang bertanya padanya.
Dengan berdehem Theo pun bertanya dan menatap ke arah seseorang yang tengah pingsan dengan luka dibahu yang cukup parah.
__ADS_1
“Cepat masuk ke dalam mobilku, aku akan mengantar kalian ke klinik dan ke rumah sakit terdekat kalau tak segera ditolong bisa fatal.”
“Tunggu, sebenarnya kau siapa?” tanya Alexa yang merasa bingung dengan kedatangan seseorang seperti mengenalinya.
“Sudah banyak tanya dulu tentangku. Karena sebaiknya kau harus segera membawa dia ke klinik,” jawab Theo dengan tegas.
Mobil tersebut melaju dengan kencang, sembari jemari Ivone yang berada dibangku penumpang tersebut, menyambungkan panggilan dengan sang Papa tercinta.
Selang beberapa detik terdengar suara khas orang yang tengah bangun tidur. “Pa, kamu ada dipenginapan mana?” tanya Ivone to the poin.
“Apa kamu sudah selesai sayang?”
“Kabar buruk Pa, Araxi terkena gigitan dari boneka kecil. Aku pikir tadi itu apa, setelah aku lihat dari beberapa lima jarak Araxi terkena gigitan dari boneka itu!”
Kevin yang dari arah seberang mendengar penuturan putrinya itu terkejut bukan main, antara percaya atau tidak Kevin dengan bergegas beranjak dari ranjang untuk menyusul putrinya tersebut.
“Lalu kalian sudah membawa Araxi ke klinik ataupun kalau bisa bawa ke rumah sakit ya sayang.”
“Kami sedang dalam perjalanan ke klinik Pa!”
Setelah menghubungi Papanya, dengan sendu Ivone pun menatap ke arah yang tengah pingsan dengan luka robek yang begitu panjang.
Gigitan dari jenglot tersebut tak main-main, semoga saja mereka tepat waktu menyelamatkan nyawa Araxi.
Menyetir dengan kecepatan tinggi, sampailah mobil tersebut tiba dihalaman parkir rumah sakit, Alex pun berlari ke arah brankar yang tengah kosong.
Meletakkan tubuh kembarannya di atas brankar tersebut, untuk segera mendapatkan perawatan, agar luka bahunya segera diatas.
Alexa dan Ivone termenung membiarkan Alex memukul tembok, sehingga sela-sela jari ditangannya mengeluarkan darah segar.
Sampai Theo yang hanya menonton itupun membuka suara. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” tanya Theo yang sejak tadi penasaran.
__ADS_1
“Sebenarnya kau itu siapa? Mengapa bisa tahu kalau kami ada di desa itu?” tanya Alexa balik dengan mencecarnya.
Dengan berdehem lalu berucap, Theo pun kembali menjelaskan kedatangannya ke desa tersebut. “Aku di sini atas perintah Ayahku!”
Kening Ivone menyerngit, sepertinya ia merasa sedikit familier dengan nada suara tersebut, mengingatkannya pada seseorang teman di masa SMP dulu. Tapi siapa? Hal tersebutlah yang mengganjal dibenaknya.
Namun sedetik kemudian Ivone pun memilih diam, bukan karena tak ingin menyapanya, akan tetapi ia harus memastikan sesuatu yang mengganjal itu.
.
.
.
.
.
Sengaja bikin Part Araxi terkena gigitan sejenis jenglot itu sudah aku pikir matang ya biar alurnya pas gak terlalu menoton
Suka gak? Kalau gak suka skip saja
Aku gak minta muluk-muluk kok cukup dukung sampai akhir endingannya ya 😊😊
Karena perjalanan mereka masih panjang, sampai bisa benar-benar mengungkap tabir kematian mendiang sang mama tercinta.
Eits tenang saja aku gak akan muluk nyiptain adegan tegang terus
Yang pasti nanti ada adegan bau-bau kebucinan ya 🤪
Hayo tebak kira-kira siapa tuh yang bucin duluan pada diantara ketiga kembar indigo?
__ADS_1
See you nex time
Love you