Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Flashback 17 Tahun Yang Lalu Bag III


__ADS_3

...Halo readers yang tercinta mohon maaf ya ini flashback nya masih ada bagian lagi kalau gak suka silakan skip aza....


...makin penasaran bukan siapa di antara ketiganya yang merasakan cuplikan flashback ini?...


...coba tebak dong di komen...


...hihihi jangan lupa ya siapkan bunga ataupun kopi bila masih ingin lanjut eps part selanjutnya...


...see you next time...


...love you sekebon cabe...


...jangan lupa like Vote...


“Dear, apa kamu yakin Theo bisa melakukannya. Kamu tahu bukan? Kematian yang di alami oleh Ayah mengguncang hati dan jiwanya, aku sangat menyesal tidak pernah mempertemukannya dengan Ayah. A—aku sangat ...” Sebuah jari telunjuk membungkam mulut Andra yang tengah mengoceh itu.


“Sudah ya jangan terlalu di pikirkan, ikhlaskan kepergian Ayah. Aku sangat yakin Ayah tidak akan pernah melupakanmu, hingga penghujung napas akhirnya.” Bisik Ella di depan bibir yang tengah ia bungkam dengan jari telunjuk miliknya itu.


Dengan berderai air mata, kemudian ia pun merengkuh tubuh sang istri tercinta, berusaha menerima semua yang telah terjadi pada Ayahnya tersebut. Ia berjanji akan selalu menyayangi dan mencintai dua orang yang tidak pernah lelah menemani dirinya, hingga seperti sekarang ini.


Selang beberapa menit kemudian lampu operasi berubah warna, menandakan operasi pada dua insan tersebut telah berhasil di lakukan dengan sang ibu yang telah menghadap Sang Kuasa Illahi. Meninggalkan ketiga bayi kembar dua wanita cantik, serta satu pria tampan.


Keluarlah dokter yang menangani operasi keduanya, serta tidak lupa juga ia menyampaikan berita duka yang mendalam tentang kabar yang menyatakan bahwa ibu dari ketiga bayi kembar tersebut tidak dapat tertolong.

__ADS_1


Ceklek ...


“Apakah Anda keluarga pasien?” tanya Dokter itu.


“Bukan dok, suami saya yang membawa mereka kemari,” jawab Ella. “Lalu bagaimana keadaan mereka?” Ucapnya kemudian seraya bertanya balik.


“Mari ikut saya ke ruangan pribadi,” ajak dokter itu pada dua orang yang sedang bertanya pada dirinya. “Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan mengenai keadaan pasien masing-masing.”


Kemudian Andra dan istrinya telah tiba di ruangan pribadi milik seorang dokter yang menangani operasi sepasang suami istri tersebut.


“Mohon maaf saya harus menyampaikan berita duka pada kalian,” ucap dokter itu serius. “Salah satu pasien yang Anda bawa kemari meninggal dunia saat operasi pengeluaran bayi itu berlangsung, akan tetapi yang saya sampaikan keadaan bayi mereka selamat semua tanpa berkurang apa pun. Hanya saja mereka harus di tempatkan di inkubator untuk mendapatkan perawatan intensif, mengingat para bayi-bayi itu baru saja kehilangan seorang ibu.”


Dokter itu pun berkata dengan menjelaskan secara rinci kondisi ketiga bayi kembar itu, beserta ibunya tercinta. Yang mana mereka harus kehilangan ibunya sebelum mereka dapat melihat senyuman hangat dari sang ibu sebelum terlahir ke dunia.


Berdehem lalu berucap dokter pun membuka suara untuk menjelaskan secara detail tentang kondisi ayah dari ketiga bayi kembar itu. “Mohon maaf saya harus menjaga privasi pasien, akan tetapi operasinya telah berhasil kami lakukan. Kondisi pasien sendiri dalam masa kritis, semoga saja bisa melewatinya.” Ucapnya sembari menutupi keadaan asli dari Raymond yang tengah berjuang melewati masa kritisnya.


“Katakan saja dok kondisi sebenarnya,” desak Andra. “Saya tidak akan mengatakan hal ini pada orang lain dok, mengingat pasien yang dokter tangani itu rekan bisnis Tuan saya.”


Menghembuskan napas akhirnya dokter tersebut menjelaskan secara rinci tentang kondisi pasien pada dua orang yang sedang duduk di hadapannya tersebut.


