Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Akhir Hidup Sherly Si Pembuat Manekin Manusia


__ADS_3

“Apa yang terjadi?” bisik Leonard sembari bertanya.


“Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka,” bisik Theo balik.


Akan tetapi netra mata Theo menangkap netra mata milik Ara yang tengah menatapnya dingin.


‘Sialan, tatapan mata itu!’


Kembali pada dua orang yang tengah bersitegang itu dengan Marco yang terus mendesak Sherly untuk mengakui semua perbuatan yang telah ia lakukan.


“Kamu jangan pernah percaya pada bocah ingusan itu, sepertinya hanya membual,” ucap Sherly berkilah. “Kamu harus percaya denganku Sayang,” rayu Sherly dengan maut seperti biasanya. Untuk membuat sang suami percaya dengan dirinya.


“Nyonya mengakulah tidak usah berbelit-belit. Apa anda tidak menyadari bahwa arwah dari wanita yang anda bunuh itu menuntut balas, serta dia hanya ingin tubuhnya di kuburkan dengan layak. Bukan menjadi simpanan koleksimu itu,” sela Ara dingin.


Dengan geram Sherly pun mendekati Ara, akan tetapi ia di hadang oleh arwah Minerva itu sendiri.


“Kau tidak seharusnya menyerang anak itu,” sahut Minerva. “Dan juga kau harus mengakui perbuatanmu pada orang yang menjadi suamimu itu. Karena arwahku ini akan terus menghantui dan mengganggu anak kandungmu.”


Masih tidak mau mengakui perbuatannya, dengan gerakan cepat Sherly pun melarikan diri dari sang suami yang tengah menginterogasi dirinya.


Dengan berteriak-teriak bahwa ia tidak pernah membunuh istri sah dari Marco itu sendiri.


Namun malang tidak dapat di raih saat sedang berlari menghindari dirinya di tangkap oleh polisi, dari arah berlawan beberapa meter kantor milik Marco.


Istri simpanan Marco yang juga istri sahnya itu pun menghembuskan napas terakhir akibat tabrakan maut dari pengendara truk dan membuatnya meregang nyawa di tempat.


Semuanya terjadi begitu sangat cepat sebelum Sherly di tangkap, ia terlebih dahulu terbujur kaku menuai apa yang di tanam olehnya semasa hidup di dunia.


Kini arwah Minerva yang masih merasuki tubuh karyawan tersebut mulai tenang setelah ia bisa membongkar kejahatan yang di lakukan oleh mendiang dari istri suaminya itu.


Sebelum pergi ia pun berpamitan pada suaminya tercinta, serta tidak lupa meminta pada sang suami untuk segera membawa tubuh aslinya ke tempat seharusnya ia istirahat dengan damai.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Marco.


“Sudah terlalu lama tubuh asliku menahan dingin mas, segera ambil dan bawa tubuhku ke rumahku berada,” pinta Minerva dengan sendu.


“Maaf!” hanya untaian kata maaf yang bisa terucap dari bibir Marco. “Aku sangat menyesal telah menuduhmu berselingkuh di belakangku.”


“Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu mas, sekarang biarkan aku pergi dengan tenang. Karena di sana anak kita sudah menunggu kedatanganku,” ucap Minerva sambil menolehkan ke arah Ara yang dengan setia menatap semua orang dengan dingin.


“Terima kasih juga untuk dirimu, berkatmu aku bisa pergi dengan tenang. Tanpa di bayang-bayangi oleh dendam yang aku bawa,” kata Minerva tulus pada Ara seorang pelajar dengan gaya maskulin ciri khasnya itu.


Setelahnya itu tiba-tiba karyawan yang di rasuki oleh arwah Minerva itu pingsan, saat Minerva itu sendiri keluar dari tubuhnya. Tak lama kemudian ia menghilang memasuki sebuah cahaya yang datang menjemputnya dengan senyum terakhir yang di lihat oleh Ara.


Berakhirlah dendam seorang arwah Minerva pergi dengan tenang menyusul sang buah hati ke tempat keabadian yang sangat indah.


“Ayo kita juga harus segera kembali Ra,” ajak Albert. “Alex sangat membutuhkanmu saat ini.” Kata Albert menyampaikan pesan pada Ara.


“Ada apa dengannya Al?” tanya Ara.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Ara, Albert pun meninggalkannya seorang diri. ‘Selalu saja seperti ini, menghilang dan datang secara tiba-tiba!’ gerutunya dingin.


