
“Ayolah sayang, mengapa kau selalu dingin terhadapku. Tak bisakah kau lembut sedikit denganku?” rayu Marista dengan memelas mungkin.
Karena Raymond telah mengetahui akal bulus sang istri, seketika dirinya pun terpaksa mengikuti permainan yang di buat oleh istrinya tersebut.
“Kau tunggulah di sini dengan putrimu, jangan pernah mengikutiku masuk ke dalam ruangan itu.” Sahut Raymond tegas.
Saat Marista akan mengikuti Raymond memasuki ruangan pribadinya, terdengar suara deheman dari Sean asisten pribadi Raymond, memperingati dirinya untuk tak terlalu mengikutinya.
“Nyonya saya menyarankan pada anda, jika anda masih ingin suami anda menuruti permintaan anda. Sebaiknya urungkan niat anda yang selalu ingin tahu tentang ruangan Tuan, karena saya yakin Tuan tak akan tinggal diam jika anda nekat mencari tahu isi dari ruangan yang di masuki oleh Tuan.” Peringat Sean dengan tegas.
Karena Sean sendiri pun selalu merasa kecolongan setiap kali wanita di hadapannya tersebut selalu ingin tahu tentang ruangan pribadi milik sahabatnya itu.
Sementara di ruangan pribadinya dengan Raymond sendiri, tengah berdiri dari kursi rodanya untuk menggantikan pakaian kerjanya dengan pakaian yang selalu di persiapkan dari mendiang istrinya tercinta.
Tak ada yang menduga bahwa sejujurnya sejak lama, Raymond bisa berjalan kembali tanpa ada seseorang pun yang mengetahuinya.
Bahkan putra sulungnya sendiri pun tak mengetahui dirinya, yang bisa berjalan kembali.
‘Baiklah saatnya kembali duduk di atas kursi roda, melihat seberapa jauh dia usahanya untuk meluluhkan hatiku!’
Dengan raut wajah yang sangat dingin Raymond pun mendorong kursi rodanya kembali, untuk membuat wanita tersebut muak dengan keadaannya.
Saat keluar dari ruangan pribadinya, netra manik matanya menangkap ke arah CCTV di mana sang putra sulungnya itu tengah tergegas memasuki lobi.
Ia ingin melihat seberapa jauh sang putra melindunginya dari tangan wanita tersebut.
“Apa kau ingin mengajakku pergi ke suatu tempat?” tanya Raymond dingin.
Yang mana dirinya pun dengan terpaksa memecahkan keheningan antara asisten dengan istrinya.
“Ah i–ya itu aku ingin mengajakmu makan malam di luar dengan Prisilia,” jawab Marista tergagap.
Menghembuskan napas gusar dengan cepat Raymond pun menatap ke arah Sean memberinya kode, untuk mengikuti alur yang di buat dua wanita tersebut.
“Se, bawa aku ke tempat seperti biasa!” Perintah Raymond tanpa ada bantahan.
__ADS_1
Kemudian tanpa menolehkan arah pandangannya dengan nada dingin ia pun bertanya pada sang istri keduanya, yang akan ia ajak untuk mengenang kebersamaannya dengan mendiang istrinya tercinta. “Lalu kau tak keberatan bukan aku membawamu dengan putrimu itu ke tempat biasa aku datangi?”
Tanpa menunggu jawaban, dengan cepat Raymond mendorong kursi rodanya yang dengan sengaja ia meminta istrinya untuk mendorong kursi tersebut.
Agar Raymond bisa menebak tujuan yang di lakukan oleh istri keduanya tersebut.
Dari arah lain putra sulungnya itu memanggilnya, yang mana membuat dirinya tak bisa menahan tawa saat melihat tingkah laku dari putranya tersebut.
Dengan raut wajah dingin Raymond pun menegur putra sulungnya itu, seraya memberinya sebuah kode yang hanya bisa di ketahui olehnya serta juga sahabat dan putranya tersebut.
“Boy, kenapa kamu lari-larian begitu? Kamu hampir menabrak Papamu!” tegur Raymond dingin.
Sembari menormalkan deru napas yang tersengal, akhirnya Leonard pun memutuskan untuk bertanya pada Papanya tersebut.
Ke mana sang Papa akan membawa istri kedua dan putrinya itu.
