
“Lalu kenapa kau bisa terjatuh ke dalam selokan itu? Apa kau hantu baru?” tanya Alexa pada sesosok itu yang di tolong oleh Angel.
Sosok yang berbalut kain kafan putih itu menggelengkan kepala, pertanda ia bukanlah hantu baru. Melainkan ada sesuatu hal yang membuatnya menjadi bergentayangan.
Sambil melompat-lompat sesosok tersebut, berusaha mendekati Alexa. Namun di cegah oleh Angel, karena Angel menyadari ada yang tidak beres pada tubuh Alexa.
“Hai kau stop di sana, jangan terlalu mendekat.” Tegur Angel pada sesosok putih yang sering di panggil pocong oleh beberapa orang yang menjulukinya.
“Kenapa aku tidak boleh berkenalan dengannya,” ucap pocong itu kesal sambil menunjuk ke arah Alexa.
“Tunggu dia siap bersedia berkenalan denganmu ya,” pinta Alex pada pocong tersebut.
Dengan menahan kesal karena belum bisa berkenalan lebih dekat pada Alexa. Pocong yang terjatuh dari selokan itu pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Bukan tertarik pada Alexa, hanya saja pocong tersebut merasa sedikit ingin menjaga Alexa yang masih belum bisa terbiasa pada keadaan di sekitarnya.
“Tapi apa boleh aku ikut dengan kalian?” tanya pocong itu sambil menawarkan diri untuk mengikuti Alex dan Alexa.
Sambil membatin masing-masing mereka pun menggerutu mengumpati kelakuan pocong yang tiba-tiba ingin sok berkenalan, sedangkan si pocong yang tengah melompat-lompat mengikuti langkah mereka tidak mengetahui ada yang lebih dingin dari kedua saudara kembar tersebut.
Dalam perjalanan menuju rumah, baik Alex maupun Alexa tengah memikirkan bagaimana cara Ara menyelesaikan urusan arwah penasaran tersebut. Apakah ia berhasil atau pun lainnya, itulah yang tengah mengganjal di benak mereka.
“Alexa,” panggil Alex dengan menghentikan langkah kaki. “Ara kenapa lama sekali?” tanya Alex sambil melihat ke arah pergelangan tangan yang terpakai sebuah jam rolex itu.
__ADS_1
“Entah, Aku pun sendiri tidak mengerti kenapa dia lama sekali.” Kata Alexa acuh, karena sebenarnya ia merasa tidak terlalu khawatir dengan keadaan saudari kembarnya itu.
Dan ia selalu yakin saudarinya itu mampu menyelesaikan urusan tanpa di bantu oleh siapa pun.
“Sudahlah Alex jangan membeban energimu, hanya untuk mengkhawatirkan Ara. Kamu tahu bukan, dia selalu bisa menyelesaikan urusannya tanpa di bantu oleh kita, sekarang fokuskan kondisi energi di dalam tubuhmu ini oke.” Alexa pun menegaskan suatu pada Alex, bahwa saudari kembarnya itu. Seseorang yang lebih tangguh, kuat, serta tidak mudah di singgung oleh siapa pun yang berusaha mencelakainya.
“Oke ... Oke ... Fine aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi,” putus Alex pasrah. “Kalau begitu apa kamu sudah siap untuk berhadapan dengan mereka Sa?” tanya Alex dengan raut wajah serius.
Seperti yang Alexa duga, bahwa Alex kini pun menyadari tidak siapnya untuk berhadapan dengan para hantu-hantu bukan karena takut atau pun lainnya. Akan tetapi ada di dalam dirinya yang tidak bisa di jelaskan oleh siapa pun, bahkan saudarinya itu tidak bisa menembus sebuah pertahanannya selama ini di jaga oleh Alexa.
“Maaf Alex bukan berarti aku merasa takut pada mereka, akan tetapi ada sesuatu hal yang tidak bisa aku jelaskan padamu. Apa kamu tidak keberatan?” jawab Alexa sambil bertanya balik pada Alex. “Bukan berarti aku tidak mau membantu kalian, dalam menyelesaikan urusan kalian dengan para hantu. Aku selalu berusaha untuk membantu, akan tetapi selalu saja tetap tidak bisa. Jadi jangan marah oke.”
Gelengkan kepala dari Alex menjelaskan padanya, bahwa ia tidak perlu merasa bersalah karena selalu gagal membantu mereka. Sekarang ini merekan pun menantikan kedatangan saudari kembarnya, yang mana Ara selalu di temani oleh Albert ke mana pun saudarinya itu berpijak.
Sementara itu di tempat mobil yang di kendarai oleh Theo tiba di sebuah pemakaman umum. Tempat di mana seseorang beristirahat dengan damai.
Sesuai apa yang di prediksi oleh orang itu, kini ia telah hidup damai di keabadian dengan meninggalkan ketiga kembar tersebut dengan sejuta kenangan yang tidak pernah terlupakan.
Bahkan ketiga kembar buah hatinya mempunyai kemampuan yang berasal dari seseorang di dalam diri masing-masing ketiga kembar tersebut.
Langkah kaki seorang pria dengan tatapan datar nan dingin itu sampailah di tempat sebuah batu nisan seseorang yang sangat berharga bagi kehidupannya.
Ia begitu menyesali atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya tujuh belas tahun yang lalu, hingga sampai saat ini ia sungguh tidak rela kematian yang di alami oleh mendiang sang mama tercinta terbayang-bayangi rasa bersalah yang begitu mendalam.
__ADS_1
Karena sebelum kejadian yang menimpa mendiang mamanya itu, ia selalu memimpikan sang mama pergi ke tempat suatu taman yang sangat indah dengan senyum dan wajah cantiknya bersinar terang.
.
.
.
.
.
.
.
.
...Minta vote kartu merah dong kalau gak ya kopi atau pun hati juga bisa bunga juga boleh...
...nanti mulai bulan depan aku usahain sehari up 4 bab...
...terima kasih sudah mau mampir membaca novel recehku ini...
__ADS_1
...see next time...