Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Sifat Yang Bertolak Belakang (Flashback Jamilah & Sumarni)


__ADS_3

Hingga beberapa rekannya memperhatikan dirinya yang tengah melamun, serta tak lama kemudian rekan baiknya itu menegur dirinya.


“Apa yang sedang kau lamunan Mar?” tanya rekan Sumarni sembari mengerut bingung.


Tak ingin rekannya mengetahui semua masalah yang menimpa dirinya, dengan terpaksa Sumarni harus berbohong pada rekannya tersebut.


“Oh itu aku sedang mengkhawatirkan keadaan ibuku saja,” jawab Sumarni berkilah.


“Aku pikir kau ada masalah yang berat, ternyata cuman itu toh.”


“Memangnya kalian melihatku seperti ada masalah begitu?” tanya Sumarni seraya menunjuk hidungnya.


“Menurutmu Mar.”


“Oh iya Mar, hari ini kita akan kedatangan Nyonya Besar kemari. Kau harus berhati-hati dengan dua orang itu ya Mar.”


Setelah mendapat peringatan dari rekannya, dengan ragu dirinya pun kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda.


Hingga dua orang yang mereka bicarakan pun tiba mengunjungi beberapa karwayan yang tengah bekerja pada suami dari dua orang tersebut.


Tanpa ada kesalahan yang di lakukan oleh Sumarni, sore harinya ia bisa terbebas dari dua orang yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Namun dirinya pun berusaha menepis perasaan yang mengganjal di hatinya.


Hingga tanpa sadar langkah kakinya, telah mengantarkan sampai ke arah rumahnya dengan selamat.


Keningnya mengerut saat mendapati rumahnya begitu kosong, tak ada seorang ibu yang biasa menyambut kepulangan dirinya.


Dengan sedikit was-was dengan langkahnya yang tergesa-gesa, dirinya pun mencari keberadaan sang ibu tercinta.


Saat menengok ke arah kamar pribadi milik ibunya, Sumarni merasa sedikit lega saat mendapati sang ibu tercinta dalam keadaan tertidur pulas.


Tak ingin mengganggu waktu sang ibu tercinta, Sumarni pun meninggalkannya seorang diri kembali.

__ADS_1


Untuk segera membersihkan dirinya, serta tak lupa juga mempersiapkan makan malam.


Namun netra manik matanya memandang ke arah sekeliling. Tentunya Sumarni mencari keberadaan Jamilah, sejak pulang ke rumah dirinya tak mendapati keberadaan adiknya tersebut.


‘Ke mana anak ini? enggak biasanya dia meninggalkan rumah dalam keadaan sepi.’ Batin Sumarni bergumam.


Tak terlalu mempermasalahkan sang adik tercinta, dengan cepat dirinya berlalu beranjak ke arah kamar pribadinya sendiri.


Sementara itu setelah Jamilah puas bermain-main dengan rekannya, dengan langkahnya yang dia segera ingin sampai di rumah tersebut, agar bisa membuat sang kakak menyetujui rencana yang ia inginkan.


Dengan pelan-pelan dirinya memang sengaja berniat mengusir kakaknya tersebut.


Saat sampai di rumah terlihat sang ibu sedang bercengkeraman dengan sang kakak, lantas hal tersebut membuat dadanya merasa sesak.


Mengapa ibunya begitu sangat menyayangi putri sulungnya tersebut, di bandingkan dengan dirinya yang mendapat teguran lembut, bahkan tak jarang teguran sang ibu melukai hatinya.


Hal tersebut membuat Jamilah sangat membenci sang kakaknya tersebut, dengan di dorong rasa benci yang begitu mendalam.


Dirinya punn bertekad akan membuat sang kakak mau menikah dengan Juragan tersebut, agar hanya dirinya saja yang akan mendapatkan kasih sayang berlimpah dari sang ibu tercinta.


“Kak kenapa kau seperti mengintimidasiku, bukankah tadi siang aku sudah berpamitan dengan ibu. Kalau aku pergi bermain dengan rekan-rekanku,” jawab Jamilah berkilah.


Padahal siang tadi dirinya menemui Juragan tersebut, untuk membantu melancarkan aksinya. Agar sang kakaknya itu mau menikah dengan Juragan yang terkenal licik dan kejam.


