Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Menolong Hantu Arwah Sumarni & Terungkap Petunjuk Tentang Kematian Mama Leonard


__ADS_3

Mendapat sebuah teguran dari nada dingin itu, membuat sesosok makhluk tak kasat mata tersebut terkejut bukan main. Makhluk itu tak menyangka bisa bertemu dengan seorang manusia yang tak takut saat pertama kali bertemu dengannya.


“Siapa sebenarnya kau?” Tanyanya dengan tak menjawab teguran nada dingin itu. “Mengapa kau tak takut denganku?”


“Sudah aku katakan bukan, aku tak pernah takut pada siapa pun kecuali Sang Pemilik Alam Semesta ini hanya itu yang aku takutkan.” Ucap Ara sarat makna tegas dalam perkataan yang di lontarkan oleh dirinya.


“Apa kau ingin kembali ke tempat asalmu? Seharusnya tempatmu bukan ada di sini! Pasti ada yang membuatmu tidak bisa tenang. Aku benar bukan?” todong Ara dengan mencecarnya berbagai pertanyaan.


Yang mana hal tersebut membuat sesosok yang tengah bertelepati dengan Ara di buat tercengang. Saat Ara menanyai tentang dirinya, yang tidak bisa pergi dengan tenang sebelum ia bertemu dengan sesuatu yang selama ini sesosok itu rindukan.


“Dari mana kau bisa mengetahui tentangku. Bahwa ada sesuatu hal yang belum aku sampaikan di dunia ini sebelum aku benar-benar kembali ke tempatku?”


Bukannya menjawab Ara pun meninggalkan sesosok tersebut dengan di buat tercengang dengan sikap dinginnya.


Tentunya sebagai sesosok arwah, makhluk tersebut merasa heran dengan sikap dingin dari seorang gadis tomboi yang ia temui.


Ia pun kemudian mengikuti langkah kaki gadis tomboi tersebut sembari bertanya-tanya tentang gadis yang terus melangkah itu.


Langkah kaki Ara pun sampailah di sebuah rumah sederhana dengan dua saudara kembarnya menantikan kedatangan dirinya.


Yang mana di sambut dengan beberapa cecaran pertanyaan dari Alexa.


“Ara kenapa kamu lama sekali? Dari tadi kami jemuran menunggumu Ra! Aku kira kamu tersesat di jalan. Ngomong-ngomong Ra siapa yang sedang kamu temui itu?” cecar Alexa yaing sedari tadi menunggu kedatangan saudarinya tersebut.


“Apa Alex tak mengatakan padamu kalau aku ini tengah membantu arwah penasaran yang selalu meminta bantuan kita?” tanya Ara balik. “Di mana Alex sekarang?”

__ADS_1


Dengan mengerucut kesal Alexa pun dengan terpaksa mengalah daripada ia harus mendengar nada dingin tersebut.


“Alex sedang istirahat Ra, tadi hampir selesai memulihkan energi di dalam tubuhnya.”


“Baiklah kalau begitu, aku mau tidur dulu,” ucap Ara dengan melangkahkan kakinya. Namun sebelum itu ia pun bertanya kembali pada saudarinya tersebut, mempertanyakan sesosok pocong yang tengah bertengger manis di atas pohon milik mereka. “Oh iya Sa di luar rumah itu siapa? Kenapa bisa kainnya menjadi kotor seperti itu. Apa dia hantu baru yang mengganggumu?”


“Ayolah Ra, kamu itu jangan terlalu berlebihan begitu denganku. Awalnya aku sedikit takut, akan tetapi setelah melihatnya tersiksa karena kecerobohannya, aku malah sekarang lebih dekat dengannya,” ujar Alexa sembari menahan tawa. Akibat kejadian yang tidak pernah di lupakan oleh dirinya.


“Apa ada yang lucu Sa?” tanya Ara sembari memicingkan matanya.


“Bagaimana mungkin tak lucu Ra, kamu pasti bisa lihat sendiri bukan kecerobohan pocong itu?” jawab Alexa dengan bertanya balik.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Alexa, Ara pun meninggalkannya seorang diri menuju kamar pribadi miliknya. Guna memastikan sesuatu yang mengganggu di benaknya, serta tidak lupa ia akan pergi ke dimensi ruang waktu milik hantu yang saat ini mengikuti dirinya.


