Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Tak Akan Pernah Bisa Menggantikannya


__ADS_3

Tanpa ada yang menduga secara tak sengaja Alexa menggunakan sedikit kemampuannya yang tersembunyi, untuk dapat melihat suatu kejadian yang membuat Alexa marah sekaligus kecewa pada keadaan sang Papa tercinta yang terlihat lemah di depan seorang wanita yang mana membuat wanita tersebut telah membunuh Mama kandungnya, serta juga membuatnya terpisah dari Papanya tersebut.


‘Bagaimana bisa ada seorang wanita iblis licik yang berhasil merebut posisi Mama? Benar-benar manusia biadab.’ Geram Alexa seraya mengumpat tingkah laku dari seseorang yang di sebut ibu tiri.


Namun tidak bagi Alexa sendiri pun, tak akan pernah menganggapnya ada.


Sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan tak biasa, dirinya pun bertekad untuk tetap selalu waspada tentang bahaya yang mengintai dirinya mau pun dua kembarannya tersebut.


Tak ingin orang lain mencurigai tentangnya, dengan cepat Alexa pun segera memutuskan untuk tak terlalu lama menggunakan kemampuannya, bisa-bisa Araxi mengomeli dirinya tersebut.


Maka dengan hal ini ia pun segera mengistirahatkan energinya yang sedikit terkuras, agar kembarannya tak mencurigai dirinya itu.


‘Maafkan aku Ra, aku sangat yakin apa yang kalian rasakan. Aku pasti juga merasakannya secara perlahan.’


Sementara itu pada malam di sebuah gedung kantor pencakar langit, di sebuah ruangan kantor terdapat seorang pria paruh baya, yang duduk di atas sebuah kursi roda.


Yang mana ia melakukan pekerjaannya dengan seorang diri di dalam ruangan kantornya sebagai CEO, namun dirinya selalu di bantu oleh Sean sang asisten pribadi sekaligus sahabatnya tersebut.


Keningnya mengerut saat melihat sebuah CCTV yang terekam dari arah lobi, ada dua orang yang malam ini tengah mendatangi dirinya.


‘Mau apa mereka datang kemari?’ batin Raymond bertanya-tanya.


Tak ingin gegabah mengambil sikap, ia pun menghubungi putra sulungnya tersebut.


Untuk membantu dirinya menghindar dua wanita yang selalu membuat dirinya darah tinggi.


Begitu panggilannya tersambung tanpa berasa-basi dirinya pun menanyakan pada putra sulungnya tentang rencana dua wanita tersebut.


“Boy, apa kamu yang menyuruh mereka kemari?” tanya Raymond to the poin.


“Apa maksudmu Pa? Mereka siapa yang Papa maksud?” jawab Leonard balik tanya.


“Siapa lagi kalau bukan ibu dan adik tirimu,” sahut Raymond dingin.

__ADS_1


“Hei Papa mereka itu bukan siapa-siapaku. Mamaku hanya seorang Siska dan adikku ada tiga kembar pula, lalu Papa ingin aku mengakui mereka begitu?” ucap Leonard ketus dari seberang telepon. “Sampai kapan pun aku tak pernah menganggap mereka ada.”


“Jadi bukan kamu Boy yang mengundang mereka datang ke kantor Papa?” ucap Raymond sembari menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut.


“Memangnya dua orang itu sedang mendatangi kantor Papa?” tanya Leonard memastikan.


“Ya!” jawab Raymond singkat.


“Usir saja mereka, kenapa mesti repot segala.”


“Itu tak mungkin Boy, masa Papa harus mengusir mereka. Bagaimana nanti kalau mereka membuat ulah lagi, kamu tahu bukan Boy, Papamu ini selalu tertekan.”


Terdengar helaan napas kasar, dengan menimbang keputusan Leonard pun memutuskan untuk segera menyusul sang Papa tercinta, agar dirinya bisa leluasa melindungi dan menjaganya dari dua wanita tersebut.


“Untuk sementara ini sebelum aku datang ke sana, Papa minta temani sama Om Sean terlebih dahulu. Aku tak ingin kecolongan, apalagi kejadian itu terulang lagi.” Tut terdengar sambungan terputus.


Yang mana membuat Raymond mengumpat kelakuan putranya tersebut, bisa-bisanya putranya itu selalu seperti ini ketika menyangkut keberadaan dirinya.