“Apa kau sedang berbicara dengannya Nona?” tanya Theo. Yang mana menurutnya sangat dengan jelas bahwa pelajar yang berseragam sekolah tersebut sama seperti dirinya. Yang di juluki seorang indigo.


“Maksudmu apa Tuan?” ucap Ara dingin seraya bertanya balik.


“Tidak ada, tidak usah Nona hiraukan. Acuhkan saja apa yang kita bicarakan barusan.” Theo pun berucap seperti itu, karena ia merasa segan dengan privasi di antara keduanya. Mengingat mereka pun saling tidak mengenali satu sama lain.


Tak lama kemudian dua orang tersebut saling berdiam membisu, serta dengan Ara yang ingin segera kembali pada dua saudara kembarnya yang tengah menunggu kepulangan dirinya.


Dirinya dengan dua saudara kembarnya yang telah menyelesaikan misi membantu arwah yang pulang kembali ke tempat asalnya.


Sementara itu masih di sebuah kantor milik Marco dengan Theo seorang diri itu pun tengah memikirkan sesosok arwah pria berwajah tampan nan pucat pasi tersebut mengganjal di pikirannya.

__ADS_1


Entah bagaimana caranya bisa seorang pelajar itu dapat berkomunikasi dengan arwah tersebut dengan baik. Tidak seperti dirinya yang masih sedikit takut dengan arwah-arwah itu atau yang lebih di kenal dengan hantu.


Hingga tepukan di bahu Theo itu pun mengagetkan dirinya yang tengah melamun memikirkan pertemuannya dengan seorang pelajar tersebut.


“Apa yang sedang kau lamunkan The?” tanya Leonard. “Apakah rapat ini akan di teruskan? Mengingat kantor ini sedang bermasalah!”


Dengan berdehem menghilangkan rasa penasaran Leonard, ia pun menjawab pertanyaan dengan seadanya. “Kalau begitu kita tunda terlebih dahulu.”


“Ya sudah kalau begitu, kau saja yang menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya istri dari rekan Papa, Akan aku tunggu kau di mobil” perintah Leonard datar. Serta tidak lupa ia beranjak dari tempatnya tidak jauh berdiri itu.


Karena saat ini ia berusaha menenangkan pikirannya yang sedang kalut, saat melihat tatapan datar nan dingin itu seperti ke arah dirinya bercermin.


Entah mengapa ia merasakan perasaan yang hilang itu datang dari dalam lubuk hatinya.


Tanpa mereka sadari baik ara mau pun Leonard merupakan kakak adik yang sekian lama terpisah.


Hanya saja sang adik tercinta telah lebih dulu mengetahui kebenaran itu, namun ia masih belum bisa berkumpul kembali sebelum wanita yang menjadi ibu tirinya tersebut mengakui perbuatannya.


Selang beberapa menit kemudian Theo pun menyusul dirinya, yang tengah bersandar di dekat jendala mobil yang sedang ia tumpangi.


Hingga lamunannya buyar saat mendengar perkataan yang terlontar dari bibir sahabatnya tersebut, tentang seseorang yang tengah merasuk dalam benaknya.


“Le,” panggil Theo dengan raut wajah yang sulit di artikan. “Apa kau tidak merasa asing dengan tatapan mata dari pelajar itu.” Berucap langsung pada inti dari pertemuan yang tidak di sengaja.


“Kau benar The, sorotan dan tatapan dingin itu seperti aku bercermin langsung ke arah pelajar tersebut.” Sahut Leonard yang menyambung, membenarkan perkataan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu.


“Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan Le?” tanya Theo.


Berdehem, lalu berucap dingin. Leonard pun memerintahkan Theo untuk menyelidiki tentang pertemuannya dengan pelajar itu. “Aku memintamu untuk menyelidiki tentang latar belakangnya.” Perintahnya tegas tanpa ada bantahan.


“Lalu apalagi yang ingin di sampaikan?” tanya Theo kembali untuk memastikan sesuatu hal permintaan dari sahabatnya.

__ADS_1


“Jalankan mobilnya, pergi ke arah makam Mamaku,” lanjut Leonard tanpa menjawab perkataan dari Theo sahabatnya itu.


Mobil yang di kendarai oleh Theo dengan Leonard duduk di depan sampingnya itu pun melangkah dengan kecepatan sedang meninggalkan gedung kantor yang telah mereka datangi menuju arah makam, tempat di mana mendiang Mama tercinta di istirahatkan dalam damai.


__ADS_2