
Karena tanpa si Ibu sadari. Bahwa kedua anak gadisnya tersebut, mempunyai sifat dan sikap yang bertolak belakang dari aslinya.
Jika di hadapan dirinya akan terlihat lebih akur, namun tidak sangka berbeda jika sedang tidak di hadapannya.
Salah satunya akan menunjukkan sifat aslinya, yang selama ini tertutup secara rapi.
“Apa yang kamu khawatirkan Milah?” jawab wanita paruh baya itu dengan suara yang lembut namun terdengar lemah.
“Bagaimana dengan Juragan Dendi itu Bu? Bukankah beliau akan menagih hutang kita lagi hari ini,” adu Jamilah dengan wajah yang memelas.
Sumarni yang sedari tadi berdiam diri, hanya bisa menghela napas panjang. Adiknya ini selalu saja seperti ini, jika sedang bersama mereka.
Namun jika sedang tidak bersama ibu, ia akan menunjukkan sisi lainnya dan hanya dirinya yang mengetahui semua hal tersebut.
“Jamilah,” suara lembut Sumarni terdengar mendayu-dayu itu memanggil nama sang adik tercinta. “Kalau kamu sudah tahu keadaan Ibu seperti ini, lalu mengapa kamu suka membuat Ibu tertekan Milah?” tanya Sumarni lembut nan sarat makna penegasan dalam ucapan yang terlontar dari bibirnya itu.
“Apa maksudmu Kak? Siapa yang membuat Ibu tertekan,” jawab Jamilah berkilah.
__ADS_1
Namun saat Sumarni akan membuka suara, teguran nan lembut berasal dari ibu mereka membuatnya tak bisa berkutik.
Dengan pasrah Sumarni pun akhirnya mengalah, demi sang ibu yang sangat ia cintai dan sayangi.
Ya dengan kedua tangan dan kaki Sumarni itulah, bisa menafkahi ibu dan adiknya yang tersayang. Dari jerat hutang yang di tinggalkan oleh almarhum bapak mereka sebelum meninggal.
Hingga terpaksalah Sumarni yang menjadi tulang punggung untuk bisa menafkahi ibu dan adiknya tersebut.
“Sudahlah Mar, jangan seperti itu dengan adikmu. Ibu tidak apa-apa,” ucap Ibu Milah sembari terbatuk-batuk.
“Tapi Bu,” ucap Sumarni yang merasa lelah dan pikiran akibat ulah adiknya ini.
tanya sang ibu yang mengalihkan pembicaraan.
Menepuk keningnya sambil menatap jam dinding seketika membuat Sumarni mau tidak mau harus segera berangkat kerja. Guna bisa menafkahi kedua orang yang sangat ia sayangi itu tersenyum bahagia.
“Ya sudah kalau begitu Bu, Marni mau berangkat kerja dulu ya.” Pamit Sumarni pada sang ibu serta tidak lupa mencium punggung tangan ibunya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Sumarni pun meninggalkan rumah sederhana tersebut, untuk bekerja menghidupi keluarganya.
Agar dirinya bisa membayar sejumlah hutang yang di tinggalkan oleh mendiang Bapaknya, namun hal terduga justru sang Adik terus merongrong dirinya dengan alasan Adiknya selalu ingin terlihat tampil cantik di depan teman di kampung mereka.
Dengan senyum merekah di sepanjang jalan yang di lewati olehnya, Sumarni berusaha lebih kuat dan tegar. Demi bisa membuat sang Ibu tersenyum bersama, karena sejak di tinggal oleh Bapaknya.
Ibunya tersebut menjadi tulang punggung untuk mereka berdua, namun kini dirinyalah yang menggantikan tugas ibunya tersebut.
Sampailah Sumarni di tempat sebuah tempat kerja milik Juragan Dendi.
Untuk memulai aktivitasnya sebagai buruh kerja dengan gaji yang tidak seberapa, namun lagi-lagi Adiknya terus merongrong dirinya untuk memberikan seluruh gaji yang ia dapatkan dari hasil keringat tetes yang ia keluarkan.
Lamunannya seketika buyar saat salah seorang temannya menepuk bahunya, yang membuat dirinya menolehkan ke arah temannya tersebut dengan senyum merekah khas miliknya.
“Jangan suka melamun begitu Mar, nanti kau akan kena omel Juragan Dendi. Kau tak tahu ada salah satu pegawai yang secara tiba-tiba di pecat secara tak hormat,” tegur teman Marni yang menepuk bahunya itu. “Apa kau ada masalah lagi Mar?”
“Tidak ada Teteh,” jawab Sumarni sambil tersenyum.
__ADS_1
“Oh iya sudah kalau begitu Mar.” Namun kemudian temannya itu berusaha mengingatkan dirinya. “Mar, kau harus hati-hati bila berhadapan dengan Juragan Dendi. Jangan sampai kau membuat kesalahan ya, karena ada dua istrinya yang mempunyai tabiat buruk. Aku sama lainnya selalu mendapat teguran dari istri Juragan Dendi, jadi sebisa mungkin kau harus menghindari bahkan jangan sampai bertemu dengan mereka.” Peringatnya dengan sarat nasihat yang mendalam.
Karena rekannya itu tidak ingin dirinya mengalami nasib yang sama dengan rekannya yang lain jika sudah bertemu dua istri dari Juragan mereka.