“Jadi begitu ya!” beo Andra yang terdengar di telinga sang istri. “Baiklah terima kasih untuk penjelasannya, dokter tenang saja saya yang akan menjaga rahasia ini dari siapa pun. Termasuk keluarga pasien sendiri, lalu apa kami boleh menengok bayi mereka?” izin Andra pada dokter itu yang menangani operasi sepasang suami istri yang mengalami kecelakaan.


“Silakan Tuan dan Nyonya, hanya saja saat ini mereka belum bisa di lihat dari dekat.”

__ADS_1


Mendapat izin dari sang dokter yang menanganinya, dengan gerakan cepat Andra menarik lengan istrinya. Guna bisa melihat ketiga bayi kembar tersebut meski pun hanya lewat inkubator.


Saat sampai di tempat ruangan khusus bayi di rawat, mereka tak kuasa menahan tangis setelah melihat keadaan ketiga bayi kembar tersebut. Harus mengalami nasib yang sangat menyedihkan, sejak di lahirkan ke dunia. Tak ada satu pun dari mereka yang dapat mendengar suara lembut dari ibu yang telah berjuang melahirkannya.


Selesai menemui ketiga bayi kembar tersebut, mereka pun kembali ke tempat di mana ibu dari ketiga bayi tersebut menghembuskan napasnya.


Hingga beberapa menit kemudian setelah Andra dengan istrinya menjenguk ibu bayi kembar itu, dengan bergegas Andra menuju tempat sepi guna mengangkat panggilan yang tengah menghubungi dirinya.


Sesuai yang Andra duga dalang di balik kecelakaan tersebut memanglah ada seseorang yang tengah merencanakannya, setelah ia mendapati laporan dari orang-orang suruhan yang ia tugaskan. Guna menyelidiki penyebab kecelakaan itu, alangkah terkejutnya ia ketika mendengar laporan di dalam bagian mobil yang di kendarai oleh Raymond terdapat sebuah kayu jati.


Yang datangnya tidak tahu arah dari mana benda kayu jati tersebut berasal, untuk itu ia meminta pada orang-orang yang ia tugaskan untuk menjaga barang bukti tersebut agar tidak kembali ke tempat pemilik aslinya.


Sementara itu dari arah tempat lain di sebuah rumah sederhana yang di tempat oleh sang dukun, terdapat seorang wanita yang dengan setia menunggu hasil tugas yang ia berikan pada dukun di depannya itu. Lalu tak lama kemudian dengan tidak sabar wanita itu yang merupakan Marista Mayang mendesak dukun di hadapannya untuk memberikan sedikit laporan hasil kerja dari dukun yang ia beri tugas untuk mencelakai ke dua orang yang ada di dalam foto tersebut, berikut dengan salah satu di antaranya yang ia benci.


“Bagaimana apa kau berhasil melakukan tugasmu?” tanya Marista to the poin.


“Mereka sudah berhasil masuk ke dalam perangkap yang aku kirim, mobil yang di kendarai oleh pria yang kau incar itu mengalami kecelakaan. Karena aku memang sengaja membuat rem di bagian mobilnya menjadi blong, untuk wanita yang hamil itu sudah aku pastikan tewas di tempat berikut dengan bayi yang berada di dalam kandungannya.” Jawab dukun itu dengan berkilah dari laporan yang sebenarnya.


Karena dukun tersebut merasa sedikit ganjal dengan ketiga bayi kembar itu seharusnya ikut tewas bersama ibu yang mengandungnya, sekarang ia telah menemukan jawabannya. Ya dukun itu mengetahui fakta, bahwa ibu dari bayi tersebut mempunyai kemampuan yang tidak bisa di anggap remeh. Sekaligus bayi yang berada di dalam kandungannya di jaga oleh sesuatu yang tidak dapat di tembus oleh dirinya.


“Apa kau sudah memastikan laporan akurat yang barusan kau laporkan padaku ini?” kata Marista dengan bertanya. “Aku tidak mau mendengar laporan tentang seorang bayi yang selamat di lahirkan dari kecelakaan itu.”


“Bukankah bayi pria yang kau incar itu bisa menjadi anakmu kelak ketika kau menikahnya?” ujar sang dukun seraya mengejek wanita berambisi besar di hadapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2