Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Perasaan Yang Saling Terhubung


__ADS_3

Apa yang di mimpikan olehnya menjadi kenyataan, sang mama tercinta telah beristirahat dengan damai. Setelah berjuang melawan maut demi bisa melahirkan ketiga adik kembarnya, yang sampai sekarang belum menemukan keberadaan mereka. Akibat penculikan yang telah di rencanakan oleh seseorang yang sangat ia benci.


Mendekati batu nisan tersebut kemudian meletakkan bunga kesukaan sang mama tercinta sambil menatap sendu, ingin sekali ia berteriak memanggil mamanya tercinta.


Bahwa ia terlalu lelah menjalani kehidupan yang semu ini, setelah sang papa menikah lagi atas desakan mendiang kakek dan neneknya. Kehidupannya menjadi hancur berantakan, kepingan kenangan dengan mendiang mamanya tersebut terhempas kan begitu saja, setelah datangnya seseorang yang telah menghancurkan dan mengganti posisi mendiang mamanya tercinta.


“Ma,” sapa Leonard sembari berjongkok serta tidak lupa mencium batu nisan itu dengan penuh kasih sayang. “Maaf baru datang menjenguk Mama! Apa kabarmu Ma di sana? Apa di taman yang pernah aku mimpikan itu Mama merasa nyaman? Apa di sana Mama merasa damai tanpa di sakiti? Jujur saja Ma, aku sangat lelah, aku sangat rapuh, serta aku sangat merasa tidak adil. Mengapa Ma! Mengapa Mama tega meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan yang pernah kita lewati? Bahkan sampai sekarang kematianmu terlalu banyak misteri yang belum sempat aku pecahkan, karena aku merasakan bahwa kematianmu sudah di rencanakan oleh seseorang yang kini telah menggantikan dan menggeser posisi Mama. Namun meski pun begitu orang itu tidak akan pernah bahagia atas penderitaan yang kita alami, ya Ma orang itu telah menuai apa yang dia tuai. Aku sendiri pun tidak akan pernah sudi mengakui dirinya sebagai penggantimu, karena sampai mati pun Mama tidak pernah tergantikan oleh siapa pun dunia ini. Karena aku tak akan menggantikan posisi Mama akan selalu melekat di dalam lubuk hatiku.”


Dengan berderai air mata yang menetes di balik kacamata hitam yang di pakai Leonard pun mencurahkan segala sesuatu yang terpendam di dalam lubuk hatinya selama ini.


Di depan makam mendiang mamanya tercinta itu Leonard pun berjanji sepenuh hati untuk segera bisa menemukan keberadaan adik kembarnya itu, karena jauh di lubuk hatinya ia menyimpan rasa rindu yang terpendam terhadap adik kembarnya tercinta.


Namun sesuatu tidak terduga itu pun terjadi, tanpa Leonard sadari kejauhan ada seseorang yang tengah merasakan kepedihan yang mendalam. Yang sialnya orang itu merasakan apa yang ia curahkan di depan makam mamanya tersebut.

__ADS_1


Dia adalah Alexa, yang secara tidak sengaja ia tiba-tiba merasakan perasaan rasa gelisah sekaligus kesedihan yang mendalam pada perasaan hatinya yang begitu resah.


Setelah semuanya selesai seperti biasa Leonard berpamitan di depan makam sang mama, untuk pulang ke apartemen miliknya. Karena sampai kapan pun ia tidak akan pernah menginjak kakinya di mansion tersebut yang mana di mansion milik sang papa ada seseorang yang sangat berkuasa atas segala yang dia dapatkan.


Bagi Leonard itu sendiri wanita itu hanya seorang parasit yang merusak kebahagiaan sang papa tercinta dengan mendiang mamanya tersebut.


“Ma, aku pergi dulu. Semoga ke depannya aku bisa menemukan keberadaan mereka, karena aku terus tidak berhenti mencari jejak mereka yang hilang di telan bumi.” Ujar Leonard sambil berpamit di depan batu nisan Siska seorang yang sangat ia cintai dan sangat ia sayangi sepenuh jiwa raga.


“Kenapa kau aku panggil tidak menyahut, apalagi meninggalkan diriku pula,” protes Theo dengan gerutunya. “Apalagi aku ketemu mereka yang membuat bulu kudukku merinding Le! Kau tahu bukan aku datang ke tempat ini masih agak takut.”


“Sudahlah The jangan suka protes begitu! Itu kau yang salah sudah tahu kau bisa melihat mereka, masih saja mengikutiku,” cibir Leonard sinis.


“Sialan kau!”

__ADS_1


“Kembali ke apartemen sekarang!” perintah Leonard tegas. “Suruh orang-orangmu untuk mengawasi keadaan mansion, aku tidak mau terjadi hal buruk menimpa papaku.” Leonard juga memberi tugas untuk orang-orang Theo, guna bisa mengawasi dan memantau keadaan mansion.


Setelah beberapa tahun ia tidak tinggal bersama dengan papanya di mansion yang selalu terkenang dengan mendiang mamanya tercinta.


“Apa ada lagi hal lain Le, yang ingin kau sampaikan kembali?” tanya Theo.


“Tidak!” jawab Leonard acuh.


Memastikan telah aman, mereka pun meninggalkan pemakaman tersebut menuju apartemen milik Leonard yang di tempati oleh dua orang bersahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil.


Di tempat Alexa dan Alex berada, dengan mereka tinggal sedikit lagi untuk sampai di rumah sederhana yang menjadi tempat persembunyian mereka dari incaran ibu tiri mereka yang telah gagal membunuh mereka bertiga sekitar tujuh belas tahun yang lalu.


Namun langkah Alexa tiba-tiba berhenti, tak kala ia merasakan perasaan yang tidak menentu. Perasaan gelisah, sedih menjadi campur aduk. Setelah ia mendengarkan suara seorang pria yang tengah berkeluh kesah di atas sebuah batu nisan dengan sejuta kerinduan yang tersirat di dalam dada.

__ADS_1


__ADS_2