Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Terima Kasih Telah Menerimaku Apa Adanya


__ADS_3

Namun tanpa mereka sadari saat tengah mengobrol, ada dua orang lelaki yang tengah menguping pembicaraan antara ibu dan anak tersebut.


Tentunya dua orang tersebut tak lain tak bukan Leonard dan Theo, mereka kebetulan lewat dan secara tak sengaja mereka mendengarkan semua hal yang membuat Leonard marah sekaligus kecewa dengan tindakan yang dilakukan oleh ibu tirinya tersebut.


‘Sial, jadi benar dugaanku. Mengapa harus serumit ini Von hubunganmu, bahkan aku yang menjadi anak tirinya saja tak pernah menganggap ada, tapi ia dengan teganya memutus hubungan darah itu. Kalau begitu aku tak akan pernah menganggap sebagai pengganti mendiang Mamaku tercinta!’ batin Leonard bertekad kuat.


Agar ia tak terlalu mudah di bodohi dengan seorang yang telah menjadi istri dari Papanya tersebut, bahkan sampai sekarang Leonard pun selalu bersikap dingin dengan terhadap ibu tirinya itu.


“Aku tak menyangka Ivone bisa menyimpan dan mempunyai rahasia itu dari kita Le,” ucap Theo yang begitu sangat kaget saat mendengar obrolan mereka. “Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu?”


“Mengatakan apa?” tanya Leonard yang berpura-pura tak tahu. “Apa kau tahu dia tak pantas menyandang gelar sebagai seorang ibu. Jika dia melukai hati dan psikis anak kandungnya sendiri, aku sendiri yang akan melukai anaknya yang lain. Apa kau lupa aku bisa bersikap sepertinya untuk seorang anak kecil yang selalu menempel denganku.”


Dengan nada dingin dan tegas Leonard pun tak akan main-main untuk membuat orang yang ia anggap ibu tirinya menderita, jika saja ia bisa memperlakukan anak kandungnya seperti itu tanpa hati nurani.


Maka sebaliknya Leonard akan memperlakukannya balik, bahkan tanpa segan-segan Leonard tak mengakui seorang anak tak berdosa yang ia yakin adiknya itu sebagai seorang adik kandung.


Mengingat Leonard merasa yakin bahwa adik tirinya tersebut tak terikat darah dengan dirinya, akan tetapi Leonard yang masih duduk di bangku sma hanya bisa pasrah dan mengikuti arus permainan yang dilakukan oleh ibu tirinya tersebut.

__ADS_1


“Ayo kita cari Ivone dan menghibur,” ajak Leonard sembari memasukkan kedua tangan di saku celana seragam abu-abunya. “Untuk dia tak usah kau hiraukan, aku malas menemuinya. Kau tahu bukan kedatangannya ke sini hanya untuk setor muka saja. Selebihnya aku terlalu muak melihat sandiwara yang sedang ia mainkan, terlebih lagi sikapnya dengan anak kandungnya sendiri sangat keterlaluan. Dan Ivone lebih membutuhkan hiburan dari kita berdua sebagai sahabatnya.”


Tanpa banyak kata kedua sahabat itupun berjalan beriringan, tentunya Leonard pun sangat mengetahui ke mana Ivone itu berlari ke tempat yang bisa membuatnya merasa tenang saat meluapkan semua rasa sesak di dadanya.


Saat keduanya sampai di tempat tujuan sahabatnya itu menenangkan diri. Seketika ia menjadi tertegun saat mendengar suara tangisan yang sangat begitu memilukan.


Dengan raut wajah dinginnya, Leonard pun memberanikan diri untuk menyapa seseorang yang tengah terluka tersebut. “Jangan terlalu meratapi apa yang membuatmu terluka, hadapilah dengan senyuman khas di wajahmu.”


Ivone yang sedang menangis dengan suara serak tersebut, terkejut bukan main saat mendapat suara khas dingin dari sahabatnya itu.


“Kau bagaimana bisa tahu kalau aku sedang ada di sini?” tanya Ivone.


Ivone pun mendengus saat mendengar pertanyaan bernada ejekan yang dilontarkan oleh sahabatnya tersebut.


“Aku sedang tak menangis,” elak Ivone dengan ketus. “Kau benar-benar tak mengikutiku bukan?” tanya Ivone sembari celingak-celinguk.


Untuk memastikan apakah ada orang lain yang mendengarkan obrolannya tadi atau tidak, saat ini Ivone hanya ingin menenangkan diri serta melampiaskan rasa sesak yang terhimpit dadanya tersebut.

__ADS_1


Leonard mengernyit heran saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, bahkan sejujurnya hanya ia dan Theo yang mendengarkan semua obrolan dengan seseorang yang telah ia anggap sebagai penghancur kebahagiaan keluarganya.


“Sudahlah Von jangan kau buang air matamu, hanya untuk seseorang yang selalu melukai hatimu. Cukup kau buktikan padanya kau bisa hidup tanpa kasih sayang, bahkan tanpa cintanya pun kau pasti sanggup.” Hibur Leonard sembari menenangkan hati Ivone.


“Apa aku sanggup?” tanya Ivone sendu.


“Kau pasti bisa Von,” jawab Leonard cepat sembari memberi Ivone semangat untuk tetap menjalani kehidupan. “Apa kau tahu aku juga sama denganmu, sejak Mamaku tiada aku selalu berusaha untuk tetap meskipun pada akhirnya aku selalu merasa gagal melindunginya.”


“Terima kasih banyak, hanya kau sahabatku yang mau menerimaku apa adanya. Di saat yang lain menganggapku seorang yang pembawa sial.” Ucap Ivone dengan tulus.


Theo yang sedari tadi diam menyimak pun angkat bicara, saat ia tak sengaja mendengar ibu tiri Leonard mencari keberadaannya.


“Le, Kau benar-benar tak ingin menemuinya?” tanya Theo. “Bahkan aku sedikit mendengar obrolan dari salah satu rekan kita yang tak sengaja melintas pintu itu, bahwa ibu tirimu itu sedang mencari keberadaanmu.”


Menatap dingin ke arah Theo, Leonard pun semakin dibuat geram dengan tingkah laku ibu tirinya. Bahkan ia lebih baik menghibur Ivone daripada harus menemui wanita tersebut.


“Sudah berapa kali aku bilang hal ini denganmu? Aku lebih baik menemaninya daripada harus menemui wanita itu,” sahut Leonard dengan tegas sembari menarik lengan Ivone untuk mencari tempat mengobrol kembali.

__ADS_1


Semenjak itu baik Ivone dan Leonard pun bersahabat dengan baik, bahkan merekapun merahasiakan masing-masing tentang jati diri mereka, sampai nanti tiba saatnya mereka membicarakan hal itu kembali.


Flashback off


__ADS_2