“Memangnya Papa mau ke mana coba?” tanya Leonard seraya Menghembuskan napasnya yang tersengal.
“Aku akan mengunjungi tempat yang kamu suka Boy? Apa mau ikut?” jawab Raymond seraya menawarkan diri pada putra sulungnya tersebut.
Kini di dalam sebuah mobil buggati kesayangan Leonard memecahkan keheningan, tentunya ia pun dengan semangat mengikuti keinginan sang Papa tercinta.
Yang mana ia sangat memahami dengan keadaan Papa tersebut.
Sedangkan di tempat lain dengan seorang Kevin Morgan Adhitya yang tengah menenangkan putrinya tercinta itu sedang merajuk.
Sepertinya dirinya terlalu lama membiarkan sang putri tercinta menunggunya bekerja, ya sejak kecil hingga sekarang Kevin pun selalu berusaha memberikan kasih sayang yang tak pernah sekali pun berkurang.
“Ayolah sayang jangan merajuk seperti ini!” keluh Kevin yang tak paham dengan permintaan dari putrinya tersebut.
Tak ada jawaban dari putrinya, membuat Kevin merasa bersalah. Entah mengapa dirinya tak tega dengan putrinya tersebut.
Sebagai seorang orang tua tunggal, dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk putrinya tercinta.
Dengan mengajaknya ke suatu tempat, di mana ia bisa mengenang kembali masa dulu yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi oleh Kevin dengan sang putri tercinta telah sampai di tempat yang menjadi tujuannya itu.
Dengan menggandeng tangan putrinya itu, Kevin bernapas lega saat melihat senyum yang terbit di wajah cantik putrinya tercinta.
Menikmati pandangan malam yang begitu indah, di temani oleh putrinya tercinta.
Membuat seorang Kevin Morgan Adhitya merasa de javu, mengingat tempat ini merupakan kenangan yang tak akan pernah bisa di lupakan oleh dirinya.
Namun netra manik mata Kevin secara tak sengaja bertabrakan dengan netra manik mata milik Leonard, putra dari rekan bisnisnya.
Yang mana ia melototkan lebar matanya, saat melihat seorang wanita yang sangat ia benci tersebut.
‘Bukankah Raymond begitu tak menyukai kehadirannya, lalu mengapa tiba-tiba Raymond mengajaknya ke tempat ini? Atau ada trik lain yang sedang di mainkan wanita itu?’ batin Kevin bertanya-tanya.
Sementara itu Leonard pun menghentikan laju mobil kesayangannya, kemudian dirinya pun memarkir mobil tersebut.
Tak lama kemudian Leonard keluar terlebih dahulu, di susul oleh ke dua wanita tersebut.
Jangan di tanya bagaimana reaksi dari salah satu di antara mengumpat kelakuan Leonard yang mana seketika membuat darahnya mendidih.
‘Sialan bagaimana anak ini bisa tahu tempat ini pernah aku datang dengan pria itu?’ Umpat Marista seraya mengepalkan tangannya.
Lamunannya pun di sadari oleh Leonard itu sendiri pun dengan terang-terangan menyindir dirinya.
“Pa, sepertinya istrimu tak terlalu suka dengan tempat ini,” sindir Leonard dengan puas. “Bagaimana kalau kita pulang saja! Lagi pula aku harus kembali ke apartemen, ada beberapa berkas yang harus aku urus kembali.”
Sontak mendengar hal tersebut, mau tak mau dengan tergagap Marista pun akhirnya mengalah dengan permintaan dari suaminya tersebut.
“Oh ayolah sayang, jangan kembali dulu, apa kamu tak ingin menikmati kebersamaan kita?” sela Marista cepat dengan suara yang di lembutkan.
Seringai licik pun tersungging di wajah Leonard, saat melihat wanita yang tengah merayu sang Papanya tercinta semakin panik.
Leonard pun tak menyangka tempat ini membuat dirinya dengan sang Papa tercinta kembali mengingat kebersamaannya dengan mendiang Mamanya tersebut.
Kemudian netra manik mata Leonard menangkap ke arah seseorang yang sangat ia kenal, sialnya orang tersebut merupakan mantan suami dari ibu tirinya tersebut.
__ADS_1