
“Jadi kau yang mengambil semua yang pernah tertanam pada tubuh wanita itu?” sahut Albert. “Tapi aku tak yakin dia tak berhasil melakukannya. Kau tahu bukan mata hatinya telah tertutup oleh rasa kebencian yang besar, hal itu pastinya akan di manfaatkan oleh dukun lain yang berambisi sepertinya.”
Albert berkata seperti itu karena ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sifat dan sikap yang tertanam pada diri seorang wanita yang berambisi, yang tak lain tak bukan Marista Mayang.
Yang sialnya wanita yang benar-benar sangat berbahaya.
“Oh iya kau sendiri yang harus hati-hati dengannya,” peringat Albert. “Karena aku sangat tak yakin kalau dia tak akan melenyapkanmu. Karena kau telah gagal melakukan tugasmu.”
Setelah mengatakan itu pada sang dukun tanpa terduga Albert pun menghilang, meninggalkan sang dukun itu dengan penuh tanda tanya.
Kemudian saat Albert menghilang, dukun tersebut memanggil makhluk hitam yang telah menjadi kesayangannya itu memberinya sebuah pesan permintaan untuk melindungi sesuatu yang berhubungan dengan wanita yang pernah ia coba bunuh itu.
Setelah di rasa cukup, sang dukun tersebut sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi amarah dari wanita yang mencoba melenyapkannya.
‘Maafkan kakek Theo! Sepertinya kakek tak dapat menemuimu kembali. Akan tetapi kakek selalu menyayangimu, meskipun kakekmu ini mendatangi lewat mimpimu.’ Bisik sang dukun tersebut dengan tenang seraya menyembunyikan kegundahan hatinya.
Yang mana sampai kapan pun, baik sang dukun tersebut dengan sang cucu tak dapat bertatap muka selamanya.
*******
Di sebuah jalanan yang ramai dengan mobil mewah kesayangan Kevin Morgan Adhitya yang di kendarai oleh Andra tersebut.
Tengah membelah jalanan yang ramai, tempat di mana ia akan menemui sang ayah tercinta.
Saat ia tengah membelah jalanan. Tiba-tiba deringan panggilan masuk ke dalam ponselnya, tanpa melihatnya ia pun sudah mengetahui siapa yang telah menghubunginya.
Yang sialnya ia tengah mengendarai mobil tersebut sembari mengumpati anak buahnya yang tengah mengganggu konsentrasinya.
Mau tak mau ia pun akhirnya mengangkat panggilan tersebut sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan yang ramai tersebut.
“Kalau tak ada berita penting untukku. Jangan pernah menghubungiku kembali, cepat apa yang kau katakan padaku?” sapa Andra tanpa berbasa-basi sembari bertanya.
“Permisi bos ... Saya ingin melaporkan sesuatu yang berhubungan dengan tuan Kevin,” sahutnya dengan nada serius dari arah seberang telepon.
Bola mata Andra membulat tak kala mendengar laporan yang di sampaikan oleh orangnya tersebut.
“Cepat katakan!” desak Andra dengan tak sabar sembari tetap fokus menyetir.
“begini bos menurut mata-mata yang saya susupkan di tempat tuan Kevin berada. Saya mendapat sedikit laporan dari pantauan kamera yang terpasang di kediaman tuan Kevin, bahwa tuan Kevin sendiri sudah bisa berjalan kembali bos.”
Ujar di seberang telepon dengan tenang.
“Lalu apakah ada orang lain lagi selain kau yang mengetahui hal ini?” tanya Andra untuk memastikan laporan yang sedang ia terima dari anak buahnya tersebut.
__ADS_1
“Hanya saya yang mengetahuinya bos, itu pun melalui kamera yang terpasang di tiap titik kediaman tuan Kevin,” ujarnya seraya menjelaskan tentang pantauan yang selama ini di lakukan oleh Andra melalui anak buahnya itu, untuk melindungi tuannya tersebut.
“Aku memintamu untuk segera menyembunyikan perihal kesembuhan tuan Kevin. Kau juga tak perlu membahas apa pun pada yang lain, tutup mata telingamu. Jika kau sampai hal ini bocor, maka aku akan meledakkan kepalamu. Kau mengerti dengan semua yang aku katakan!”
Sahut Andra dengan nada perintah seraya mengancam pada anak buahnya itu.
“Kau tunggu kabar dariku. Jangan lakukan apa pun, agar apa yang selama ini aku lakukan tak terlacak oleh wanita itu.”
Tanpa menunggu jawaban lagi panggilan yang terhubung tersebut terputus secara sepihak dan membuat emosi Andra semakin memuncak, tak kala mendengar laporan dari anak buahnya.
Bahwa selama ini tuannya tersebut kehidupannya sangat tersiksa sejak menikah dengan wanita yang sangat ia benci itu.
‘Apa yang terjadi denganmu tuan? Hm kau sungguh wanita berhati iblis. Tapi tak masalah karena sampai kapan pun, kau tak akan pernah mendapatkan apa yang kau mau. Maaf juga untukmu tuan aku lari membawa semua asetmu bukan untuk aku nikmati, akan tetapi aku melindunginya dari tangan wanita yang menjadi istrimu istri. Aku sangat yakin kau telah menyesali semua yang kau lakukan itu, bertahanlah tuan. Setelah aku menemui ayahku, kau yang akan aku jemput dari neraka dunia yang di ciptakan wanita itu untukmu.’ Bisik Andra dengan yakin.
