Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Aku Seorang Pria Yang Mandul


__ADS_3

Aku tak akan pernah memaafkanmu jika aku mendapatkan semua benda milik mendiang istriku tercinta rusak dan hilang.


Lalu tak lama kemudian, Sean menyusulnya dengan menahan deru napas yang tersengal, akibat dengan sengaja ia berlari untuk menghindari kemurkaan dari sahabatnya tersebut.


Tanpa banyak kata ia pun mengambil alih kursi roda dan mendorongnya sampai ke arah ruangan milik Raymond yang di sambut oleh sekretarisnya.


“Selamat pagi Tuan,” sapa sekretaris itu.


“Kenapa kau tak mencegah dia untuk tak masuk ke dalam ruangan bosmu hah?” gertak Sean sambil bertanya.


Tak mengidahkan Sean mengobrol dengan sekretarisnya, Raymond melepas tangan Sean, dan mendorong sendiri kursi rodanya untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.

__ADS_1


“Apa kau sudah bosan hidup hah?” hardik Raymond dengan geram. “Kau pikir siapa? Beraninya kau membanting dan merusak semua benda barang-barang milik istriku. Apa aku pernah menyentuh barangmu?”


Marista yang sedang kalang kabut itupun terkejut saat mendengar suara dingin yang berasal dari suaminya itu sendiri, dengan cepat ia membetulkan make-upnya yang sangat berantakan.


“Aku tanya sekali kau ini sudah bosan hidup hah?”


Dengan ekspresi yang di buat selembut mungkin, ia berusaha menarik perhatian suaminya tersebut. “Kau dari mana saja Sayang? Aku pikir tak akan mau menemuiku.”


Sialan aku kira dia tertarik dengan kegilaanku, tak aku sangka dia semakin dingin saja. Kapan kau akan melihatku sebagai istrimu, bukan sebagai istri pajanganmu itu. Kalau seperti ini terus aku harus merubah rencanaku, secepatnya aku harus bisa membakar tulang belulang milik istrinya itu. Agar ia tahu bagaimana kegilaan yang akan aku tunjukkan secara langsung.


“Jawab aku Marista,” hardik. Raymond dingin.

__ADS_1


“Iya Ray, aku memang sengaja membakar habis barang milik istri tercintamu itu, apa kau tak pernah sedikitpun melihat keberadaanku Ray,” jawab Marista dengan raut wajah terintimidasi. “Apa kau tak merasa kasihan denganku dan juga putri kita Prisilia Ray?”


Dengan ekspresi yang sangat dingin, Raymond menyampaikan bahwa Marista istrinya itu terlalu naif jika menyangkut perihal kehidupan pribadinya.


“Kau jangan terlalu naif, kau tahu bukan aku sama sekali tak merasa menghamilimu, bahkan kau tahu sendiri aku tak bisa memberimu keturunan. Lalu dari mana kau bisa mengatakan hal macam bodoh itu padaku, kau pikir aku akan termakan berita palsu itu? Tidak aku bukan pria yang mudah kau bodohi, dan juga mulai detik ini kau tak aku izinkan datang dan masuk ke dalam ruanganku sesuka hatimu,” terang Raymond dengan jelas dan padat.


Marista Mayang yang mendengar hal tersebut terkejut dan ia tak menyangka, bahwa Raymond telah mengetahui sedikit rahasia yang selama ini tertutup dengan rapi.


Namun dengan tegas ia menolak untuk tetap mengatakan bahwa Prisilia merupakan anak kandungnya dengan Raymond Wesley Wiratmaja.


“Kau jangan bicara omong kosong, Prisilia tetap anak kandungmu Ray. Kau jangan bercanda untuk membual seperti ini,” sahut Marista dengan berkilah.

__ADS_1


“Apa kau pikir aku akan percaya dengan bualanmu itu? Kau mungkin belum lupa, aku hanya memiliki Leonard dan juga tak lupa dengan ketiga kembar anakku, lalu bagaimana mungkin bisa aku yang saat itu tiba-tiba menghamilimu?”


__ADS_2