
Pasti pada kangen ya?
Maaf baru bisa up karena kau lagi mengistirahatkan otakku yang tiba-tiba traveling 🤣🤣
Tenang saja untuk penikmat baca setia aku akan tetap mengusahakan alur ini sampai tuntas.
Oh iya aku mau promo sedikit kira-kira ada yang mau beli antologi cetakku enggak? 🤔🤔
Jika ada mau mendapatkan info harga silakan masuk ke dalam grup chat ku
Untuk mengetahui info dan judul buku antologi yang mau naik cetak
Sekian dan terima kasih
Love you sekebon rel sepur 🤣🤣
.
.
.
.
.
‘Jadi dia mantan suaminya? Kesempatan yang bagus, aku tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Bagaimana bisa dirinya menjebak Papaku dengan cara yang sungguh sangat menjijikkan!’ batin Leonard geram.
Sedetik kemudian bibir Leonard berkedut, ini kesempatan yang sangat bagus untuk mengorek informasi dari pria yang pernah menjadi suami dari ibu tirinya tersebut.
Melangkahkan kakinya dengan lebar berusaha mencapai pada seseorang yang ia sengaja temui itu, untuk melihat reaksi dari ibu tirinya.
“Selamat malam Tuan Kevin,” sapa Leonard santai tanpa memperdulikan ke arah ibu tirinya yang tengah melototkan ke arah dirinya.
Jangan di tanya bagaimana reaksi dari Kevin di buat takjub dengan anak dari rekan bisnisnya tersebut, dirinya pun bisa menangkap ada rasa tak suka di dalam diri dari seorang Leonard.
Yang memang sangat membenci seseorang yang telah membunuh orang yang sangat berarti dalam kehidupan Leonard Wesley Wiratmaja.
“Selamat malam juga Leo,” sapa balik Kevin. “Oh iya selamat malam juga Tuan Raymond.”
Kevin pun membisikkan sesuatu ke arah telinga sang putri tercinta, hingga pandangan putrinya tersebut jatuh pada sesosok yang selama ini ia rindukan.
Untuk memecahkan ketegangan dengan terpaksa Kevin pun mengajak Raymond mengobrol untuk membahas soal proyek yang sempat tertunda, sembari memenggam tangan putrinya yang tengah berkeringat dingin.
__ADS_1
Saat bertemu dengan seseorang yang telah menorehkan luka di hati putri kecilnya tersebut.
“Ada apa sayang? Bukankah kamu senang bila bertemu dengannya,” bisik Kevin lembut seraya manik mata menatap ke arah mantan istrinya tersebut.
“Aku ingin pulang saja Papa,” jawab Ivone sendu.
Tatapan sendu dari putrinya tersebut hanya bisa di rasakan oleh Kevin, bagaimana bisa dirinya membiarkan luka hati putrinya semakin bertambah.
Tak ingin melihat putrinya terluka lebih dalam, dengan lembut Kevin undur diri.
Untuk mengajak putrinya kembali ke mansion, sejujurnya Kevin bisa merasakan semua yang di rasakan oleh putrinya tercinta.
Perasaan terabaikan oleh seseorang yang dengan santainya tak menganggap keberadaan mereka ada.
Pandangan tersebut tak luput dari tatapan dingin Leonard, entah mengapa dirinya bisa melihat raut wajah sendu dari seseorang gadis yang sedari tadi hanya diam membisu.
‘Ada apa dengan gadis itu? Bukankah orang yang tengah duduk di sebelah Papaku, adalah ibu kandungnya?’ batin Leonard heran.
Seakan mengerti dengan perasaan gadis itu, Leonard pun memutuskan untuk membisikkan sesuatu pada sang Papa tercinta.
Agar dirinya bisa memberi ruang pertemuan antara ibu dan anak tersebut.
“Maaf Om aku mau mengantar Papa ke toilet sebentar, silakan mengobrol terlebih dahulu,” ucap Leonard seraya mendorong kursi roda.
“Mama,” panggil Ivone dengan mencicit sembari jemarinya berkeringat dingin.
“Aku bukan Mamamu, jadi berhenti memanggilku seperti itu,” sentak Marista dengan sarkas.
Apa yang di takutkan oleh Kevin pun terjadi, entah mengapa mantan istrinya ini begitu membenci darah dagingnya sendiri.
“Kau sama sekali tak pernah berubah Marista, dia hanya merindukanmu. Mengapa kau tak pernah mau melihatnya sedikit pun,” tegur Kevin dengan raut wajah yang dingin. “Bahkan kau memperlakukannya dengan cara tak adil, lihat gadis yang duduk di sebelahmu itu, Kau bahkan begitu menyayanginya.”
