Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama Antara Alexa & Theo


__ADS_3

Dari arah lain terdapat Kevin sang Papa yang tengah berlari dilorong koridor rumah sakit dengan berpacu.


Tentunya setelah mendengar kabar tersebut mau tak mau Kevin dengan cepat harus sampai menyusul putrinya ke tempat rumah sakit itu.


Namun sebelum itu saat berada dalam mobil, menyetir sembari menghubungi Andra yang tengah melakukan rapat, menggantikan dirinya yang tak bisa menghadiri rapat tersebut.


Begitu sambungan tersambung, dengan tergesa-gesa Kevin pun mengabari sahabatnya tentang kabar buruk yang menimpa Araxi. “Apa kau bisa membubarkan rapat hari ini sekarang Ndra?”


“Apa yang terjadi Vin? Maaf teleponmu baru bisa aku angkat, saat para dewan direksi memberiku izin.”


“Apa kau bisa menyusul ke sini sekarang Ndra?”


“Apa yang sedang terjadi Vin?”


Pertanyaan yang sama begitupun dengan yang Andra dapat mendengar nada panik dari sahabatnya itu.


Sementara pocong yang menjaganya masih tetap mengikuti langkahnya.


Bahkan pocong tersebut mencoba menerka, tentang kabar buruk yang diterima oleh Araxi.


“Ndra, maaf aku tak bisa mengatakan hal ini padamu. Nanti saat sampai aku akan meneleponmu kembali, apa kau bisa menyusul kemari Ndra?”


“Ada Theo yang telah aku minta menyusulmu ke sana Vin, kau tak perlu cemas. Saat bertemu nanti katakan padanya, untuk segera menghubungiku.”


“Baiklah kalau begitu Ndra, batalkan rapat hari ini karena aku tak ingin kau menjadi tak fokus.”


Tanpa merasa bersalah Kevin memutuskan panggilannya sepihak, dengan mengendarai mobil kesayangannya, ia terus berpacu hingga sampai tibalah mobil tersebut di halaman parkiran rumah sakit.


Menyusuri lorong koridor sama Kevin tertuju pada sesosok yang membuat pikirannya kalut, tentunya dengan deru napas yang tersengal ia pun merengkuh tubuh mungil itu dengan penuh sayang.


Namun Kevin tak menyadari sedari tadi pocong yang melindunginya itupun tiba-tiba menghilang, tentunya tanpa ada yang mengetahui ia kembali ke desa tersebut, untuk memastikan sesuatu.


Karena setelah mendapat kabar buruk yang tengah menimpa Araxi, besar kemungkinan makhluk kecil yang di sebut jenglot itu masih bisa lolos, untuk hal itulah pocong tersebut menyelidikinya dengan sendiri.


Beberapa jarak langkah dari arah Kevin yang tengah merengkuh tubuh putrinya itu.


Alexa pun terus memperhatikan seorang pria yang tiba-tiba datang menolong dan membawa saudari kembarnya ke rumah sakit ini.


“Sebenarnya kau itu siapa? Mengapa bisa tahu kalau aku, Kak Ivone, dan juga kembaranku ada di desa itu?” Pertanyaan ulang dari Alexa mengejutkan Theo yang tengah melamun.

__ADS_1


Dengan berdehem pelan, Theo pun menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban yang sama. “Aku datang ke sini atas perintah dari Ayahku.”


Manik mata mereka saling bertabrakan, entah mengapa tatapan mata tersebut seketika membuat detak jantung Alexa berdebar hebat.


Ia tak menduga bisa merasakan debaran yang tiba-tiba merasuki lubuk hatinya.


Ada apa dengan Jantungku? Mengapa bisa berdebar hebat seperti ini? Apakah ini yang di rasakan oleh Albert, saat ia dengan terang-terangan mencintai Araxi dalam diam? Batin Alexa bertanya.


Lain halnya dengan Theo, meskipun tertutup wajah datarnya, tak bisa dipungkiri. Bahwa ia juga merasakan debaran jantungnya sendiri, yang tiba-tiba berdebar sangat hebat.


Sejak pertama kali mata mereka saling bertabrakan, sejak itulah diantara saling memikirkan tentang jantung masing-masing.


Tak ingin gegabah Alexa pun kembali menetralkan jantungnya, untuk bertanya lagi pada pria itu.


