Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Temuan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Awan mendung itu pun menghiasi wajah tampan miliknya telah memasuki usia setengah abad hanya beberapa tahun kemudian, ia akan menginjak usia di atas 50 tahun. Akan tetapi kharisma dan wajah datar nan dinginnya itu semakin kokoh tak lekang oleh waktu.


“Boy,” ucap Raymond seraya memanggil putra sulungnya. “Kamu harus terus mencari keberadaan si kembar sampai ketemu, apa pun caranya, karena Papamu ini sudah terlalu lama memendam perasaan rindu untuk adik-adikmu itu,” perintahnya dengan tegas.


“Papa tenang saja. Aku sangat yakin mereka pasti ada di suatu tempat, nanti biar aku meminta bantuan Theo untuk mencari keberadaan mereka,” sahut Leonard.


“Oh iya Pa, apa Papaku tidak merasa kalau kecelakaan beberapa tahun lalu ada seseorang yang sengaja melakukannya? Dalam artian kematian mama memang sudah menjadi rencana orang itu?” tanya Leonard serius.


“Kamu memang benar Boy, Akan tetapi Sean sahabatku tidak pernah sedikit pun berhasil menemukan jejak kecelakaan itu. Bisa saja pelakunya menghapus untuk menghilangkan semua bukti-buktinya,” ujar Raymond seraya membenarkan perkataan yang di lontarkan oleh putranya itu.


“Apa mereka juga memiliki kemampuan dari mendiang mama!” beo Leonard yang terdengar oleh sang Papa tercinta.


“Maksudmu kemampuan apa Boy?” tegur Raymond seraya bertanya pada putranya tercinta.


“Seharusnya tanpa aku beritahu Papa itu sudah mengerti dengan apa yang aku maksud.”


Setelah berkata demikian Leonard pun meninggalkan sang Papa yang duduk di atas kursi roda itu dengan keadaan melamun.


Untuk menemui Theo yang sedang berada di dalam ruangan lainnya, tempat di mana ia bekerja membantu sang Papa untuk meneruskan perusahaan yang selama ini di bangun oleh Papanya tercinta.


Setelah di dalam ruangan yang tengah di tempat oleh Theo, ia pun menghampiri asisten pribadi yang merangkap sebagai sahabatnya itu. Untuk menanyakan perkembangan tentang penyelidikan yang sedang ia lakukan, guna mencari tahu keberadaan adik kembar mereka. Yang terpisah dengannya, saat tiga kembar itu terlahir ke dunia.


“Bagaimana, Apa penyelidikanmu membuahkan hasil?” tanya Leonard dingin.

__ADS_1


Sembari berdehem Theo pun mulai menjelaskan secara rinci apa yang telah berhasil ia dapatkan, melalui bantuan yang di berikan oleh beberapa pasukan makhluk mendiang ayahnya itu.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya, kemungkinan adik-adikmu itu bersembunyi di suatu tempat. Untuk menghindari bertemunya mereka dengan ibu tirimu,” ucap Theo seraya dengan menjawab pertanyaan, yang mana sang sahabatnya itu berharap bisa menemukan titik keberadaan adik kembarnya. “Bahkan saat aku meminta bantuan pada mereka pun tidak dapat membantu banyak Le, sepertinya ada yang menyembunyikan hawa keberadaan adik kembarmu itu.”


“Kau sudah tidak takut lagi ya terhadap mereka?” ledek Leonard.


“Le,” ucap Theo seraya memanggil sahabatnya. “Suka sekali meledekku? Apa kau mau mencoba melihat beberapa dari mereka!” tawar Theo datar.


Bisa-bisanya sahabatnya itu meledek dirinya, yang tidak lagi takut dengan mereka yang biasa di panggil sebagai arwah atau hantu yang mati dengan tidak tenang, menjadi arwah yang sangat penasaran.


“Oke ... Oke ... Maaf aku tidak akan meledekmu lagi,” sahut Leonard berkilah. “Papa memintaku untuk mewakilinya datang ke sebuah perusahaan milik Tuan Marco, apa kau sudah memiliki berkas itu?”


“Berkasnya kan sudah aku kirim semua ke alamat emailmu,” jawab Theo acuh.


