
Sambil mengamati keadaan sekeliling gedung itu, yang membuatnya menghela napas gusar. Setiap kakinya berpijak, selalu saja ia bisa merasakan hawa keberadaan makhluk tak kasat mata.
Bahkan ia bisa melihat mereka di tiap sudut gedung kantor pencakar langit milik perusahaan suami dari arwah Minerva tersebut.
“Ra,” panggil Albert melalui batin. “Apa kau yakin mampu menangkap istri dari pemilik perusahaan ini?” tanya Albert yang saat ini bertelepati dengan Araxi.
“Entah, Aku tidak yakin bisa mengungkap kejahatan dari wanita itu,” jawab Ara acuh.
“Lalu untuk apa kau datang kemari, kalau tak memiliki tujuan!” ucap Albert sedikit gemas dengan kepribadian di dalam diri Araxi.
“Kalau begitu ini tugasmu, Tanyakan pada arwah itu! Apa yang di inginkan olehnya.” Raut wajah dingin itu pun memasuki gedung perkantoran itu, sembari menimbang kembali keputusan yang di ambil olehnya. Tanpa melibatkan siapa pun yang tidak ingin melihat kemampuan yang di punya oleh dirinya.
Sedangkan Albert itu sendiri pun, mau tidak mau dengan berat ia pun melakukan sebuah perintah yang ia dapatkan dari si pencuri hati.
Ya setelah sekian lama ia baru bisa memahami dan mempelajari tentang perasaan tersebut, dan kini ia telah menemukan jawabannya.
Bahwa ia sebagai seorang arwah penasaran itu, mempunyai perasaan yang terlarang terhadap gadis tomboi berwajah dingin nan datar itu.
Dengan gaya ciri khasnya yang membuat semua orang menatap ke arah Ara yang tengah mengayunkan kakinya itu, tiba di sebuah lobi gedung kantor perusahaan tersebut. Yang mana ia mendapat sambutan dari satpam yang berjaga dari arah tempatnya tak jauh berdiri.
“Adik kecil apa yang ingin kau lakukan di kantor ini?” tanya seorang satpam pada Araxi.
Bukannya menjawab pertanyaan dari satpam penjaga itu, justru ia menatap dingin nan datar ke arah satpam yang sedang menanyai dirinya.
‘Buset bulu kudukku meremang, tatapan dan hawa di tubuhnya dingin nan datar!’ batin satpam berbisik sembari menunggu reaksi jawaban yang di lontarkan oleh Araxi.
Dengan malas Araxi pun akhirnya menjawab pertanyaan yang di tuju untuknya, seraya memperhatikan sekeliling lobi. Di mana terdapat orang-orang kantor itu yang tengah menatapnya.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu dengan pemilik dari gedung perkantoran ini,” pinta Ara to the poin tanpa berbasa-basi.
“Mohon maaf adik kecil, Apa kau sudah membuat janji dengan Tuan Marco selaku pemilik gedung kantor ini?”
“Tidak!” singkat padat jelas itulah ciri gaya khas dari gadis tomboi berparas maskulin itu.
“Kalau begitu kau tidak dapat bertemu dengan pemilik gedung kantor ini,” sahut rekan satpam lainnya.
Tak menjawab sahutan dari satpam lainnya, justru Ara pun memanggil Albert melalui batin serta pikirannya itu, dan serta tak lupa menanyakan keinginan yang ingin di sampaikan oleh arwah penasaran tersebut.
“Albert,” memanggil nama seorang arwah berparas tampan yang selalu menemani sepanjang waktu dengan dingin. “Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?” tanya Ara dingin.
Bukan menjawab Albert pun bertanya balik, Karena ia merasakan aura dendam yang begitu besar pada dalam diri arwah Minerva tersebut. “Ra, Arwah yang kau maksud itu. Apa dia memiliki dendam yang belum terlampiaskan?”
“Hm” Tanpa berkata demikian Ara pun kembali mendapat cecaran pertanyaan dari satpam tersebut.
