
Araxi sedikit bingung bagaimana cara dia menjelaskan tentang arwah hantu anak kecil yang harus diselesaikan sebelum ibu tirinya terlalu lama membiarkan sang papa tersiksa karena pernikahannya yang tak begitu bahagia.
Dia tak menyadari di sampingnya ini ada sesosok yang sedang duduk sambil menatap dingin ke arahnya.
“Mengapa meminta padanya, Ra?” tanya Albert dingin.
Mendengar pertanyaan yang berasal dari pikiran. Araxi mengarahkan kepala ke samping di mana ada sesosok arwah hantu sedang duduk tersebut.
Tanpa menjawabnya Araxi menatap balik dingin ke arah Albert. Yang mana seketika membuat hantu tersebut mengalah. Tak berani membuka suara bila wanitanya berdiam diri dan tak mau diajak mengobrol.
Tanpa memedulikan tatapan dingin dari Albert. Dia semakin gelisah karena tak begitu mengerti caranya mengobrol pada seseorang yang sedang menatap bingung.
“Ra,” panggil Ivone. “Apa kau ingin aku menghubungi papaku?”
Araxi menggeleng ia sendiri sekarang benar-benar tak berani berkata banyak. Diamnya itu membuat Ivone mencebik kesal dengan sikap dingin dari gadis tomboi tersebut.
Tanpa di minta Ivone mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang dibawa, serta tak lupa menekan nomor ponsel milik sang papa tercinta.
“Pa, kamu kenapa lama sekali!” Ivone mencecarnya tanpa berbasa-basi.
“Astaga, Sayang, maaf Papa sedang ada perlu dengan om Andra. Ada apa kamu menghubungi, Papa?” Kevin membalik pertanyaan.
“Araxi daritadi menanyakanmu!” adunya dengan bibir mengerucut kesal.
“Mengapa tak mengajak dia mengobrol, Sayang?”
“Bukankah kamu tahu sendiri aku dengannya tak begitu akrab dibandingkan dengan Alexa.”
“Sabar, ya, Sayang sebentar lagi Papa akan tiba di kamar inapnya. Tunggu saja.”
Ivone yang mendengarnya pun mendengkus kesal. Namun, tanpa banyak bantahan dengan patuh dia tetap menunggu kedatangan sang papa tercinta. “Ya, sudah kalau begitu, aku menunggumu.”
Setelah sambungan terputus. Ivone menolehkan kepala ke arah Araxi yang sedang menatap dingin itu.
Astaga gadis ini benar-benar membuat darahku mendidih saja! Tahu begini lebih baik aku mengobrol dengan Alexa.
__ADS_1
Tanpa Ivone sadari Araxi mendengar keluhannya. Yang membuat sudut bibirnya berkedut karena telah berhasil mengalihkan rasa kesedihan yang melanda wanita tersebut.
Mungkin hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu. Mengingat aku tak ingin kau terlalu lama memendam perasaan benci terhadapnya.
Semua itu pun terdengar langsung oleh seorang pemuda yang tak lain kembaran dari Araxi. Tanpa ada siapa pun yang mengetahui Alex secara tak langsung mendengar semua obrolan kembarannya dengan Ivone.
Yang membuat rahang Alex menggeretak gemuruh saat dia sendiri tak sengaja melihat luka hati yang ditorehkan oleh ibu tirinya tersebut.
“Kamu sedang lamunkan apa sih, Lex?” tanya Alexa yang merasa heran dengan tingkah laku dari kembarannya ini.
Alex tak menjawab pertanyaan dari Alexa karena dia saat ini sengaja menyembunyikan sebuah kebenaran tentang ibu tiri mereka.
Yang ternyata berasal dari suatu bangsa di kerajaan lain dan tak lupa dengan sesosok yang saat ini berdiam diri di dalam jiwanya.
“Lex, mengapa diam saja, ayo jawab kamu ini sedang melamunkan apa?” Alexa mendesak seraya mengulang pertanyaan yang sama.
Alex yang mendengar desakan membuat ia mendengkus kesal dengan kecerewetan yang dilontarkan oleh Alexa.
“Bisa tidak kamu tak secerewet ini, Sa! Telingaku sakit mendengar ocehanmu.”
Keduanya kompak menolehkan kepala lalu tak lupa mereka juga kompak menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu apa yang kalian ributkan?” tanya Leonard gemas karena ia begitu sangat bahagia bisa menemukan keberadaan adik kembarnya.
