Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Di Bawah Alam Sadar Araxi Bertemu Kakek & Mama Tercinta


__ADS_3

Tak di sangka hal tak terduga pun terjadi begitu cepat, jenglot yang tengah di genggam oleh si pemiliknya sendiri itu pun, menyerang balik dan menggigitnya sambil menghisap darah di tubuh pria paruh baya tersebut.


“Alex cepat tangkap makhluk itu,” titah Alexa dengan panik.


Alex pun mendengus tanpa banyak kata berjalan menghampiri sesosok jenglot yang tengah menghisap dan menggigit Tuannya itu.


Namun siapa yang dapat menduga bahwa jenglot tersebut menghalanginya dengan melempar tubuh Alex, sehingga membuatnya tubuhnya terpental beberapa meter dari jarak Alexa berdiri.


“Uhuk ... Uhuk ... Aku tak bisa menangkapnya Sa,” keluh Alex sambil berteriak. Dia sangat agresif dan berbahaya, pantas Araxi sampai tak menyadari kalau darah di tubuhnya telah di tandai. Jangan-jangan tubuh Tuannya juga seperti itu? Sialan kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku dan Alexa tak dapat menyelamatkan orang itu.


Sambil mengumpat kesal Alex pun saat ini pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena tubuhnya menjadi remuk, akibat hantaman kekuatan dari makhluk kecil tersebut.

__ADS_1


*******


Sampai Araxi menyadari beberapa jarak langkah tak jauh darinya terdapat seseorang yang tengah menghampirinya sembari tersenyum simpul. “Tempat yang sangat indah bukan?” kata orang tersebut sembari menunggu reaksi dari putri sulungnya itu.


Araxi pun tak menjawabnya dengan tatapan dingin itu, tak membuat Araxi luluh.


Karena ia masih belum bisa menerima dan memahami kepergian dari seseorang yang begitu sangat ia rindukan sejak dulu, sebelum Araxi mengetahui semua yang telah terjadi pada ke dua orang tuanya.


“Ternyata kamu memang benar-benar jelmaan Raymond versi muda. Tampan, gagah, datar nan dingin itu terbalut dalam dirimu!” ucap Siska dengan lembut. “Apa yang membuatmu datang menemuiku di sini? Kamu belum waktunya datang sayang.”


“Kau sangat begitu merindukanku rupanya,” canda Siska sembari terkekeh pelan. “Apa kamu masih belum bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian Mama Araxi?”

__ADS_1


“Mengapa harus meninggalkanku, Alexa, Alex, Papa, dan juga Kak Leonard? Apa Mama sudah tak mencintai kami semua?” tanya Araxi dingin.


“Ara,” suara lembut nan mendayu milik Siska berusaha menenangkan putrinya yang tengah mencecarnya dengan todongan banyak pertanyaan. “Apa yang terjadi telah pada Mamamu ini sudah menjadi garis takdir yang harus Mama terima. Akan tetapi bukan berarti Mama tak mencintai kalian lagi, cinta Mama tetap abadi di hati kalian masing-masing.”


Terang Siska dengan lembut, sembari jemari lentiknya membelai punggung milik putrinya tersebut.


“Apa kamu masih ingin merajuk sayang?” tanya Siska sambil meledek putrinya tercinta. “Bagaimana rupa wajah Alex sayang? Apa dia lebih tampan dari Papamu, bahkan juga pasti Leonard kalah tampan darinya.”


Karena terlalu malas Araxi pun tak menjawab pertanyaan dari sang Mama tercinta, sampai netra manik matanya menangkap ke arah seseorang yang tengah menghampirinya.


Entah mengapa dia sangat sulit berpisah dengan Mamanya yang tengah mendekap erat tubuhnya yang sedikit kekar itu.

__ADS_1


“Sis kau tak mengajakku memeluk cucuku ini hm?” tegur seorang pria tua pada Siska sang Mama tercinta.


“Dia sedikit merajuk Pa. Jadi aku harus menenangkannya terlebih dahulu, padahal kita sering lihat sendiri bukan. Kalau cucu Papa satu ini benar-benar jelmaan dari Putramu Raymond,” ujar sang Mama pada pria tua itu. “Dia sudah setinggi melebihiku Pa. Dan juga aku heran dia ini perempuan, mengapa tubuhnya bisa sedikit kekar begini.” Kemudian Siska pun mulai mengeluhkan keadaan Araxi.


__ADS_2