“Sebaiknya kau tidak masuk ke kantor ini adik kecil,” usir satpam tegas.
.
Menghela napas berat, Tujuan Araxi datang ke kantor ini merupakan permintaan dari sesosok arwah yang tengah berbicara dengan Albert, hal tersebut tidak luput dari pendengaran telinganya yang sangat tajam.
“Dia memang membawa dendam yang besar, Kau harus membantuku untuk menahan energi dari dalam arwah itu. Apa kau mendengarkanku!” kata Ara lewat batinnya, Untuk mengingatkan Albert tentang dendam dari arwah Minerva. “Lalu apa yang telah terjadi padamu Al?” ucap Ara sambil menanyai Albert yang tengah berbicara dengan arwah Minerva itu.
“Oh itu Ra, Dia terlihat kesal melihatmu tidak di izinkan masuk ke dalam kantor milik suaminya,” sahut Albert dengan menjawab pertanyaan dari sang pencuri hatinya tersebut.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil dengan merek Bentley yang di tumpangi si pemilik gedung perkantoran itu tiba di halaman parkir, keluarlah seorang pria paruh baya yang masuk terlihat bugar memasuki gedung perkantoran tersebut.
__ADS_1
Keningnya mengernyit tak kala melihat seseorang yang tengah berdiri di lobi gedung kantor itu yang masih memakai pakaian seragam sekolah.
Yang sialnya ia adalah Ara tengah menatap dingin ke arah seorang pria paruh baya tersebut.
Sedangkan pria paruh baya pemilik gedung perkantoran tersebut. Merupakan Tuan Marco, suami dari arwah wanita yang tengah menatapnya dengan sendu dari beberapa jarak meter tempatnya berbicara dengan Albert.
Marco itu pun berjalan menghampiri satpam, yang tengah menahan seorang pelajar yang tiba-tiba datang ke dalam gedung perkantoran miliknya itu.
“Ada apa?” tanya Marco pada satpam penjaga lobi.
“Oh itu Tuan, Anak ini meminta pada kami untuk bertemu dengan Anda,” ujar salah satpam sembari menjelaskan tentang seorang pelajar yang meminta bertemu dengan si pemilik gedung perkantoran itu.
“Baiklah biarkan dia masuk ke dalam kantor ini, Aku sendiri yang akan mengurusnya. Kalian kembali ke tempat masing-masing,” sahut Marco dengan perintahnya pada satpam itu.
Setelahnya itu kemudian Marco pun menatap datar ke arah seorang pelajar yang masih berdiri tersebut sambil menanyakan maksud tujuan kedatangannya.
Berdehem, berucap datar tanpa merasa takut pada Ara yang menatap dingin ke arah dirinya. “Permisi ada gerangan apa, sehingga kau meminta bertemu denganku?” tanya Marco datar.
Namun yang menggelitik perhatiannya tak kala menatapnya itu, mengingatkan pada seseorang yang sangat ia kenal.
‘Sorotan tatapan mata itu seperti ...!’ batin Marco, yang mana membuat Ara tersenyum misteri.
“Apa sudah puas memandangi wajah saya Tuan!” tegur Ara dingin.
Namun dalam pikirannya ia bisa tersenyum puas tak kala mendengar batin seorang pria paruh baya yang tengah menanyai dirinya.
Mendengar teguran itu membuat Marco mengerjap, karena ia semakin di buat yakin dengan seorang pelajar yang tengah berdiri di hadapannya tersebut.
__ADS_1
“Oh itu maaf aku sedang tak memandangimu,” ucap Marco berkilah. “Bukankah kau seharusnya berada di sekolahan! Apa ada sesuatu hal yang ingin kau katakan denganku?” sahut Marco bertanya tanpa berbasa-basi.
“Ada!” Jawaban singkat dari Ara membuat Marco semakin yakin dengan seorang pelajar yang berdiri itu mengingatkannya pada rekan bisnisnya yang tak lain orang itu merupakan Raymond Wesley Wiratmaja.