Di dalam kamar pribadi milik Ara, setelah ia menggantikan seragam sekolahnya dengan atasan kaos yang ia pakai itu. Tak lupa ia memanggil makhluk tak kasat mata, yang mana sesosok tersebut merupakan arwah penasaran yang telah bertemu dengan dirinya.


Untuk bisa memasuki dimensi ruang dari arwah tersebut, mencari kebenaran yang mengganjal di dalam benak dari arwah yang mengikutinya itu.


“Hai kau Sumarni apa sudah siap untuk aku masuki ke dalam dimensi tempat kejadian nyawamu meregang itu?” tanya Ara dingin.


Dengan patuh arwah penasaran bernama Sumarni tersebut mengangguk kepala, tak lama kemudian jiwa Ara pun memasuki dimensi ruang waktu milik Sumarni.


********


Sementara itu di sebuah apartemen terdapat mobil sport yang di kendarai oleh Theo tibalah di parkir dengan Leonard yang tengah membuka pintu mobil tersebut, menuju unit lantai tempatnya tinggal di apartemen milik ketiga adik kembarnya.

__ADS_1


Setelah mereka tiba di unit yang tertuju, kemudian Leonard pun menghempaskan bokong sembari menunggu Theo yang tengah mengambilkan dirinya minuman kesukaan dari Leonard sejak tinggal terpisah dengan papanya tercinta.


“Oh iya Le, seharusnya hari ini kau ada pertemuan dengan perusahaan milik Tuan Kevin Morgan Adhitya. Untuk membahas kerja sama berkas yang beberapa tahun lalu di kerjakan oleh Papamu,” ucap Theo seraya mengingatkan Leonard. Yang tengah santai menikmati segelas minuman kesukaannya.


Tidak mendengar ucapan dari Theo dengan santai Leonard lebih memilih menikmati minuman tersebut untuk menghilangkan penat dari tumpukan berkas yang membuatnya selalu merasa pusing. Daripada dirinya memasuki ke dalam area kawasan berbahaya, karena ia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan menikmati segelas minuman kesukaannya sejak dulu.


Namun saat ia tengah asyik menikmati minumannya Theo pun membuyarkan lamunannya, tak kala ia mengingat semua kenangan bersama mendiang mamanya tercinta itu.


“Le, apa kau mendengarkanku.” Ucap Theo sembari mendengus.


“Aku tidak tuli The, kau mengganggu kesenanganku,” sahut Leonard dingin. “Apa perusahaan milik Papa sudah sangat lama bekerja dengan perusahaan milik rekannya itu ya!” beo Leonard yang terdengar oleh Theo.


“The, apa kau sudah menyelidiki latar belakang dari perusahaan milik rekan Papaku ini?” tanya Leonard kemudian, seraya tak lupa di tangan kanannya memainkan gelas kristal mahal miliknya itu.


Dengan berdehem Theo pun menjelaskan secara rinci tentang latar belakang dari rekan bisnisnya papa Leonard itu. “Semuanya sudah ada di emailmu yang aku kirim itu, di sana kau bisa melihatnya. Ada satu hal yang bikin menarik perhatianku Le.” Kata Theo dengan mimik raut wajah yang sangat serius.


“Katakan,” desak Leonard cepat.


“Apa kau yakin ingin mengetahui kebenaran ini Le?” tanya Theo sambil memastikan sesuatu yang mengganjal di benaknya.


“Jangan bertele-tele, cepat katakan apa yang membuatmu lama mengatakan kebenaran yang ingin aku dengar.” Nada dingin yang dilontarkan oleh Leonard sungguh tak main-main.


“Kau pasti tahu bukan wanita yang menjadi istri Papamu saat ini?” ucap Theo yang di angguki oleh Leonard. “Dia merupakan mantan istri dari Tuan Kevin Morgan Adhitya, rekan bisnis Papamu. Sebelum kau mengambil alih perusahaan yang saat ini kau pegang, dulu mereka sempat bekerja sama.” Theo pun berkata demikian sambil menjelaskan dengan detail mengenai latar belakang perusahaan yang pernah saling bekerja sama itu.


“Lalu apa yang membuatnya lebih memilih menikahi Papaku?” beo Leonard merasa terheran-heran.

__ADS_1


__ADS_2