Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kevin dan Ivone Seperti Keluarga Bagi Ketiga Kembar Indigo


__ADS_3

“Sayang,” suara Siska begitu lembut, bagai alunan lagu fewyang indah memanggil kedua putrinya untuk menyampaikan waktu pertemuannya telah habis. “Alex sudah menunggu kalian berdua, saatnya kita harus berpisah kembali. Tapi jangan khawatir, jika kalian bertiga merindukan Mamamu ini! Kalian bisa datang ke tempat ini, sebagai pertemuan kita kembali. Apa kalian berdua tak keberatan?”


“Tidak!” jawab keduanya dengan kompak.


Dengan memberi kedua putrinya pelukan untuk berpisah, lalu kemudian tak lupa juga ia berpamitan pada dua tersebut untuk kembali mendiami tubuh masing-masing di antara kedua putri kembarnya.


Beberapa menit kemudian kedua netra mata Alexa dan Araxi pun menyesuaikan diri dengan membuka mata, karena telinga keduanya terngiang-ngiang dengan panggilan dari Alex yang berusaha membangunkan mereka.


Setelah itu kemudian keduanya pun terbangun dan meregangkan otot masing-masing.


Araxi pun menatap dingin ke arah Alex yang tengah terbengang dengan kaget. “Ada apa membangunkan tidurku?” tanya Araxi dingin.


“Kita sudah sampai di desa tujuanmu,” jawab Alex acuh. “Tidurmu dan Alexa mengapa bisa senyenyak itu?”


“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?” tanya Araxi cetus.


Alex pun menggeleng kepala, Kakaknya yang berbeda dengannya sepuluh menit itu, selalu saja bersikap dingin pada semua orang.


Ia juga pun berharap Albert mampu meruntuhkan hati Araxi yang sedingin kutub utara.


Selang beberapa menit di susul dengan terbangunnya Kevin dan juga Ivone putrinya itu, dibuat kaget dengan keadaan mereka yang telah sampai di desa tersebut.


“Kenapa Om? Ada yang ingin Om katakan?” tanya Alex seraya melipat tangan di dada.


Dengan menoleh ke arah kanan dan kiri, Kevin pun dibuat bingung dengan situasi tempat yang menjadi terakhir kalinya ia mengemudi.


“Bukankah aku yang menyetir mobilku ini ya! Lalu mengapa kita bisa sampai ke desa itu? Siapa yang menyetir mobil ini?” tanya balik Kevin dengan cecaran.


“Aku yang menyetir mobil ini Om,” jawab Alex tanpa merasa takut. “Apa ada masalah Om?”


Kevin pun menggeleng kepala, lalu kemudian sebelum mereka mencapai desa tempat tinggal arwah hantu Sumarni. Ia pun mengajak mereka untuk mengisi perutnya yang tengah kelaparan.

__ADS_1


Tentunya saat kembali ke dunia mereka, hari sudah berganti dari hari libur menjadi hari rabu. Otomatis ketiga kembar tersebut, terpaksa membolos dari pelajarannya.


“Sebaiknya kita semua sarapan terlebih dahulu. Aku sangat yakin kalian pasti lapar semua,” ajak Kevin sembari melihat jam di pergelangan tangan kiri yang melingkar.


Ketiga kembar tersebut mengangguk mendengar ajakan yang di tujukan oleh mereka.


Kemudian Kevin pun mengambil alih kendali mobilnya, untuk mencari warung makan.


Agar mereka bisa menikmati sarapan pagi sebelum ke tempat desa yang menjadi tujuan Araxi berkunjung.


Mereka pun akhirnya menikmati sarapan pagi, untuk mengisi tenaga dan energi yang telah terkuras habis saat melawan sesuatu yang di luar nalar.


Selesai menikmati sarapan pagi, Kevin pun kembali bertanya pada putrinya tercinta. Tentang keinginannya yang begitu menggebu, untuk ikut ketiga kembar tersebut. “Sayang,” panggil Kevin dengan lembut.


“Jangan bilang Papa ingin melarangku untuk ikut dengan mereka!” sela Ivone dengan bibir yang mengerucut kesal.


Dengan gemas Kevin pun memilih untuk mengalah, karena ia tak ingin berdebat dengan putrinya tercinta. “Sudah ya jangan bermain dengan bibir yang mengerucut itu, kamu seperti anak kecil saja. Oke Papa tak akan melarangmu, yang terpenting kamu harus selalu berhati-hati. Apa bisa?”


Tak menjawab pertanyaan dari sang papa tercinta, ia pun menggangguk-angguk kepala. Untuk tetap berhati-hati saat mengikuti ketiga kembar tersebut.


Karena mobil milik Kevin tak bisa di akses ke tempat desa itu, sehingga dengan terpaksa Kevin yang menunggu mereka kembali dengan selamat.


“Om yakin mau menunggu kita di sini?” tanya Alexa merasa cemas.


“Sudah jangan cemaskan keadaan Om ya,” jawab Kevin dengan lembut. “Yang terpenting kamu harus bisa jaga Kak Ivone. Apa kamu bisa melakukannya demi Om?”


Dengan menggangguk Alexa pun berjanji akan menjaga Ivone dengan baik, karena bagi Alexa Ivone maupun dengan Papanya merupakan keluarga dekatnya.


Tanpa sepengetahuan Kevin, diam-diam Alexa menyuruh pocong tersebut. Untuk menemani Kevin di dalam mobil selama mereka tinggal berjalan ke arah desa tersebut.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Yuk sudah up kembali ya


Ingat jangan lupa siapin kopi yang banyak buat penulis recehan ini


Bagaimana lebih menarik atau lebih membagongkan?


Untuk Alexa sengaja tidak aku tonjolkan ya


Karena dia sangat istimewa


Apalagi di tubuhnya pasti pada tahukan itu siapa?


Nanti akan ada kejutan lagi dari Alexa


Harap maklum dan sabar ya


Sekian terima gaji

__ADS_1


See next time


Love you all


__ADS_2