“Apa kau kenal dekat dengan Om Kevin?” tanya Alexa sedikit gugup, seraya dagunya menunjuk ke arah Kevin yang tengah merengkuh tubuh putrinya itu.


“Tidak!” jawab Theo acuh. “Tapi Ayahku yang kenal dekatnya.”


Merasa kurang puas Alexa pun berusaha tersenyum, entah mengapa ia merasa sesuatu yang tak bisa diartikan.


Namun sebisa mungkin Alexa berusaha menutupi semua itu.


“Maaf aku tetap tak akan bisa mengatakannya padamu.” Dengan tegas Alexa menyembunyikan kejadian yang menimpa Araxi.


Obrolan keduanya pun diawasi oleh Alex yang sedari tadi hanya berdiam diri, saat mengetahui Alexa jatuh cinta pandangan pertama pada seorang pria yang datang dan menolong Araxi.


Mengapa kau bisa secepat ini jatuh cinta Sa? Kau malah berbeda dengan Araxi yang dicintai dalam diam oleh Albert pun sama sekali tak akan pernah peka dengan perasaannya sendiri. Lalu mengapa dirimu bisa sepeka ini, hanya tak sengaja bertabrakan saat bertatap mata. Hm, cintamu dan Araxi sungguh terlalu rumit! Batin Alex bermonolog.


Beberapa detik kemudian saat semuanya berdiam diri, pintu ruangan operasi terbuka dari dalam, keluarlah seorang dokter yang menangani Araxi.


“Apa di sini ada orang tuanya?” tanya dokter itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Kevin yang sedang mendekap erat tubuh putrinya itupun melepas dekapan dari putrinya tercinta, untuk menghampiri dokter tersebut.


“Saya pamannya dok,” jawab Kevin dengan lugas. “Lalu bagaimana dengan keadaan keponakan saya?”


“Luka robek dibahu pasien cukup serius, bahkan stok darah di rumah sakit ini semakin menipis. Pasien membutuhkan sekitar dua-tiga kantong lagi, akan tetapi golongan darah pasien juga sangat langka. Untuk itu kami membutuhkan golongan darah yang sama dengannya. Apa ada?” jales dokter Arif yang menangani Araxi.


Alexa dan Alex yang mendengar penjelasan dokter Arif mengerut kening, mereka berdua semakin penasaran dengan golongan darah masing-masing, untuk itu mereka kompak mendonorkan darahnya untuk Araxi kakak sulungnya tercinta, yang berbeda lima menit, sepuluh menit dari mereka.

__ADS_1


“Ambil darah saya dok,” ucap Alexa dan Alex dengan kompak.


Seketika dokter Arif itupun menolehkan kepala ke arah Alexa dan Alex, yang tengah mencemaskan keadaan Araxi.


“Kami berdua kembaran dari pasien anda dok,” sahut Alex yang secara tak sengaja mendengar pikiran dari dokter tersebut.


“Baiklah mari ikut saya ke dalam,” ajak dokter Arif tanpa menolehkan ke arah Alexa dan Alex yang tengah mengikutinya.


Saat Alexa dan Alex ada didalam, Kevin yang tengah melepas dekapan putrinya itupun menghampiri Theo yang tengah berdiam diri sembari melamun.


Tanpa berbasa-basi Kevin langsung menanyakan kedatangannya yang datang tiba-tiba, “Apa kau benar-benar anak dari Andra?”


Lamunan Theo buyar saat sebuah pertanyaan yang mengejutkannya, tanpa menjawab ia pun hanya mengangguk kepala, bahwa ia menyusul mereka atas desakan dari ayahnya tercinta.


“Ayahmu sudah menceritakan rahasia itu. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, bukan karena aku memisahkan mereka. Akan tetapi aku seperti ini, karena melindungi nyawa mereka dari kejaran mantan istriku. Sampai sini, apa kau paham?” Kevin pun dengan tegas memberinya peringatan untuk tetap menjaga rahasia tersebut.


Karena Kevin Morgan Adhitya tak akan pernah membiarkan Marista Mayang mantan istrinya membunuh kembali, seperti kejadian tujuh belas tahun yang lalu, saat ketiga kembar tersebut lahir ke dunia.


.


.


.


.


.


.


Mohon maaf baru nge up


Dua hari ini aku bener-bener mager


Tapi sekali lagi maaf ya bukan gak mau nge up


Karena aku lagi nyiapin naskah kejutan untuk kalian


Tetap dukung sampai akhir

__ADS_1


See you next time


__ADS_2