Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Perdebatan Araxi Yang Membuat Albert Merasa Cemburu


__ADS_3

Namun lagi-lagi tanpa Theo sadari sejak tadi, kedua kembaran yang masih menumpang di dalam mobil tersebut, secara langsung tak sengaja mendengar obrolannya dengan Leonard.


Tentunya di dalam benak pikiran dan hati mereka pun menerka tentang suara di seberang telepon itu menurut keduanya seperti tak asing di telinga mereka.


Karena ingatan mereka tertuju pada Araxi, mereka baru menyadari bahwa suara nada dingin dari panggilan tersebut mengingatkan pada suara nada dingin milik Araxi.


Jika saat itu hanya Araxi yang dapat mendengar suara batin seseorang, akan tetapi kali ini baik Alexa maupun Alex pun juga melakukan hal yang sama dengan kembarannya itu.


Ketiga kembar tersebut masing-masing dapat mendengar suara batin seseorang yang tengah berbicara.


Tak mungkin itu suara dingin milik Ara. Siapa sebenarnya dia? Mengapa aku merasa sangat tak asing dengan perasaan ini? Batin Alex bertanya-tanya.


Namun tidak bagi Alexa tentunya pun tahu siapa seorang yang tengah mengobrol dengan seseorang yang tengah memegang kemudi setir tersebut.


Aku sangat yakin wajahnya dan dinginnya sangat perpaduan dengan Araxi, bahkan suara dingin itu menandakan dia pasti lebih dingin dari Araxi. Dan aku sangat berharap bisa bertemu denganmu Kak, mengingat apa yang sudah kau lakukan pada Araxi membuatku semakin yakin, bahwa kita berempat memiliki darah yang sama dengan mendiang Mama tercinta. Batin Alexa membeo lirih tanpa terdengar dari dua kembarannya tersebut.


Karena Alexa memang sengaja menyembunyikan kemampuannya tersebut, termasuk kemampuan milik Alex pun tak dapat di tembus oleh dirinya.


Mobil yang di tumpangi oleh Alexa dan Alex pun telah tiba di pelataran rumah sakit, tentunya dengan terpaksa mereka membiarkan pria yang mengantarnya itu pun kembali menemui sahabatnya tercinta. “Tak perlu mengantar kami ke dalam, lebih baik kau segera pergi untuk menemui sahabatmu itu Kak.” Tolak Alexa halus begitu tahu Theo hendak keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


“Apa tak masalah kalian masuk sendiri ke dalam. Lagi pula rumah sakit ini agak sedikit angker, mengingat tempatnya juga jauh dari kota!” ucap Theo yang merasa cemas dengan kedua kembar tersebut.


“Apa kau pikir aku dan Alexa takut dengan mereka?” tanya Alex dengan geram. “Seharusnya aku bertanya padamu! Apa kau tak tahu jalanan dari arah rumah sakit ini agak sepi dari kendaraan yang melintas, bahkan tempat penginapan yang akan datangi itu pun tak luput dari keramaian. Masih ingin meremehkan kemampuanku dan juga kembaranku?”


Karena lupa adik kembar dari Leonard memiliki kemampuan yang sama dengannya, dengan terpaksa Theo pun mengalah, dan juga tak lupa ia berpamitan untuk menyusul sahabatnya yang tengah menunggu kedatangannya di penginapan tersebut.


“Baiklah aku mengalah kalah darimu, besok pagi aku akan kembali lagi ke mari untuk menengok kembaranmu itu.” Tanpa menunggu jawaban Theo pun menutup kaca mobil, kemudian mobil yang ia kendarai itu melaju dengan pelan meninggalkan kedua kembar yang tengah berjalan memasuki lorong koridor yang sedikit angker.


Karena tak ada seseorang pun yang melintasi koridor tersebut.


Selang beberapa jam kemudian tibalah mobil yang di kendarai oleh Theo itu di tempat penginapan, yang mana tempat tersebut terlihat cukup sepi tanpa ada seseorang yang melintas.


Setelah sampai di kamar unit pesanan Leonard ia pun mengetuk daun pintu tersebut, sambil menengok ke arah kanan kiri agar ia memastikan diri untuk tak melihat sesuatu yang sengaja tak ingin di lihat dengan mata batinnya.


******


“Apa kau tak ingin memberitahukan semua rahasia padaku Al?” tanya Araxi dingin.


Bagaimana mungkin dirinya dibuat terkejut, saat ia tak sengaja mendengar obrolan dari dua orang yang mungkin saja bisa langsung terhubung dengannya itu.

__ADS_1


Ia juga menduga salah satu di antara dua orang tersebut, merupakan Kakak kandungnya sendiri, terlebih lagi saat Araxi dalam keadaan masa kritis.


Ia masih sangat ingat dengan jelas nada suara dingin tersebut, yang mana nada dinginnya itu sedikit mirip dengan dirinya.


“Maaf Ra!” dengan sendu Albert pun tak bisa mengatakan tentang semua rahasia yang tersembunyi pada gadis pujaannya itu.


Mengingat Albert sendiri pun telah berjanji pada mendiang Siska, untuk tak mengatakan hal kebenaran tersebut. Karena besar kemungkinan ketiga kembar itu akan memiliki dendam pribadi, pada seseorang yang dengan tega merenggut kebahagiaannya.


Untuk itulah Albert menyembunyikan sebuah rahasia tentang masa lalu kedua orang tuanya tersebut.


“Maaf tak bermaksud menyembunyikan rahasia ini pada dirimu maupun kembaranmu. Ada alasan lain untukku menyembunyikannya, lalu jika aku menceritakan tentang rahasia itu,” ucap Albert membuka suara yang terbungkam itu. “Apa kau sanggup untuk tak mempunyai dendam pada seseorang yang membuatmu seperti ini Ra?”


“Entah aku juga tak tahu,” jawab Araxi acuh. “Apa kau lupa di tubuhku ini ada sesuatu yang berdiam diri di sana, bahkan saat aku di serang pun dia tak banyak membantu.” Araxi pun memprotes tindakan dari sesosok yang masih mendiami tubuhnya.


Sementara itu sesosok yang berdiam diri di tubuh Araxi, seketika itu ia melayangkan protes pada pemilik tubuh asli.


Mengingat ia benar-benar tak tahu, jika ada sesosok yang menyerang pemilik tubuh asli yang ia rasuki itu. “Hei enak saja kau protes denganku, aku kan tak tahu jika ada makhluk kecil yang menyerangmu.” Protes balik pada pemilik tubuh asli.


“Lalu saat itu kau sedang apa? Kenapa bisa tak menyadari kalau aku di serang oleh makhluk kecil itu?” tanya Araxi dengan geram.

__ADS_1


“Oh itu maaf aku sedang ...” perkataannya pun terjeda lantaran sesosok tersebut tak mengatakannya lebih jelas pada Araxi.


“Sudah tak usah kau katakan, aku sudah tak berminat berdebat denganmu.” Dengan acuh Araxi pun tak memedulikan pada sesosok yang mengajaknya berdebat tersebut.


__ADS_2