Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kilas Masa Kelam Kevin


__ADS_3

Namun semakin kesini Ivone pun benar-benar telah membenci pada seseorang yang tak pernah menganggap kehadirannya di dunia ada.


Setelah sang Papa selesai menghabiskan makanannya, ia sungguh sangat tak tega dengan hati Papanya yang begitu sangat rapuh.


Namun sang Papa justru terlihat lebih tegar di bandingkan dirinya yang begitu sangat lelah dengan semua ini.


“Sayang sampai di mana tadi Papa bercerita denganmu?” tanya Kevin yang seakan-akan lupa tentang cerita masa lalunya yang sangat kelam.


“Pa,” panggil Ivone dengan suara lembut meskipun raut wajahnya terlihat sangat datar. “Sudah cukup jangan di teruskan jika nanti hatiku dan hatimu terluka, kalau Papa masih terus membuka kenangan itu.”

__ADS_1


Kevin pun menggeleng kepala, ia pun tetap bersikeras untuk tetap menceritakan semua hal yang berhubungan dengan papa kandung dari si kembar, agar putrinya tersebut tak terlalu terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh mantan istrinya yang telah memberinya seorang malaikat kecil yang tak pernah di anggap ada.


“Lalu setelah itu Papa pun telah berhasil menikahi Mamamu, lalu beberapa bulan kemudian dia telah menunjukkan sikap aslinya dengan terang-terangan Mamamu saat itu juga ingin membunuh Papamu. Bahkan saat hamil pun ia berusaha menggugurkanmu, akan tetapi Papa melarangnya sehingga mau tak mau Mamamu tetap mempertahankanmu, sampai lahir menjadi bayi merah hingga menjadi seorang gadis yang sangat cantik dihadapan Papa sekarang!” lanjut Kevin sembari menahan napas di dada. “Akan tetapi sebuah kejadian menimpa Papamu ini. Kamu tahu bukan dulu Papa pernah duduk di atas kursi roda?”


Menyimak cerita panjang tersebut membuat Ivone berpikir apa yang sedang terjadi dengan keadaan Papanya dulu, tentu saja ingatannya tertuju pada saat sang Papa tercinta duduk di atas kursi roda.


“Lalu apa yang membuat Papa bisa duduk di atas kursi roda?” tanya Ivone.


“Papa juga tak tahu sayang. Akan tetapi Papa berpikir hanya terkena lumpuh, bahkan saat itu dokter sama sekali tak bisa mengdiagnosa penyakit yang di derita oleh Papamu ini.” Jelas Kevin dengan memberi Ivone jawaban yang kurang memuaskan. “Lalu tiba-tiba saja beberapa bulan usaha Papa untuk sembuh tak pernah berhasil, sampai di mana Mamamu memilih kerja di sebuah perusahaan dengan dalih ingin membantu meringankan Papa. Akan tetapi itu hanya sebuah rencananya untuk tetap mengejar seorang pria yang ternyata cinta pertama Mamamu.”

__ADS_1


Bagai petir disambar siang bolong, Ivone sendiripun tak menyangka dan harus menerima kenyataan pahit, bahwa selama ini cinta Papanya bertepuk sebelah tangan.


Lalu mengapa mereka harus membuat dirinya hadir ke dunia, jika tak begitu saling mencintai pantas saja selama ini Ivone selalu berpikir mengapa Mamanya itu membenci dirinya, mengingat ia perkataan Mamanya selalu terngiang-niang dalam ingatannya.


Bahwa kehadirannya di dunia karena sebuah kesalahan yang telah di buat oleh Mamanya tersebut, jadi kemungkinan besar Mamanya benar-benar tak menginginkannya ada, dan hal itu membuat hatinya sangat terluka sekaligus kecewa dengan sikap yang selama ini dilakukan oleh Mamanya itu.


Mengapa kamu bisa terluka seperti ini Pa? Jujur saja aku sungguh terluka hatiku saat mendengar semua ceritamu tentangnya, bahkan aku begitu tak tega melihat wajahmu yang terlihat dingin tegas. Akan tetapi kamu memendam semua luka itu sendiri Pa, andai saja kamu bisa melihat betapa hancurnya hatiku saat ini. Mungkin lebih baik aku tak pernah menganggapnya sebagai orang yang telah melahirkanku ke dunia, dan aku sangat berterima kasih pada dirimu atas semua cintamu yang tanpa syarat untukku. Karena kamu semakin menua maka aku akan tetap menyayangi dan mencintaimu juga, sampai pada saat aku menemukan seseorang yang bisa menyembuhkan lukaku Pa. Batin Ivone bertekad bulat untuk tetap mencintai dan menyayangi Papanya tanpa syarat.


Yang mana Papanya tercinta begitu banyak berkorban untuk dirinya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2