“Tolong retas CCTV yang berada di gedung sekolah itu, Aku ingin kau memeriksa apa yang telah di lakukan oleh anak itu di sekolah milik Papa,” perintah Leonard tegas.


Dengan ekspresi datarnya Theo pun meminta peretas CCTV itu pada salah satu orang suruhannya, guna memantau dan memeriksa kegiatan yang di lakukan oleh adik sahabatnya itu.


“Dapat,” ucap Theo datar, sembari memicingkan netra matanya menangkap sesuatu yang sedang menggelitik pikirannya.


‘Ekspresi itu kenapa seperti tidak asing? Dingin nan datar. Atau jangan-jangan selama ini ayah ibu menyembunyikan sesuatu yang tidak aku tahu!’ batin Theo berbisik.


“Bagaimana, Apa yang di lakukan oleh anak itu di sekolah? Apa kau mendapatkan sesuatu?” todong Leonard dengan mencecarnya berbagai pertanyaan.

__ADS_1


“Kau lihat saja sendiri!” sahut Theo acuh.


Sesuai dengan keinginan yang ia mau, Leonard pun mengamati CCTV yang di retas olehnya. Ia melakukan hal itu, guna memantau serta melihat perkembangan yang di lakukan oleh adik tirinya.


Namun entah mengapa seketika pandangan netra matanya menangkap sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di pikirannya.


‘Tidak mungkin, Mengapa tatapan dan ekspresi itu seperti yang aku lakukan pada semua orang yang mengenaliku! Aku harus mencari tahu’ gumam Leonard dengan tekad.


“Aku mau kau mencari seluruh data siswa yang ada di sekolah milik Papaku, dan juga aku ingin kau katakan semua pada guru-guru mengajar di sana. Untuk tidak terlalu takut dengan kesombongan dan kearoganan Prisilia, Aku tetap ingin semua berlaku adil. Tidak terlalu membeda-bedakan kasta, hanya karena dia anak pemilik sekolah itu,” perintah Leonard tegas, karena ia tidak ingin adik tirinya itu melakukan semena-mena hanya karena dirinya anak pemilik sekolah, tempatnya belajar dan menuntut ilmu.


“Oke akan aku lakukan sesuai perintahmu, sekarang waktunya untuk berangkat ke perusahaan milik rekan bisnis Papamu,” jam di pergelangan tangan kanannya yang melingkar itu mengingatkan sang sahabatnya untuk mewakili Tuan Raymond ke perusahaan milik rekannya.


Tanpa berkata banyak dua orang tersebut beranjak meninggalkan kantor, untuk menuju arah kantor milik rekan bisnis Raymond dengan mengendarai mobil sport merah kehitaman milik Leonard itu sendiri.


Sementara itu di tempat lain, masih dengan Ara yang menumpangi bus kendaraan itu. Tengah menuju ke arah tempat di mana ia akan menyelesaikan urusan arwah Minerva dengan sang suami tercinta, yang dengan setia ia ditemani oleh Albert sesosok arwah berparas nan tampan pucat pasi itu terdiam membisu, memikirkan bagaimana nantinya Araxi yang duduk di sebelahnya itu bertemu dengan kakak kandung yang selama ini mencari keberadaannya.


‘Bagaimana nanti kalau mereka bertemu? Aku tidak yakin ketiganya bisa lolos dari jerat wanita itu!’ batin Albert berbisik, yang sialnya terdengar langsung di telinga Araxi dengan ekspresi yang semakin mendingin.


Tanpa di beritahu Araxi pun sejujurnya sudah bisa menebak pertemuannya yang akan terjadi itu merupakan pertemuan pertamanya dengan kakak kandung tercinta.


Tak lama kemudian bus yang di tumpangi oleh Araxi itu pun sampailah di sebuah perusahaan milik seseorang yang akan ia temui, untuk meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang di lakukan oleh istri dari pemilik perusahaan yang di datangi oleh dirinya.


Mengayunkan kakinya memasuki halaman gedung perkantoran itu sembari memasukkan ke dua tangan di saku celana seragam miliknya.

__ADS_1


Sambil mengamati keadaan sekeliling gedung itu, yang membuatnya menghela napas gusar .......


__ADS_2