
...“Sekalipun kalian bertemu, maka sejatinya ikatan darah kental kalian yang mengantarkannya bertemu di waktu yang tak pasti.” (Theo)...
.
.
.
.
.
.
“Maaf aku tak bisa mengatakan hal ini padamu,” ucap Theo datar. Meskipun aku baru saja mengetahui jika kalian adik Leonard, tetap saja aku tak akan mengatakannya pada kalian. Karena nyawa kalian sangat dipertaruhkan, bahkan dengan terpaksa aku harus menyembunyikan hal ini pada Kakak kalian yang tak lain sahabatku sendiri. Lanjut Theo membatin, tentunya ia tak menyadari bahwa Alex pun mendengar batinnya yang bermonolog itu.
Alexa yang mendengar nada datar itupun mengerucut kesal, entah mengapa ia sedikit kesal dengan ucapan yang terlontar dari pria yang membuat jantungnya berdebar hebat.
“Sudahlah Sa, jangan mengerucut begitu dong,” hibur Alex yang merasa gemas dengan kembarannya itu. “Jangan mengajaknya mengobrol lagi, biarkan berkonsentrasi di jalanan oke.”
Kening Alex menyerngit bingung saat tak mendapati Albert yang tiba-tiba hilang mendadak, padahal sedari tadi mereka satu mobil dengannya.
“Albert kenapa menghilang lagi?” tanya Alex pada Angel. “Bukankah tadi dia bersamamu?”
“Tanpa aku beritahu pun, seharusnya kau sudah memahami ke mana Kakakku pergi!” sahut Angel acuh.
__ADS_1
Tak ada obrolan kembali, sehingga selang beberapa jam kemudian sampailah mereka tiba di desa tersebut.
“Apa tak masalah mobilnya di parkir sembarangan di sini?” tanya Theo yang menatap ke arah desa yang sangat sunyi.
“Biar dia yang menjaganya,” jawab Alex sambil menunjuk ke arah pocong yang mengikutinya. “Karena setelah dari sini kita semua harus berjalan kembali, untuk sampai ke tempat Tuannya jenglot itu.”
Tanpa membantah sesosok pocong tersebut hanya bisa pasrah saat dirinya di minta menjaga sebuah mobil yang terparkir sembarang arah, tak ada yang menjaga mobil tersebut.
Sementara itu ketiganya memasuki desa tersebut, untuk segera menemui Tuan dari sesosok makhluk kecil yang tiba-tiba menyerang Araxi.
Di lain tempat di waktu yang sama, beberapa jam kemudian tibalah mobil kesayangan Leonard di parkiran rumah sakit tempat Araxi di rawat.
Dengan wajah dinginnya, Leonard pun berjalan melewati koridor rumah sakit sambil netra matanya bergerak mencari tempat Theo berada.
Namun ia tak menemukan keberadaan Theo, sampai netra manik matanya menangkap ke arah dua orang yang tengah berdiri tak jauh beberapa langkah darinya.
Alangkah terkejutnya saat Leonard mendapati dua orang tersebut di rumah sakit tempat berdiri, untuk memastikannya ia memberanikan diri menghampiri serta tak lupa menyapanya.
“Selamat siang Tuan Kevin,” sapa Leonard berbasa-basi.
Kevin yang tengah berdiri pun terkejut saat mendapat seseorang yang tengah menyapanya, akan tetapi sialnya orang tersebut merupakan Kakak dari Araxi yang tengah berjuang bertahan dari masa kritisnya.
“Ah iya siang juga,” sapa balik Kevin. “Mengapa kau bisa datang ke mari? Dari mana kau tahu alamat rumah sakit ini? Bahkan aku sendiri tak mengatakan hal apapun pada orang lain!” todong Kevin dengan banyak cecaran pertanyaan.
“Maaf mengganggu kenyamanan anda Tuan kevin. Akan tetapi saya datang ke tempat ini karena saya sengaja menyusul asisten pribadi saya Theo,” jawab Leonard segan.
__ADS_1
Sebagai seorang yang menyimpan rahasia besar tersebut, dengan terpaksa Kevin mengizinkan Leonard yang tak lain Kakak dari ketiga kembar itu, untuk tetap berada di dekatnya sebelum mantan istrinya mengetahui bahwa mereka telah bertemu dengan pertemuan yang tak terduga.
Leonard yang merasa sedikit tak beres dengan rekan bisnis Papanya itu, terpaksa menanyakan kedatangannya ke rumah sakit yang ia datangi.
“Tuan,” panggil Leonard yang sedang membuyarkan lamunan Kevin. “Kalau boleh tahu siapa yang sedang sakit?” tanya Leonard yang merasa sedikit cemas.
“Oh itu ... Keponakanku yang sedang sakit,” jawab Kevin sedikit gugup. Bagaimana ini? Apakah sekarang harus waktunya mengetahui rahasia itu? Sialan, kalau saja mantan istriku tak terlalu obsesi dengannya. Keluargamu tak akan menjadi seperti ini, bahkan putriku saja tak diakui olehnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bermonolog dalam hati, sembari menimbang keputusan yang harus Kevin ambil.
.
.
.
.
.
Sudah up ya ges
Jangan lupa dukung terus karya receh ini
Dengan memberi gift sebanyak-banyak
Tetap pantau alur yang tak bisa ketebak ya
__ADS_1
See you next time