
“Aku ingin kau menjaganya dengan baik, selagi aku tinggal dengan kembaranku ke desa itu!” titah Alexa pada pocong tersebut melalui telepati pikirannya.
“Kau tenang saja aku pasti akan menjaganya dengan baik,” jawab pocong itu dengan senyum menampilkan giginya yang hitam.
“Jangan tersenyum begitu. Lihatlah gigimu hitam semua,” omel Alexa dengan bergidik ngeri.
“Lalu aku harus bagaimana biar tidak hitam gigiku?” tanya pocong itu dengan polos.
Melihat kepolosan dari pocong tersebut, Alexa pun mendengus melihat kelakuan dan tingkah kepolosan dari pocong yang melindunginya.
“Kalau ada yang mencurigakan dan membahayakan, kau sendiri yang mengurusnya. Yang terpenting tugasmu menjaga dan melindunginya selama aku pergi!”
Setelah mengulang kembali kalimat yang dilontarkan oleh Alexa, ia pun memutus komunikasi tersebut.
Dengan perlahan mereka pun berjalan, meninggalkan Kevin seorang diri yang hanya di temani oleh sesosok pocong yang mana dirinya mendapat julukan pocong yang tersial.
Setelah tak melihat punggung putrinya itu, dengan masih bersandar di mobil kesayangan Kevin pun hanya bisa menghela napas gusar.
Sembari mengusap kasar wajahnya Kevin merasa sangat bersalah pada putrinya itu, tentunya sebagai seorang tua tunggal.
Ia merasa gagal menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi Ivone, tentunya luka hati putrinya tersebut tak akan pernah bisa terobati.
Namun ia bisa merasakan kehadiran Alexa, mampu membuat dunia putrinya yang di penuhi luka hati menjadi berwarna sejak ia mengenal bayi merah yang pernah ia tolong saat tujuh belas tahun yang lalu.
Pandangan sendu yang dilakukan oleh Kevin tersebut sedikit menarik perhatian dari pocong yang ditugaskan untuk menjaga dan melindunginya.
Pocong itupun hanya bisa menatapnya dan melakukan tugas yang di embankan oleh dirinya.
Kembali lagi pada ketiga kembar itu dengan di bantu oleh Ivone, mereka berempat terus berjalan memasuki desa yang cukup terpencil, dan juga desa tersebut tak terlalu bising seperti yang ada dikota besar.
“Apa masih jauh desanya?” tanya Ivone pada Araxi.
__ADS_1
Tanpa sadar Sumarni yang tiba-tiba muncul itupun secara tak sengaja mendengar pertanyaan, yang mana membuat Sumarni menjawab pertanyaan tersebut.
“Ini kalian berempat sudah seharusnya masuk ke dalam desa itu, lagi pula setelah kalian melewati perbukitan yang berkelok-kelo, kalian berempat nanti akan bertemu setapak rumah yang pernah aku tempati dengan Ibu dan Jamilah!” jawab Sumarni yang menjawab pertanyaan dari Ivone.
Ketiganya yang mendengar jawaban dari Sumarni itupun dengan kompak tak mengatakan apapun pada Ivone, karena sejatinya tugas yang melakukan tak seharusnya melibatkan Ivone.
Namun karena tak kuasa melihat kesedihan dan kerapuhan didalam diri Ivone, dengan terpaksa mereka mau melakukannya.
Serta juga mereka pun telah berjanji akan menjaga Ivone, sampai mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Sementara itu masih di tempat yang sama, dengan Kevin bersandar di mobil memutuskan untuk masuk ke dalam mobil kekasayangannya, untuk menghubungi Andra dan juga untuk menghubungi pihak sekolah dari ketiga kembar tersebut.
Meminta izin untuk si kembar yang secara tak sengaja terpaksa harus membolos di pelajaran pertama mereka, dan juga menghubungi Andra karena ia akan izin dari rapat di kantornya.
Karena ia akan meminta Andra dan menyuruhnya untuk menggantikannya di rapat kali ini.
Mengambil ponsel dari dasboard mobilnya kemudian menekan sebuah nomor yang tertera yang berada di ponsel tersebut, sehingga selang beberapa menit kemudian sambung telepon tersebut di angkat oleh Andra.
“Bagaimana dengan rapat kemaren Ndra?” tanya Kevin to the poin.
“Nanti aku mengirim kembali berkas rapat kemaren di emailmu,” jawab Andra ketus. “Kali ini ada apa? Aku merasa kau meneleponku bukan menanyakan hal lainkan?” dengan sengaja Andra memberi Kevin pertanyaan balik yang di tujukan untuk atasannya tersebut.
Tak lama kemudian Kevin pun tanpa sengaja untuk tak kuasa menahan tawa, tanpa secara tak sengaja akhirnya Kevin pun bisa tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan balik dari Andra.
“Aduh kau itu Ndra mengapa sensitif sekali,” sahut Kevin sembari memegangi perutnya yang sedikit kram. “Ndra apa kau bisa menghubungi pihak sekolah si kembar tiga ini,” pinta Kevin dengan nada yang serius.
“Apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa bisa lama berada di desa itu? Seharusnya kan kau sudah ada dan di duduk seperti biasa di kursimu itu!” todong Andra dengan cecaran pertanyaan yang di tujukan untuk Kevin.
“Kau ini cerewet sekali Ndra,” omel Kevin dongkol. “Lakukan permintaanku ini Ndra. Apa kau tahu pemilik asli sekolah itu, merupakan Raymond rekan bisnisku sekaligus orang tua kandung dari si kembar tiga itu.”
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Sudah up lagi ya ges ini sudah 3 bab yang aku up hari ini
Oh iya sekedar mengingatkan karena aku mau deadline buat cetak solo
Maka besok aku libur up dulu ya
Karena aku buat nyicil naskahku yang mau aku revisi dahulu
Eits tapi tenang saja jangan cemas
Seperti biasa insha allah pasti aku up bab nya menjadi 3 kalau mood bagus bisa jadi 4 bab
Gimana senang gak?
Pastinya senang dong
Jangan lupa ges kopi sama kembang aku tunggu 🥰🥰
Sekian terima gaji
__ADS_1
See you next time
Love you all sekebon rel sepur 🤣🤣