Menghela napas panjang mau tak mau, akhirnya dengan terpaksa Sumarni pun tak mempermasalahkan lagi tentang adiknya itu.


Saat Sumarni akan membuka suara, Jamilah pun menyela suara yang sedang di oleh Sumarni. Serta tak lupa menarik lengan sang kakak tercinta, untuk menjauh dari ibu mereka tercinta.


Agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh sang ibu tercinta.


Setelah cukup jauh dari jarak pantauan sang ibu, tanpa berasa-basi Jamilah pun langsung mengatakan keinginannya yang mendalam pada kakaknya tersebut.


“Apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Sumarni datar. “Sekarang kau tak perlu berpura-pura lagi di depan ibu, aku sangat tahu dengan peringai ku itu. Tak tahukah kau ibu sangat menyayangimu, bahkan ibu tak pernah membedakan kasih sayangnya terhadap kita.”

__ADS_1


Begitu tahu tujuan sang adik membawanya ke tempat biasa mereka bicara.


“Tutup mulutmu itu,” bentak Jamilah tinggi. “Aku hanya ingin kau mau menikah dengan Juragan Dendi itu, apa kau tak tahu justru ibu lebih membela dirimu. Daripada melihatmu menikah dengan Juragan itu, apa kau tak menyayangi ibu?”


Seketika hati Sumarni mencelos saat mendengar nada kesal, iri, Kecewa yang bercampur jadi satu di dalam tubuh adiknya tersebut.


“Bukankah itu bagus ibu mampu melindungi anak-anaknya? Lalu apa yang menjadi permasalahanmu itu? Tidak cukupkah kau selalu membuatku mengalah, bahkan kau lebih di manja dengan ibu di bandingkan denganku? Sekarang kau ingin aku menikahi dengan Juragan tersebut?” ucap Sumarni seraya menodong berbagai pertanyaan.


Yang tiba-tiba saja membuat lidah Jamilah menjadi kelu, tanpa bisa menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut.


Namun Jamilah pun sudah bertekad untuk segera mungkin menyingkirkan kakaknya tersebut, supaya dirinya bisa leluasa mendapatkan kasih sayang berlimpah dari ibu mereka tercinta.


Sumarni yang sangat hapal dengan peringai sang adik tersebut, mau tak mau dirinya harus bisa membuat Jamilah mengatakan alasannya tentang menyuruhnya untuk menikah dengan Juragan tersebut.


“Katakan apa yang mendasari alasanmu, untuk menyuruhku menikah dengan Juragan tersebut?” desak Sumarni cepat.


Sembari menghela napas gusar, akhirnya Jamilah pun membuka suara setelah tak tahan dengan desakan dari kakaknya tersebut.


“Apa kau tak kasihan dengan ibu?” ucap Jamilah dengan raut wajah yang memelas. “Bukankah kau sangat menyayangi ibu, pasti tak mau kan terjadi sesuatu dengan ibu?”


Di serang balik dari sang adik tercinta membuat dirinya tak bisa berbuat apa-apa, memang benar apa pun yang ia lakukan selalu berusaha untuk membuat ibu dan adiknya bahagia.


Untuk memastikan sesuatu dengan terpaksa dirinya pun menanyakan, tentang sebuah janji yang di lontarkan oleh Juragan tersebut.


“Kakak ingin memastikan sesuatu, apa Juragan itu menjanjikanmu beberapa hal?” tanya Sumarni.


“Tak ada perjanjian apa pun antara aku dengannya, hanya saja juragan itu akan melunas semua hutang yang di tinggalkan oleh bapak,” jawab Jamilah ragu.


“Apakah hanya itu saja?”


“Mereka akan membunuhku, jika aku tak berhasil membuatmu mau menikah dengannya,” ucap Jamilah dengan penuh penekanan.


Agar sang kakak tercinta mau merubah pikirannya, serta juga dirinya sangat yakin rencana kali ini pasti bisa berhasil membuat sang kakak luluh.

__ADS_1


Secara garis besar sang kakak pasti mau melakukan hal tersebut, agar ibu mereka tak terlalu tertekan dengan hutang yang di tinggalkan oleh almarhum bapak mereka.


__ADS_2