
“Aku berjanji akan tetap selalu menjaga kalian, sampai separuh napasku berdetak.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Alexa dengan penuh semangat pun menyahut pertanyaan dari Leonard. “Aku Alexa Kak,” jawab Alexa dengan menampilkan senyuman. “Kalau yang duduk di atas brankar itu Araxi, dan yang sedang menatap ke arahmu itu Alex. Apa Kakak bisa membedakan antara aku dan Araxi?”
*****
“Tanpa kamu tanya pun aku sangat bisa membedakanmu dengannya,” jawab Leonard sembari melirik ke arah Araxi yang masih menatapnya dengan dingin. “Apa lukamu sudah membaik?”
Seakan mengerti justru Alexa pun menegur kembarannya sendiri, mengingat Araxi benar-benar menatap ke arah Leonard dengan tatapan yang sangat dingin itu. “Kamu kebiasaan sekali Ra. Jangan bersikap dingin dengannya,” tegur Alexa yang merasa heran dengan Araxi.
“Aku sangat tahu tentang tujuanmu datang kemari,” ucap Araxi dengan nada yang begitu dingin. “Mengapa baru sekarang mencari keberadaan kita? Selama ini ke mana saja kau dan Papa? Bahkan saat kami bertiga hampir di bunuh pun Papa tak bisa menyelamatkan kita bertiga, jika bukan Om Kevin yang menolong aku dan kedua kembaranku tak akan pernah bisa melihatmu kembali.”
Namun tidak dengan Leonard, mendadak lidahnya menjadi kelu tanpa berani menjawab dan membantah pertanyaan dari adik dinginnya itu.
__ADS_1
Dengan tatapan sendu Leonard pun memandang ke arah adiknya yang masih setia menatapnya dengan dingin, dengan terpaksa ia memberanikan diri maju ke arah gadis tomboi dingin tersebut, lalu ia menarik pelan tangan Araxi dan mendekapnya di dada bidang. Sembari menggumamkan kata ribuan maaf untuk adik kembarnya itu.
“Kamu tahu ada mengapa dulu Papa tak mengetahui jika kalian hampir di bunuh? Karena ada seseorang yang mengatakan pada keluarga Papa, bahwa kalian diculik dan juga tiba-tiba ada yang mengatakan mobil yang di kendarai penculik itu terlihat kecelakaan. Sehingga kami sangat terpukul kehilangan kalian, setelah kepergian Mama di tambah dengan kalian menyusul. Otomatis semua menganggap kalian mati, akan tetapi tidak dengan Papa dan aku yang saat itu masih kecil selalu percaya bahwa kalian masih hidup. Dan aku terpaksa membohongi diri supaya aku ingin lihat seberapa jauh orang itu melenyapkan Mama dan juga kalian bertiga.” Terang Leonard dengan jelas dan panjang, tanpa sadar air matanya menetes teringat kembali pada kenangan masa kecilnya tersebut.
Ketiganya yang mendengar penjelasan dari Leonard pun semakin mengerti dan memahami seseorang yang telah merencanakan semua itu ialah seorang yang mereka sangat kenal.
Sampai Leonard kembali mengatakan tentang pertemuan pertama kalinya dengan Araxi. “Lalu saat aku pertama kali bertemu denganmu. Aku merasa kamu sangat mirip denganku, di tambah dengan tatapan dinginmu mengingatkan tentang diriku. Sehingga aku meminta Theo untuk menyelidiki kalian bertiga, dan hasilnya di tempat ini kedua kali aku bertemu kembali denganmu dalam keadaan yang berbeda.”
“Lalu apa kamu merasa kesal saat melihat wajah tampanku Kak?” tanya Alex yang sedari tadi diam menyimak.
Dengan berdehem lalu berucap bahwa ia sama sekali tak pernah mempermasalahkannya, justru ia merasa senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan adik kembarnya tersebut. “Aku sama sekali tak pernah mempermasalahkannya, bahkan sejak kecil aku selalu ingat saat aku mengobrol dengan Mama. Aku mengatakan padanya aku tak masalah di kalahkan ketampanku, bahwa aku begitu sangat mencintai dan menyayangi kalian bertiga.”
__ADS_1
Berpindah tempat Leonard pun memeluk kedua adiknya dengan penuh sayang, sampai ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan kesal.
Karena ia merasa sedikit cemburu gadis yang di sukainya dipeluk oleh sahabatnya sendiri. Yang sialnya ternyata kakak kandungnya tersebut.