
Seketika tubuh Alex menegang, bagaimana mungkin Araxi bisa mengetahui kemampuannya yang sangat misteri itu.
“Hei Ra kamu tahu dari mana kalau kemampuanku ini sangat misteri?” tanya Alex yang merasa heran dengan kembarannya. “Padahal aku tak pernah menggunakannya, jika sedang tak darurat seperti di desa itu.”
“Aku tak bisa mengatakannya padamu Lex. Intinya jika kamu ingin mengetahui hal lebih tentangnya, sebaiknya kamu gunakan saja kemampuanmu itu. Dan juga kamu akan menemukan sesuatu di sana.” Araxi pun harus memberinya pengertian untuk Alex sendiri yang saat ini masih tak mau menggunakan kemampuannya itu.
“Oke baiklah Ra aku akan menurut denganmu! Jangan lupa pesan dokter sebelum kamu tidur.”
Tanpa banyak kata keduanya pun berdiam diri, termasuk Araxi yang sedang tersenyum tipis saat melihat sebuah gambaran tentang pertemuan sang mama tercinta dengan putra sulungnya yang tak lain Kakak kandungnya sendiri.
Setelah ini aku berharap bisa berkumpul denganmu Kak. Sekian lama aku, Alexa dan Alex selalu menanyakan tentang jati diri kami masing-masing. Tanpa pernah berpikir bahwa kami bertiga masih mempunyai keluarga yang sangat hancur, akibat ulah dari seseorang yang menghancurkan kebahagiaan kita.
__ADS_1
Sementara Alex yang tengah menggunakan sedikit kemampuannya itu, tanpa sadar ia merasa miris saat mendengar suara batin dari kembarannya, yang mana ia mengeluarkan seluruh perasaan dan sakit hati itulah yang sedang di rasakannya.
Selesai dengan urusan masing-masing keduanya pun memutuskan untuk beristirahat, dengan kondisi Araxi yang masih berada dalam perawatan, dan juga keduanya pun telah mendapat suatu gambaran jika pagi harinya mereka akan dikunjungi oleh seseorang.
Hanya mereka sendiri itulah yang mengetahui seseorang yang akan melepas rindu dengan ketiganya.
******
Namun nyatanya mimpi yang ia alami bukti memanglah nyata adanya, dan hanya ia seorang diri yang mengalami mimpi tersebut.
“Mama! Apa aku barusan mimpi bertemu denganmu? Dan juga aku harap ini bukanlah mimpi kebetulan Ma! Jika wajahmu terus membayangiku,” gumam Leonard lirih sembari melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
__ADS_1
Yang menunjukkan sudah waktunya pukul delapan pagi, di tambah saat ini ia harus segera bertemu dengan adik kembarnya tersebut.
Mengingat ia sangat sedih melihat keadaan sang Mama tercinta yang memintanya untuk menjaga dan melindungi adik kembarnya, akan tetapi ia sendiri tak menyadari bahwa ketiga merupakan seorang yang sangat istimewa, dan di antara mereka itu pun mempunyai kemampuan yang sangat misteri.
Setelah Leonard selesai membangunkan Theo untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, dengan mata yang masih mengantuk sahabatnya tersebut menuruti permintaannya itu.
Sekarang baik Leonard maupun Theo masing-masing mengendarai mobilnya, melaju dengan sedang menuju ke arah tempat ketiga kembar itu berkumpul.
Selang beberapa menit kemudian mereka pun tiba di pelataran rumah sakit, dengan bergesa-gesa Leonard pun juga menyuruh Theo untuk menemui seorang dokter yang tengah melakukan tes DNA miliknya.
“Yo sebelum kau menemaniku, menemui ketiga kembar adikku. Kau datanglah ke ruangan dokter yang merawatnya, dan juga tanyakan apakah hasil tes DNAku sudah keluar atau belum.”
__ADS_1
Tanpa banyak kata mereka pun berpisah dengan Leonard yang berjalan ke arah kantin rumah sakit tersebut, dan juga tak lupa Theo yang berjalan berlawanan arah darinya.