
“Gabungan dari bangsa vampir dan demon aku baru mendengarnya. Apa itu bangsa yang berbahaya?” Alex dibuat heran dengan sebutan bangsa kerajaan yang dilontarkan oleh Dominic.
“Bisa dibilang bangsa kami memang sedikit berbahaya dan mematikan tapi terkecuali jelmaan dari papamu murni manusia dan dia tak akan mempunyai kekuatan lagi.”
“Hm, jadi, seperti itu ya!” Alex membeo dengan tangan melipat ke dada. Namun, masih bisa terdengar oleh Dominic.
Tanpa sadar obrolan mereka terputus dengan Dominic yang sengaja mengembalikan karena telinga sangat berdengung saat mendengar nama panggilan yang di tuju untuk Alex. Deru napasnya tersengal dan sedikit terbatuk saat ia dilemparkan begitu saja oleh sesosok yang berada di diri jiwanya.
“Kenapa?” Alexa sedikit heran dengan adik kembarnya yang seperti orang sedang bermimpi buruk.
Alex enggan menjawab karena dia tak ingin kembarannya mengetahui tentang potongan puzzle yang selalu mengganggu pikiran di benaknya.
“Kamu lama sekali, sih?”
__ADS_1
“Kenapa lagi? Ada apa denganmu?” Alexa mengulangnya dengan bertanya pada kembarannya itu.
“Sudah deh jangan bawel terus!” Alex tetap enggan memberitahukan apa yang telah dilihat olehnya.
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya fokus pada mendiang sang mama tercinta. Baik Alex dan Alexa tak tahan dengan air mata yang berkaca-kaca hati mereka berkecamuk. Tak kala melihat sebuah peti yang berisi jasad kan berpindah tempat dari jangkauan wanita iblis tersebut.
“Kalian berhati-hatilah membawa jasad mamaku!” titah Leonard dengan nada dingin. “Jangan sampai ada yang terlewatkan dan juga mengenai tempat sebelumnya. Bersihkan dengan rapi jangan meninggalkan jejak apa pun. Jika ada hewan yang meninggal kuburkan ke tempat itu untuk mengecoh musuh. Paham!”
Tanpa membantah orang suruhan dari Leonard itu pun melakukan tugas masing-masing sesuai dengan keinginannya.
“Cepat kita sudah tak punya banyak waktu sebelum dia mengetahui rencana kita!”
Leonard pun melajukan mobil kesayanganya dengan kecepatan sedang untuk menyusul sebuah mobil yang membawa jasad mamanya.
__ADS_1
****
Sementara itu di tempat lain di sebuah apartemen yang tak banyak orang tahu bahwa tempat tersebut milik Raymond Wesley Wiratmaja dengan dia saat ini sedang menempelkan ponsel yang saat tersambung dengan Sean yang akan memberinya sebuah laporan.
“Bagaimana apa mereka sudah berangkat?”
“Beberapa menit yang lalu mobil yang di kendarai anak buahku sudah membawa jasad mendiang istrimu yang mengarah ke makam baru sesuai dengan permintaan dari salah satu putri kembarmu, Ray.”
“Ingat jangan sampai kau gagal melakukan tugasmu karena aku tak ingin wanita tersebut mengejar orang yang sangat ku cintai.” Raymond dengan rahang mengerat menegaskan bahwa dia sangat membenci sesuatu yang tenang diusik kembali. Apalagi menyangkut tentang wanita yang dicintainya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Tak mungkin berdiam diri bila semua tentang mendiang istrimu selalu diusik.”
“Jangan bawel dan banyak tanya! Kau cukup lakukan apa yang ku minta dan tak ada bantahan untukmu!” Raymond dengan kasar mematikan panggilannya yang sedang tersambung sambil mengumpat geram pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Sekarang tak kan ada lagi yang mengusikmu sayangku. Tunggu aku di sana suatu saat nanti kita akan bersama kembali ....