“Jelas-jelas aku begitu menyayanginya, karena darah di tubuhnya mengalir dari darah Raymond suamiku,” pekik Marista dengan tak terima.
“Mengalir darah Raymond ya?” beo Kevin dengan meragu. “Aku malah tak yakin kalau dia anak dari suamimu itu!”
“Brengsek, Sialan kau Vin! Apa maumu sekarang?” tanya Marista geram.
Tak ingin terlarut dalam menatap wanita yang pernah mengisi hatinya, dengan tatapan mata yang dingin pun.
Kevin memutuskan untuk tak menggubris pertanyaan dari wanita tersebut, hingga dirinya bisa merasakan tatapan luka dari putrinya tercinta.
Luka yang di torehkan dari seorang wanita yang sedang menatap putrinya dengan tatapan kebencian, tak ingin sang putri terluka.
__ADS_1
Kevin dengan bergegas mengajak putrinya, untuk pulang ke mansion, agar mereka bisa leluasa menangis bersama.
Setelah di rasa Kevin tak terlihat dari pandangan matanya, Marista pun bernapas lega sebisa mungkin dirinya tak terlalu gegabah dengan kehadiran masa lalunya.
Ya secara garis besar dirinya pun benar-benar membenci putri kandungnya tersebut, namun tanpa Marista sadari sejak tadi saat mengobrol dengan mantan suaminya.
Ada dua orang yang tengah menguping obrolannya dengan mantan suaminya itu.
“Wah, kejutan yang sangat luar biasa Papa,” ucap Leonard dengan puas.
“Apa sekarang kau benar-benar puas Boy?” tanya Raymond dingin.
“Sangat puas. Bagaimana mungkin aku tak puas, bila menemukan sesuatu rahasia besar yang di sembunyikan oleh istrimu itu Pa,” jawab Leonard seraya bibirnya menyeringai puas.
Raymond yang mendengar jawaban dari putranya itu pun ikut merasa puas, benar yang di katakan oleh Leonard. Ternyata dirinya menikahi mantan istri dari kolega bisnisnya itu, namun yang menjadi pertanyaan dari Raymond.
Mengapa rekan bisnisnya itu tak mempermasalahkan tentang pernikahannya dengan istri keduanya, apa yang sebenarnya di sembunyikan olehnya. Hal itulah yang saat ini mengganjal di benaknya.
Kembali lagi pada dua orang yang tengah membisu, tentunya saat ini yang mengganjal di benak Marista tentang mantan suaminya yang terlihat bugar seperti sedia kala.
Bahkan kakinya pun sudah bisa berjalan kembali, seakan-akan ada beberapa hal yang tak beres mengenai keadaannya tersebut.
Bukankah dulu dirinya yang membuat mantannya itu lumpuh, lalu sekarang mantan suaminya bisa berdiri dengan kokoh.
Lantas hal tersebut membuat darah mendidih, tentunya ia tak akan membiarkan rencana yang ia susun dari awal menjadi berantakan.
Mengingat mantan suaminya tersebut, pasti akan membawa berita yang sangat buruk untuk dirinya.
‘Apa yang telah terjadi dengannya, bukankah dulu dia duduk di atas kursi roda. Lalu mengapa dia bisa berdiri seperti sebelumnya?’ batin Marista bertanya.
Hingga tak lama kemudian, karena terlalu lama melamun sampai-sampai ia mendapat teguran dari putrinya tersebut.
“Ma,” panggil Prisilia. “Apa yang sedang Mama lamunkan? Bukankah kita di sini ingin buat Papa bertekuk lutut, mengapa Mama seperti bingung?”
“Ah, iya sayang maafkan Mama ya. Tiba-tiba Mama merasa tak enak badan sekarang,” jawab Marista berkilah.
“Jadi kita rencana Mama ini sepertinya akan gagal begitu Ma?”
Tanpa menjawabnya Prisilia pun bisa menebak, bahwa Mamanya tersebut tidak bersemangat dalam apa pun, sejak bertemu dengan seseorang yang membuat mengganggu pikirannya saat ini.
Tentu seseorang yang mengaku sebagai mantan suami dari Mamanya tersebut, tentang seseorang gadis yang usia jauh di atas dirinya.
Entah mengapa dirinya pun merasa ada tatapan sendu sekaligus luka dari gadis tersebut.
__ADS_1
‘Apa yang sedang di sembunyikan oleh Mama? Mengapa wajahnya itu begitu sangat mirip dengan Mama?’