“Tak ada yang kami ributkan,” jawab Alex ketus.
Bisa dibayangkan betapa gemasnya wajah Alex berkata ketus pada kakak sulungnya tercinta. Tak menutup kemungkinan ia sendiri mulai sedikit menerima kehadiran Leonard.
Meninggalkan Alexa dengan sang kakak tercinta dengan raut wajah yang begitu sangat lucu dimata Leonard.
Pertama kali bagi seorang Leonard bisa melihat secara langsung wajah lucu di antara salah satu adik kembarnya ini.
“Apa Alex seperti ini juga bila di depan orang lain?” tanya Leonard pada Alexa.
__ADS_1
Alexa menggeleng lalu berucap dengan raut wajah yang sangat serius. “Kak, bukankah aku sudah membicarakan hal ini denganmu?”
“Apa salahnya bila aku ingin mengetahui sifat dan tingkah laku dari kamu, dia, dan juga Alex.” Leonard dengan keukeh tetap ingin mengetahui semua tentang adik kembarnya.
Menghela napas gusar mau tak mau akhirnya dengan terpaksa Alexa menjelaskan secara detail tentang kepribadian di antara dia sendiri bersama kedua kembarannya.
“Lalu kalau kamu sendiri seperti apa, Kak?” Alexa sengaja bertanya meskipun dia sendiri telah mengetahui kepribadian Leonard.
“Apa kamu tak merasa jika aku ada sedikit kemiripan dengan kembaranmu yang satunya.” Leonard merasa sangat yakin sifat dingin dan tingkat laku ini menurun pada salah satu adik kembarnya.
“Araxi?”
Leonard mengangguk. “Saat pertama kali bertemu dengannya. Mendadak aku seperti becermin karena semua yang ada di dalam diriku menurun pasti ada di dalam dia juga.”
Alexa sendiri sudah tak terkejut dengan kedinginan yang dilakukan oleh Araxi. Tanpa sadar dia tertawa cekikikan saat mendengar cerita dari kakak sulungnya tersebut. “Lalu bagaimana saat bertemu dengan orang yang lebih dingin darimu, Kak?”
“Apa kamu sendiri tak pusing dengan sifat dinginnya?” Leonard tak menjawab pertanyaan tapi dia sungguh penasaran dengan kehidupan ketiga adik kembarnya.
“Kami sudah terbiasa untuk apa aku dan Alex merasa pusing dengan sifat dingin Araxi.”
“Lalu apa ada orang yang bisa mencairkan kebekuan hatinya?” tanya Leonard yang merasa ingin tahu tentang seorang pria manakah yang mampu membuat hati Araxi luluh.
“Soal pria yang meluluhkan Ara aku tak ingin mencampuri urusannya, Kak. Kalau kamu sendiri bagaimana?” Alexa bukannya tak ingin memberitahukan pada sang kakak. Biarlah dia dan Alex menyimpan sebuah rahasia tentang sesosok arwah hantu yang mampu meluluhkan tembok beku di diri Araxi.
“Mengapa kamu bertanya seperti padaku, Al?” tanya Leonard.
“Hanya ingin tahu dan mendengar bagaimana kamu yang pria beku seperti Araxi bisa diluluhkan oleh seorang wantia!” Alexa bertanya demikian karena ia merasa antara Araxi dan Leonard sangat mirip bila menyangkut soal cinta.
“Mengapa kamu ingin tahu masalah percintaanku?” Leonard bertanya balik sembari mengacak pucuk kepala Alexa. Yang mana ia merasa adik kembaranya yang satu ini benar-benar jelmaan dari mendiang sang mama tercinta.
“Sudah-sudah kamu ini bawel sekali. Pantas saja Alex kesal denganmu yang tak berhenti mengoceh seperti ....” Leonard menjeda karena ia begitu tak ingin terlihat sedih di depan adiknya tercinta.
“Di antara kita berempat hanya aku saja ya yang seperti mendiang mama.” Suara tercekat tertahan ditenggorokkan Alexa saat secara tak langsung ia mendengar nada sendu dari kakak sulungnya tersebut.
Tak kuasa melihat raut wajah Alexa. Leonard menarik dan mendekapnya ke dalam sebuah pelukan. Di mana saat ini keduanya merasa hangat bisa saling melepas ....
__ADS_1