
Namun beberapa detik kemudian, Theo di buat tercengang dengan suara deringan yang masuk ke dalam ponselnya.
Sial aku justru lupa memberi kabar pada Leonard. Apa lagi aku sedang menemani mereka! Tak mungkin juga aku meninggalkan mereka. Apa yang harus aku lakukan? Batin Theo dengan raut wajah yang terlihat gusar.
******
Beranjak dari kursi yang ia duduki sambil menganyunkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut, yang mana saat ia keluar dari ruangan adiknya itu ia mendapat todongan pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
“Hei kau di dalam lama sekali sih? Apa Araxi baik-baik saja? Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apa dia sudah berhasil melewati masa kritisnya?” tanya Ivone dengan todongan pertanyaan untuk Leonard.
Dengan malas meladeni Ivone, Leonard pun menjawabnya dengan singkat dan padat. “Kau itu tak pernah berubah cerewet ingin selalu tahu urusan orang.”
“Aku kan ingin tahu keadaan Araxi, bukan juga mencampuri urusanmu itu!” ucap Ivone ketus.
“Tenang saja Araxi pasti sadar kembali. Karena aku telah mendonorkan darahku untuknya,” sahut Leonard dengan bangga. “Oh iya Om bolehkah aku pamit padamu?”
“Kau mau ke mana?” jawab Kevin seraya balik tanya.
“Aku mau mencari penginapan Om, sambil menunggu kabar dari Theo. Bisakah Om menyampaikan pesanku untuknya?” pinta Leonard dengan beralasan, sebelum ia mencari tempat penginapan untuk menghubungi Theo sendiri.
“Nanti Om sampaikan pesanmu itu padanya,” jawab Kevin tanpa merasa curiga.
Karena Kevin sama sekali tak mengetahui, bahwa Leonard diam-diam melakukan tes DNA untuk membuktikan apa yang sedang terjadi di depan mata.
__ADS_1
Secara garis besar baik Araxi, Alexa, Alex merupakan adik kembar dari Leonard itu sendiri.
Setelah berpamitan pada Kevin, Leonard pun masuk ke dalam mobil kekasayangannya sambil menghubungi Theo sahabatnya tersebut.
Untuk menanyakan lokasi tempat Theo mengantar kedua kembar itu, tanpa sadar ketiga kembar tersebut saling terhubung dengannya.
Namun panggilannya pun tak mendapat respons dari si pemilik ponsel tersebut, di karena di desa tersebut tak mendapat sinyal yang bagus.
Sambil mengumpat kesal dengan terpaksa Leonard melajukan mobil kesayangannya, meninggalkan area parkir rumah sakit, untuk mencari tempat penginapan.
Agar Leonard bisa melakukan penyelidikan tentang identitas dari ketiga kembar tersebut, sambil menunggu hasil dari tes DNA itu keluar, ia harus segera bisa menemukan informasi dan identitas dari ketiganya.
Tentunya setelah sampai di penginapan, Leonard pun meminta bantuan pada Sean, untuk membantunya melacak keberadaan ketiga kembar tersebut, melakukan data siswa/siswi yang ia punya.
Begitu panggilan telepon tersambung, tanpa berbasa-basi Leonard pun mengutarakan keinginannya pada Sean. “Om apa kau masih ada di kantor Papa?” tanya Leonard to the poin.
“Iya Om! Aku ingin kau meretas data siswa yang ada di sekolah milik Papa. Apa Om bisa melakukannya untukku?” jawab Leonard sambil meminta permintaan pada Sean asisten Papanya itu.
“Apa yang akan kau lakukan dengan data siswa itu Le? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?”
“Ayolah Om bantu aku. Karena aku sedang memastikan sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku.” Leonard pun terpaksa merengek pada Sean, agar Omnya itu mau melakukan sesuatu yang sedang ia inginkan.
Sean pun terpaksa mengalah, sembari menghela napas gusar, dengan mempertimbangkan ia pun akhirnya setuju dengan permintaan dari Leonard. “Kau seperti anak kecil saja, merengek tanpa sebab. Oke Om aku melakukan permintaanmu, nanti kau tinggal kirim saja datanya. Biar Ommu ini yang melacaknya.”
__ADS_1
“Terima kasih banyak Om, baiklah aku mau menghubungi Theo. Apa tak apa telepon aku tutup terlebih dahulu Om?”
“Nanti setelah Om melacak data itu, akan Om kabari secepatnya.”
Panggilan mereka terputus dengan Sean yang mengakhiri obrolan mereka, lalu kemudian Leonard akan menunggu kabar tentang sahabatnya itu.
Sementara itu masih di tempat kamar inap Araxi, terdapat Albert yang tengah berdiri sambil berdiam diri.
Ia tak menyangka bisa bertemu dengan putra sulungnya Siska, akan tetapi Albert tak mengetahui perihal rencana Leonard, yang mana ia melakukan tes DNA secara diam-diam.
Dengan penuh keberanian Albert kembali mendekati Araxi, sambil membisikkan suatu kata yang mendapat respons dari si pemilik bibir pucat pasi tersebut. “Bangunlah! Apa kau tak tahu siapa yang datang menjengukmu? Bahkan orang itu mendonorkan darahnya untukmu, kalau kau ingin tahu maka kali ini bangunlah. Agar aku bisa memberimu kabar tentang orang yang datang ke tempatmu.”
Apa yang di katakan oleh Albert itu mendapat respons dari Araxi, tentunya di bawah alam sadarnya Araxi di tuntun oleh Mamanya untuk kembali ke tempat di mana dua kembarannya masih membutuhkannya.
Selang beberapa detik kemudian jemari Araxi bergerak dengan sendirinya, seiring bisikan Albert yang terus bergumam di depan telinganya itu.
“Ka–u be–ri–sik se–ka–li Al,” sahut Araxi dingin dengan nada yang sangat lemah.
Albert yang mendengar nada dingin itu pun terkejut, saat mendapati Araxi telah sadar dari masa kritisnya.
Sungguh tak menyangka bagi Albert bisa mendengar suara yang sangat di rindukan oleh hantu tampan tersebut, mengingat masih teringat dengan jelas bagaimana ia mencuri ciuman pertama milik Araxi.
“Kau sudah bangun dari masa kritismu Ra?” tanya Albert yang merasa senang dengan kondisi Araxi.
__ADS_1
“A–ir,” ucap Araxi yang masih sangat lemah. “A–aku ha–us Al.”
Reaksi Albert tak terduga saat mendengar nada lemah, akan tetapi Araxi masih tetap menunjukkan raut wajah yang dingin itu, seolah-olah menghipnotisnya sehingga hal tersebut yang membuat Albert sangat begitu mencintainya dalam diam.