********
Sore hari pun datang menyambut, seperti yang di lakukan oleh Raymond yang masih setia dengan beberapa berkas dengan di temani oleh sang istri tercinta.
Yang mana sang istrinya tersebut terlelap setelah kelelahan, akibat melayani tubuhnya yang bagai candu.
Meskipun sang istri tengah hamil kembar anak mereka, namun kecantikannya tak pernah luntur oleh waktu.
“Maafkan aku sayang. Aku sangat tak tahan untuk tak memakanmu, karena tubuhmu bagai ganja yang membuatku selalu mabuk kepayang” bisiknya dengan lirih sembari berbisik pada bayi mereka. “Maafkan papa juga ya sayang!” sahutnya kemudian serta tak lupa mengusap perut sang istri yang semakin membuncit.
Dengan tentunya sang putra sulung mereka, Leonard tengah menunggu kedatangan mereka di mansion.
Karena tak tega melihat sang istri kelelahan, dengan terpaksa Raymond menggendong istrinya tersebut menuju arah lobi gedung kantor miliknya.
Yang mana mobil miliknya tersebut, di kendarai oleh sopir pribadi milik istrinya tercinta.
“Langsung jalan ya pak!” perintah Raymond pada sang sopir.
Tanpa menjawabnya sang sopir tersebut melajukan mobil yang di sopiri olehnya menuju mansion milik tuannya, tempat ia bekerja pada tuannya tersebut.
Selama dalam perjalanan pulang ke arah mansion, Raymond tak henti-hentinya memandangi wajah cantik sang istri dengan penuh cinta.
Namun tanpa Raymond sadari, tak ada siapa pun yang dapat mengetahui.
Bahwa kebahagiaan Raymond dengan sang istri di hancurkan oleh seorang wanita yang selalu berambisi untuk melenyapkan dan memiliki dirinya.
Sementara itu setelah mobil yang di tumpangi oleh Raymond menghilang dari pandangan gedung kantor miliknya.
Dari arah lain muncullah sebuah mobil lain.
__ADS_1
Yang mana mobil tersebut di tumpangi oleh tiga anak buah kepercayaan Marista Mayang, yang memanglah memberinya perintah untuk membantunya melenyapkan dukun tersebut.
“Apakah ini gedung kantor yang di katakan oleh nyonya?” tanya salah satu orang yang berada dalam mobil itu.
“Bukankah nyonya sudah mengirimkanmu alamat lokasi untuk menjemput beliau!” jawab lainnya sembari menghisap rokok untuk menghilangkan rasa bosan.
“Tapi mengapa nyonya ingin meminta di jemput? Bukankah lebih baik kita yang bekerja tanpa harus melibatkan nyonya!” tanya anak buah Marista yang memegang kendali sopir.
“Sudahlah kau seharusnya paham, bahwa kita bisa hidup seperti atas kendali nyonya. Kau tahu bukan sebenarnya aku selalu ingin di sisi tuan Kevin, tapi aku tak bisa melakukan hal itu. Pasalnya nyawa keluargaku menjadi taruhannya, mau tak mau aku siap atau tidak. Bahwa hidup yang aku lakukan untuk nyonya sendiri, lalu bagaimana dengan kalian sendiri?”
Ungkap salah satu temannya, yang mana hidupnya telah di kendalikan oleh Marista Mayang.
Kedua orang tersebut kompak mengangguk.
Apa yang di katakan salah satu darinya memanglah kenyataan, bahwa mereka tak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang Marista Mayang.
Sekalipun mereka berkhianat pada sang nyonya, maka kematian yang datang menghampiri mereka.
“Lebih baik kita tak perlu membahas apa pun mengenai hal ini,” sahutnya membuka obrolan sembari memperingati. “Apa nyonya sudah menghubungimu kembali?”
Keduanya pun kompak menggeleng.
“Kita tunggu kabar dari nyonya.”
Beberapa menit kemudian sang nyonya itu pun menghubungi salah satu dari mereka, serta menanyakan persiapan yang akan di lakukan oleh nyonya mereka dengan mereka itu sendiri.
“Halo,” sapanya pada seberang telepon.
“Kau dengan rekanmu ada di mana?” tanya Marista Mayang.
“Saya ada di beberapa meter dari gedung kantor itu nyonya,” jawabnya sembari memperhatikan gedung kantor tersebut.
“Ya sudah tunggu di sana. Jangan pergi ke mana-mana, sebelum aku memerintahkanmu.”
“Baik nyonya! Apa ada lagi yang ingin di sampaikan?”
“Apa kau pernah datang ke dukun?”
“Maaf nyonya kalau untuk itu saya tak terlalu paham, nanti akan saya tanyakan ke rekan saya.”
Tanpa menjawab kembali panggilan tersebut di putuskan secara sepihak oleh nyonya tersebut.
‘Dukun ya!’ beonya dengan berbisik pelan.
__ADS_1
Memijit pelipisnya yang seraya berdenyut itu, dengan terpaksa ia menyampaikan maksud dari nyonyanya pada rekannya yang tengah asyik dengan dunianya.