
“Lalu kami harus bagaimana Pak?”
Bapak tersebut menghela napas panjang, sembari mengatur napasnya sebisa mungkin pak Sholeh mau membantu ketiga kembar itu dengan seorang gadis yang usia diatas mereka.
“Mungkin Bapak tak bisa membantu kalian banyak, akan tetapi sebelum itu apakah dia benar-benar sangat ingin bertemu dengan ibu dan adiknya itu?” tanya pak Sholeh sembari menunjuk ke arah arwah hantu Sumarni. “Baik, aku anggap kau sudah bersiap pergi dengan tenang. Karena seharusnya tempatmu bukan di sini, sudah saatnya kau bertemu dengan ibu dan adikku. Dan untuk mengenai masalah di sini, biar aku yang menanganinya.”
Setelah pak Sholeh berkata demikian, tiba-tiba muncul seberkas cahaya putih, di mana terdapat dua orang wanita yang tengah menunggu kedatangannya.
Tangis Sumarni pun pecah, karena tak kuasa menahan air mata yang terus menetes, sekian lama arwahnya yang bergentayangan tersebut akhirnya bisa bertemu kembali dengan ibu dan adiknya tercinta.
Sungguh tak dapat dibayangkan oleh Sumarni sendiri, ia dapat berkumpul kembali dengan mereka yang menjadi sandaran hidupnya ketika didunia.
Sebelum Sumarni pergi menghilang, ia berpamitan terlebih dahulu pada seseorang yang membebaskannya dari tempat terkutuk tersebut.
“Terima kasih, atas pertolonganmu dan pengorbananmu tak akan pernah aku lupakan. Meskipun kau begitu dingin, hatimu tetaplah hangat, satu hal lagi yang harus kau tahu!” ucap Sumarni sembari menghampiri kemudian ia membisikkan suatu kata yang hanya ditatap dingin oleh Araxi. “Jagalah hatimu, karena ada seorang hantu yang diam-diam mencintaimu.”
Seketika seberkas cahaya putih tersebut menghilang, seiring dengan masuknya arwah Sumarni kedalam cahaya itu yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Ketiganya pun mendoakan arwah Sumarni, agar ia bisa tenang kembali, akan tetapi sebelum kembali ke kota.
Dengan terpaksa mereka mengurungkan niatnya, yang ingin menguburkan tulang belulang milik Sumarni, tentunya mereka telah mendapat peringatan dari bapak tersebut.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, pagi menjelang siang hari itu di kantor milik Kevin dengan Andra menahan kesal saat menerima perintah dari sahabatnya tersebut.
Semenjak Andra membongkar rahasia yang tertutup rapat, ia juga berusaha memberi putrinya peringatan untuk tak terlalu gegabah dalam bertindak, karena nyawa ketiga adik dari atasan putranya tersebut masih sedang dalam kejaran orang yang berambisi membunuhnya.
Mendial nomor ponsel putranya, untuk meminta bantuan tentang keinginan dari Kevin. Untuk meminta izin agar ketiga kembar tersebut, bisa membolos dari pelajaran mereka dihari pertama sekolah.
“Yo apa kamu sedang ada di kantor?” tanya Andra pada Theo begitu panggilan tersambung.
“Aku masih ada di rumah Yah. Memangnya ada apa meneleponku?”
“Kamu tahu si kembar bukan? Bisa minta izin dahulu, karena mereka ada keperluan dan hari ini belum dapat mengikuti.”
“Apa Ayah tahu ke mana mereka semua?”
“Ah ... Tak apa Ayah, aku hanya ingin bertanya saja denganmu. Kalau begitu apa cuman itu saja yang ingin Ayah sampaikan?”
“Apa kamu ingat pesan Ayahmu semalam? Ingat jangan sampai keberadaan si kembar bocor. Kamu tahu bukan keberadaan menjadi ancaman besar bagi ibu tiri atasanmu, jika mengetahui bayi yang dulu telah berhasil ia bunuh hidup kembali. Sebisa mungkin kamu harus menjaga rahasia ini dengan baik-baik. Apa kamu bisa Nak?”
“Baik Ayah aku akan menjaganya demi Leonard!”
Setelah menghubungi dan memberi putranya ancaman, Andra pun memutuskan memulai kembali pekerjaan yang menumpuk itu sebelum rapat berlangsung.
__ADS_1
Namun entah mengapa Andra pun merasa gelisah, ketika sedang mengerjakan tumpukan berkas tersebut. Pikiran dan hatinya tertuju ke arah ketiga kembar itu, serta tak lupa juga ia memikirkan putri sahabatnya, yang mana membuatnya tak bisa berkonsentrasi didalam tumpukan berkas itu.
Sial mengapa perasaanku menjadi tak karuan begini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa perasaanku ini justru mengarah putri Kevin dan si kembar! Apa yang terjadi pada mereka? Umpat Andra dalam batin.
Tentunya Andra semakin gusar dengan pikiran dan hatinya mendadak kacau, karena tak bisa meninggalkan rapat yang akan ia ambil alih.
Dengan terpaksa Andra mengirim pesan singkat melalui whatsapp, untuk menyuruh putranya menyusul Kevin ke desa tersebut.
[“Apa kamu sudah sampai di kantor Yo?”] pesan tercentang dua garis biru yang belum sempat terbaca oleh Theo.
Selang beberapa menit kemudian Theo pun membalasnya.
[“Aku masih dalam perjalanan Yah. Memangnya kenapa lagi, apa ada masalah yang serius?”]
[“Maaf merepotkanmu Nak, kali ini apa kamu bisa bantu Ayahmu? Pergilah ke desa tempat Ommu berkunjung, nanti ayah akan kirim lokasi desa itu. Entah mengapa perasaan ayah mendadak tak tenang, apa lagi menyangkut si kembar dan putri Ommu itu.”]
[“Baik Ayah, aku akan menyusul Om dengan lainnya ke sana. Kirim saja alamat lengkap dan lokasi desa itu.”]
Selesai melacak keberadaan mobil yang terpasang GPS, Andra dengan sigap langsung mengirim lokasi tersebut pada putranya.
Andra merasa sedikit lega, bahwa sang putra tercinta mau membantunya untuk menyusul mereka ke desa tersebut.
__ADS_1
Keyakinan Andra semakin kuat, saat merasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan oleh hati dan pikirannya.