Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kelicikan Jamilah Adik Sumarni (Flashback Arwah Sumarni)


__ADS_3

Saat ini di rumah sederhana dengan seorang pria paruh baya tengah mengetuk pintu si pemilik rumah tersebut, agar dirinya bisa bernegoisasi untuk bisa menikahi gadis belia tersebut.


Dirinya tak menyadari dari arah lain, ada seorang gadis yang merupakan adik dari Sumarni tengah menatap ke arah rumahnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Ya dirinya pun menyadari, bahwa Juragan tersebut pasti menagih hutang terhadap dirinya.


Karena tidak mungkin bagi seorang Juragan seperti Dendi mau mendatangi rumah sederhana.


Kalau bukan untuk mengikat Sumarni yang sempat menolaknya mentah-mentah.


“Ibu,” ucap Jamilah berteriak. “Oh, ibu sedang ada tamu rupanya. Maaf aku tak tahu kalau ibu kedatangan tamu.” Berasalan seperti biasa agar dirinya lebih mudah mengoreksi informasi yang sedang ingin ia curi dengar.


“Tuan bukankah dia juga pernah meminjam uang pada anda? Saya rasa ini cukup baik bukan untuk mengingkat seorang gadis yang anda inginkan?” Bisik botak pada Tuannya.


Mendengar penjelasan dari ajudannya tersebut membuat Juragan Dendi itu pun seketika menyeringai licik.


Dengan begini dirinya tentu bakal lebih mudah mengingkat seorang gadis yang menjadi incaran ya itu.


“Ehem!” berdehem lalu berucap seraya mengatakan maksud dari tujuan yang sebenarnya. “Saya kemari hanya ingin menagih semua hutang yang di tinggalkan oleh suamimu, dengan hutang dari anakmu itu. Apa kau sudah siap menyerahkan uang yang aku minta?”


Dengan tegas seraya tersenyum licik, dirinya pun semakin puas. Saat sang target terkejut dengan perkataan yang terlontar darinya.


“Bahkan dengan sertifikat gubuk reok ini tak akan mampu melunasi semua hutang-hutang suamimu itu. Terkecuali ...” lanjutnya seraya menjeda perkataan akan ia lontarkan.


Namun seseorang pun menyela perkataan yang akan ia lontarkan kembali.

__ADS_1


“Kecuali apa?” tanya Jamilah bingung.


“Kau punya Kakak bukan?” tanya balik Juragan itu. “Kecuali Kakakmu mau menikah denganku, maka aku akan menganggap semua hutang-hutang kalian terbayar dengan lunas.”


Sedangkan wanita paruh baya yang merupakan ibu Sumarni dan Jamilah itu pun terkejut, setelah Juragan yang sangat di takuti secara terang-terangan menikahi salah satunya putrinya sebagai penebus hutang.


Namun sebagai seorang ibu tunggal dirinya pun menolak dengan tegas keinginan dari Juragan tersebut.


“Tidak!” tolaknya tegas. “Lagi pula saya sangat tak setuju anak gadis saya di jadikan sebagai penebus hutang. Lebih baik anda datang kemari lain waktu, saya pasti akan membayar semua hutang yang di tinggalkan oleh almarhum.”


Penolakan yang dilakukan ibu Sumarni itu, seketika membuat darah seorang Juragan itu mendidih.


Saat mendengar penolakan yang dilakukan oleh ibu dari seorang gadis yang berhasil memikatnya dengan pesonanya, yang begitu misteri.


“Tuan sebaiknya, urungkan niat anda untuk menikahi putri saya, jika Tuan hanya menganggapnya sebatas penebung hutang.”


Setelah mendengar penuturan dari ibu gadis belia tersebut, dengan terpaksa dirinya beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkan dua orang tersebut sembari menahan amarahnya yang begitu memuncak.


Sedangkan di dalam rumah sederhana dengan seorang ibu dan anak tersebut, saling berdiam membisu. Terutama Jamilah sendiri pun merasa, bahwa saatnya menunjukkan apa yang selama ini tak ia suka dari sifat kakaknya tersebut.


‘Baiklah jika ibu tak mau kakak menikah dengan Juragan itu. Biar aku yang membujuknya agar ia mau menikah dengan Juragan tersebut.’ Seringai licik tersungging di wajah Jamilah.


Setelah berpamitan dengan sang ibu, dengan alasan lain. Dengan langkahnya yang cepat Jamilah pun berusaha meyakinkan Juragan tersebut, untuk tetap bersabar agar sang kakaknya mah menikah dengannya.


Tak lama kemudian dirinya pun memberanikan diri, menawarkan untuk membantu meluluhkan hati sang kakak yang begitu keras terhadap dirinya.

__ADS_1


“Permisi Juragan,” panggil Jamilah dengan deru napas yang tersengal. “Mohon maaf atas perkataan ibu saya, mengenai soal yang anda ingin menikahi dengan Kakak. Saya bisa membantu untuk membujuk Kakak, agar mau menikah dengan anda.”


“Atas dasar apa kamu mau membantuku hah?” cetus Juragan Dendi sarkas. “Bukankah ibumu itu tak mau menyerahkan kakakmu, untuk menjadi istriku. Lalu apa kau bisa membuatnya mau menikah denganku?”


“Saya jamin dengan taruhan nyawa saya Juragan.” Ujar Jamilah dengan mantap yang bulat.


“Baiklah kalau begitu, aku tunggu kabar darimu. Sekarang ini kau harus bisa membuat Kakakmu, mau menikah denganku. Jika tidak, maka nyawamu yang menjadi taruhannya.” Perintah Juragan Dendi dengan tegas, serta tak lupa juga mengancam adik dari Jamilah.


Untuk bisa membuat sang kakak mau menikah dengan Juragan tersebut, meski pun dirinya di jadikan penebus hutang yang di tinggalkan oleh almarhum bapaknya tercinta.


Setelah bernegoisasi dengan Juragan tersebut, tak ingin di ketahui oleh siapa pun.


Dengan langkahnya yang cepat Jamilah pun memutuskan untuk bermain bersama dengan rekan-rekannya yang lain, agar dirinya bisa memulai rencana yang ia susun dengan rapi.


Untuk membujuk sang kakak tercinta, agar mau bersedia menikah dengan Juragan tersebut.


Araxi yang menyaksikan itu, hanya bisa mengepalkan tangannya. Tak di sangka saat memasuki dimensi pertama kalinya, selalu membuat perasaan Araxi menjadi marah, sedih semua bercampur dengan satu.


Namun meski pun begitu dirinya mampu menyembunyikan perasaan kesedihan tersebut, tanpa melibatkan sesuatu di dalamnya.


Sementara itu awan mendung, menghiasi wajah cantik alami gadis belia yang bernama Sumarni.


Sejak sang Juragan menandatangi dan meminta menikah dengannya, hal tersebut tak lantas membuat dirinya merasa senang.


Karena dirinya merasa takut dengan dua istri Juragan Dendi sebelumnya, yang memiliki peringai tak kalah licik dari sang juragan itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2