
Di lain tempat, setelah sampai di markas tempat mereka berkumpul. Salah satu anak buah Marista yang mendapat tugas, untuk membunuh pengkhianat itu pun melakukan tugasnya, dengan meminta bantuan rekannya lain! Agar ia bisa melakukan tugas tersebut, tanpa ada kendala yang menghalangi jalan tugas itu.
Nyonya, mengapa anda memberi saya tugas seberat ini? Kalaupun memang benar, orang itu mengkhianati anda, dengan terpaksa saya akan membunuhnya. Sesuai permintaan anda, Nyonya!
Namun beberapa detik kemudian, ia pun tak sengaja bertemu salah satu orang yang dimaksud oleh, sang nyonya itu, dengan seringai yang tipis tersungging diwajahnya tanpa banyak kata ia pun melakukan tugasnya. Dan sebelum itu, ia meminta bantuan pada rekannya yang lain, agar mereka mau membantunya melakukan tugas tersebut.
Melangkah kakinya untuk menghampiri pengkhianat tersebut, dengan berpura-pura menanyakan perihal tentang penyelidikan, yang dilakukan oleh pengkhianat itu.
“Hei, kau dari mana saja?” tanyanya yang sedikit heran dengan pengkhianat itu.
“Mengapa harus bertanya, padaku! Tidakkah kau melihatnya dengan sendiri, aku baru saja keluar dari mana, tanpa harus menjawab pertanyaanmu itu!” jawab pengkhianat itu dengan tenang. “Lagipula bukankah, nyonya, memberiku tugas untuk menyelidiki tentang seseorang yang sedang, nyonya cari?”
__ADS_1
“Apa benar begitu, hm!” ejeknya dengan sinis. “Sebab, aku mendapat tugas lain dan ini atas permintaan dari, nyonya sendiri.”
“Sudahlah, aku malas meladeni ocehanmu itu.” tanpa merasa curiga, bahwa ia akan segera menjemput maut. Siapa lagi jika bukan, Marista Mayang yang berusaha membunuh dan menghilangkan jejaknya.
Setelah tak melihat keberadaan pengkhianat tersebut, dengan gerakan cepat ia pun mulai melakukan tugasnya, dibantu beberapa rekannya lain, ia berniat membunuh pengkhianat dengan meracuni ke dalam sebuah minuman yang akan diberikan pada pengkhianat itu.
Setelah berdiskusi dengan beberapa rekannya, yang bersedia membantu membunuh pengkhianat itu, ia pun bergegas pergi mengarah ke dapur, untuk membuatkan kopi. Agar pengkhianat tersebut mati mengenaskan sesuai dengan permintaan, sang nyonya.
Di dalam ruangan tempat khusus yang dilakukan oleh beberapa anak buah Marista Mayang, tengah melakukan suatu penyelidikan, ditambah dengan anak buah yang di anggap sebagai pengkhianat itu pun, telah mempersiapkan diri kemungkinan terjadi setelah ia berhasil melaporkan semua pada, Tuannya Kevin Morgan Adhitya.
Tanpa ia duga sebelumnya, maut pun telah datang menjemput, dan dirinya telah mempersiapkan diri sebelum waktunya tiba.
__ADS_1
Namun, tanpa semua orang yang menyadari, hanya dirinya seoranglah yang akan bersiap menyambut kematian tersebut, bahkan ia akan menyambut kematian itu dengan senang hati.
Selesai memberi rekan lainnya perintah, ia pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut, untuk membuat secangkir kopi, agar bisa menghilangkan penat yang mengganggu pikirannya.
Namun, tak disangka ia bertemu dengan rekannya itu, sembari membawa sebuah nampan berisi dua gelas kopi, yang masih mengeluarkan asap kepul.
Tanpa pernah ia duga kopi tersebut, telah berisi racun sianida, yang akan mengantarkannya ke tempat yang diinginkan oleh, sang nyonya tercinta.
“Kau, mau ke mana?” tanyanya sembari mengangkat nampan tersebut, untuk ia tawarkan pada pengkhianat itu. “Kebetulan sekali … Nih kopi untukmu, kau pasti sangat haus sekali!”
“Terima kasih atas kopinya,” ucapnya tanpa curiga. Lalu ia pun menyeruput sedikit kopi tersebut, tetapi beberapa detik kemudian kopi yang ia minum bereaksi di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Tuan Kevin, maafkan saya yang tak akan pernah bisa memberi laporan pada anda, hari ini terakhir kalinya saya mengabdi pada anda! Terima kasih, telah memberi saya kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari anak buah anda, Tuan. Maafkan segala kekhilafan saya di masa lalu!