Sementara itu dua orang yang di maksud oleh Raymond tengah berjalan memasuki kantor milik suaminya.


Namun meski pun begitu, dirinya sendiri pun tak menyadari pergerakannya selalu mendapat pengawasan dari mata-mata Leonard yang tengah menyamar sebagai karyawan kantor milik Raymond.


“Apa Mama yakin bisa berhasil membuat Papa tidur denganmu?” tanya Prisilia dengan heran.


“Maka itu aku membutuhkan, untuk membuatnya tertidur denganku,” jawab Marista seraya bertekad untuk membuat Raymond menidurinya.


Karena selama menikah dengan Raymond sendiri, dirinya tak pernah mendapatkan nafkah batin dari suaminya tersebut.


Sejatinya apa yang di lakukan oleh Marista sendiri pun sudah melewati batas yang tak bisa di toleransi, bahkan sampai sekarang dirinya berusaha menjerat hati Raymond.


Agar bisa berpaling dari wanita yang telah berhasil ia bunuh, namun tak pernah berhasil, karena hati Raymond sendiri telah membeku menyatu dengan hati mendiang istrinya tercinta.


‘Kali ini kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku Ray, sudah terlalu lama kau menyiksa hatiku. Kau akan benar-benar melupakan wanita sial itu!’

__ADS_1


Namun tanpa ia sadari sesungguhnya dirinya pun mendapat pengintaian dari salah satu makhluk tak kasat mata, yang mana makhluk tersebut merupakan sahabat baik Albert.


Tentunya atas permintaan dari Albert tanpa sepengetahuan siapa pun, Albert meminta bantuan pada pasukan dari seorang dukun yang pernah di bunuh oleh wanita tersebut.


‘Kau pikir siapa ha? Mau menyingkirkan posisi cinta pertama dari pria itu? Jangan harap kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, karena kau dulu telah membunuh Tuan kami tanpa merasa berdosa. Kini giliranmu menuai apa yang dulu telah kau tanam!’


Kemudian makhluk tersebut melaporkan kejadian tersebut pada Albert yang saat ini tengah memandang teduh Araxi yang tengah terlelap ke alam mimpi.


“Apa yang harus aku lakukan terhadap wanita itu?” Lapornya pada Albert lewat telepati masing-masing.


“Apa kau menangkap sesuatu mencurigakan terhadap dirinya?” tanya Albert memastikan.


“Sepertinya kedatangannya cukup mencurigakan.”


“Kau cukup awasi wanita itu, jangan sampai celah sedikit pun.” Perintah Albert tegas. “Karena aku tak ingin kecolongan seperti kejadian beberapa bulan yang lalu.”


Setelah memutus telepati mereka, dengan membawa perintah dari Albert makhluk tersebut melakukan tugasnya.


Yang mana ia mendapat tugas, untuk menjaga Raymond dari kelicikan yang di lakukan oleh istri keduanya tersebut.


Kembali lagi pada Raymond yang tengah berbicara dengan Sean untuk membahas proyek yang sedang mereka rencanakan, tentunya proyek tersebut merupakan hadiah untuk ulang tahun ketiga kembar anaknya.


Namun saat ini dirinya menyimpan rapat tentang proyek tersebut, agar ketiga kembar anaknya tak terlalu mendapat incaran dari wanita tersebut.


“Se, aku serahkan proyek ini untukmu. Ingat jangan sampai wanita itu tahu, apa kau mengerti?” ucap Raymond seraya bertanya pada asisten pribadinya.


“Kau tenang saja aku akan merahasiakannya, ngomong-ngomong mengapa kau memintaku kemari?” jawab Sean seraya bertanya balik.


“Pelankan suaramu Se, dia dengan anaknya datang kemari, pasti mau melakukan sesuatu padaku. Sebelum itu terjadi lebih baik kau temani aku di sini, sampai Leonard datang kemari.” Perintah Raymond tegas tanpa ada bantahan.


“Sebentar lagi mereka akan datang memainkan drama, lalu kita berdua kita ikuti permainannya.” Lanjutnya tanpa melihat ke arah pintu ruangan pribadinya.


Selang beberapa menit kemudian, masuklah dua orang yang tengah mereka bicarakan dengan nada yang mendayu-dayu, membuat Raymond yang mendengarnya ingin muntah.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Marista dengan nada yang di buat lembut.


“Katakan apa maumu sekarang?” ucap Raymond dingin.


__ADS_2