
Alangkah kagetnya saat ia juga merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya.
Menoleh ke arah belakang untuk memastikan seseorang yang menepuk bahu mereka, tanpa sadar bulu kuduk mereka berdiri dengan sendirinya.
Namun tak menemukan apapun, hal tersebut menarik perhatian Kevin yang sedari tadi hanya bisa berusaha menahan tawa.
Karena sejatinya tanpa seorang pun yang tahu, sejujurnya Kevin sempat mengetahui gerangan yang menjaga dan melindunginya.
Sebelum kembali dari hutan alam gaib itu, Kevin pun bisa melihat pocong tersebut.
Meskipun hanya terbatas sementara, dan kini ia bisa menebak siapa orang yang membantunya itu.
Pocong tersebut semakin gencar menggoda mereka, sehingga dengan terpaksa ia harus menunjukkan wujud aslinya di depan para preman-preman itu.
“Ciluk ... Ba!” tentunya wujud asli yang ia tunjukan pada preman-preman tersebut membuat dua orang preman yang tengah menodong senjata itu terkencing-kencing di celana.
Sampai mereka melemparkan senjatanya, untuk bisa menghindar dari seorang pocong yang membuat mereka merasa takut.
Sementara bos preman tersebut tengah mengumpati kelakuan dari anggotanya, saat ia berusaha membongkar isi dari dalam mobil yang mereka sita itu.
Tanpa sengaja di kejutkan dengan suara teriakan dari anggotanya.
“Bos,” suara panggilan itu membuyarkan konsentrasi dari bos preman itu. “Ada apa memanggilku?”
“I–itu bos a–ada p–po–cong di sana,” ucapnya dengan suara terbata-bata anggota preman tersebut memberitahukan tentang kemunculan sesosok yang terbalut kain kafan putih itu pada bos mereka.
“Kalian jangan bercanda,” hardik bos itu dengan kesal. “Kalau sampai kalian membohongiku, jangan sampai a–a ...” tanpa sadar bos preman tersebut langsung berlari terbirit-birit, setelah secara tak sengaja melihat sesosok yang di sebut oleh anggotanya.
__ADS_1
Lalu kemudian di susul pingsannya anggota dari preman-preman tersebut.
Yang mana mereka mendapat cibiran dari si pemilik mobil, yang mana mobil tersebut hendak di ambil oleh preman tersebut, akan tetapi dengan cepat pocong itu mengagalkan rencana mereka.
“Dasar badan segede gaban, baru bertemu hantu sudah langsung tepar begini,” cibir Kevin sembari mengambil kunci mobil yang tergeletak sembarang arah.
Kemudian sorot mata Kevin pun menjadi datar, tentunya sebagai seseorang yang ingin dilukai oleh para preman-preman itu, Kevin pun tak tinggal diam.
Sebelum para preman bangun dari pingsannya, dengan cepat ia meninggalkan mereka seorang diri, tentunya ia mencari tempat yang paling aman untuk beristirahat sejenak. Sembari menunggu putrinya, dan juga ketiga kembar untuk kembali dari misinya kali ini.
Sementara itu di tempat desa itu, masih dengan ketiga kembar dan juga Ivone tengah berjalan ke arah tempat yang tunjuk oleh arwah hantu Sumarni, membuat salah satu diantara ketiga kembar tersebut, mengumpati kelakuan dari preman-preman yang ingin melukai seseorang yang berharga bagi seorang gadis yang sedang tersenyum didepannya itu.
Dengan wajah datar nan dingin itu, Araxi berusaha memanggil Albert dan Angel. Semenjak sekembalinya dari hutan tersebut, ia sama sekali tak melihat keberadaan dua arwah yang selama ini selalu berada disisinya.
Seperti biasa tanpa dipanggil oleh dirinya, Albert pun datang dengan sendirinya. Bahkan Albert cenderung datang menemui Araxi dengan sesuka hati.
“Kau dari mana saja?” tanya Araxi dingin melalui telepati batinnya dengan Albert. “Datang selalu saja seperti ini.”
“Aku ingin kau menjaga Om Kevin, dia sedang dalam perjalanan mencari tempat penginapan. Aku ingin kau dan Angel menjaganya, karena aku tak mau kejadian tadi terulang kembali,” sahut Araxi sembari menjelaskan tentang suatu kejadian yang menimpa Kevin.
“Apa tidak Angel dan pocong itu saja yang menjaganya Ra?” tawar Albert pada Araxi.
Entah mengapa Albert sedikit mempunyai firasat buruk terhadap Araxi, akan tetapi ia berusaha menepis rasa buruk yang menghinggapi hatinya.
“Tidak ... Kau dan Angel harus menjaga Om Kevin,” tolak Araxi dengan dingin.
Melihat sikap Araxi yang sedikit keras kepala, mau tak mau Albert dengan terpaksa menuruti keinginan dari sang pencuri hatinya. Mereka pun memutus komunikasi tersebut, diiringi menghilangnya Albert dan Angel dari hadapannya.
__ADS_1
Namun tanpa Araxi sadar saat Albert memikirkan kegelisahan yang tengah mencemaskannya, Alex pun secara tak sengaja mendengar melihat sebuah bayangan samar-samar yang menimpa saudari kembarnya tersebut.
Apa yang terjadi? Mengapa perasaanku mendadak tak karuan begini? Apa yang sedang aku lihat barusan? Batin Alex bertanya-tanya.
Karena tanpa Alexa duga, Alexa pun merasakan sesuatu yang sedang menimpa adik lima menit yang berbeda dengannya.
Namun tanpa Alexa menduga, ia dapat melihat dengan jelas bayangan Araxi yang tengah terluka bersimbah darah, akan tetapi Alexa tak dapat berbuat banyak. Ia hanya bisa berdiam diri, saat secara tak sengaja melihat dan merasakan apa yang dirasakan oleh Alex.
Tak lama kemudian keduanya pun mendapat teguran dari Araxi, karena Araxi menatap ke arah dua saudara kembarnya tengah berdiam sambil melamun. “Apa yang sedang kalian lamunkan?” tanya Araxi dingin.
.
.
.
.
.
Maaf ya cuman bisa up 2 bab
Karena aku kepalaku lagi pusing
Namun aku akan tetap usahain untuk up ya
Sekian terima gaji
__ADS_1
See you next time
Love you all sekebon rel sepur