Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Para Penjilat Di Kantor Milik Raymond


__ADS_3

Saat Raymond hendak masuk ke dalam mobil kesayangan miliknya, ada sebuah mobil lain yang membunyikan suara klakson dan mengagetkan dirinya.


Alangkah terkejutnya saat akan masuk ke dalam mobil kesayangannya, ia mendapati Sean yang dengan sengaja membunyikan suara klakson mobil yang di kendarai oleh sahabatnya tersebut.


“K—kau bagaimana bisa tahu kalau aku ada di sini Se?” tanya Raymond kaget.


“Tak ada yang aku tahu tentang dirimu Ray,” jawab Sean acuh. “Kau harus berhati-hati dalam bertindak, agar istrimu tak mencurigai tingkah lakumu itu. Kau tahu bukan Ray sampai saat ini dia tak akan pernah melepaskanmu begitu saja.”


Raymond yang mendengarnya pun terkejut bukan main, ia tak menyangka sahabatnya itu sendiri selalu mengetahui perihal tentang dirinya, baik dulu hingga sekarang tak pernah terlewatkan dari sudut pandang sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Menghela napas berat mau tak mau Raymond dengan tegas mengatakan pada sahabatnya, bahwa ia akan selalu berhati-hati dalam bertindak. “Kau tak perlu berlebihan seperti itu Se. Aku akan selalu menjaga diri dengan baik-baik, dan terima kasih kau selalu tahu tentangku,” sahut Raymond sembari masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Sean.


“Apa kau akan tetap seperti ini terus di depan Leonard?” tanya Sean.


“Aku merasa gagal menjaganya Se! Sejak aku menjadi lumpuh tak pernah sedikitpun memahami perasaan hatinya, bahkan sejak ia di tinggal pergi oleh mendiang istriku tercinta, Leonard benar-benar berubah menjadi pribadi yang dingin. Sampai saat inipun justru Leonard tak pernah bisa menerima dia sebagai pengganti mendiang istriku tercinta, dan juga aku tak begitu bisa mengerti dan memahami perasaan putra sulungku itu,” jawab Raymond sembari menceritakan kegagalan menjaga amanah yang di tinggalkan mendiang istrinya tercinta.


“Kau jangan pernah merasa gagal menjaga dan melindunginya, bahkan kau sendiripun selalu rela tersiksa seperti ini hanya untuk melihat putramu tumbuh seperti dirimu,” hibur Sean sambil melajukan mobil tersebut, meninggalkan basement parkiran apartemen menuju kantor sahabatnya tersebut.


“Kalau dia masih tetap tak mau melihatku, setidaknya aku bisa pulang tanpa harus terusir sendiri,” lanjutnya berkata sambil mencurahkan isi hatinya tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian ia pun berjalan melenggak-lenggok, melewati lobi kantor milik Raymond tanpa menjawab sapaan karyawan yang sedang menyapanya.


Kedatangannya pagi-pagi ke kantor tersebut, tak pernah mendapat respons dari karyawan kantor milik suaminya, tetapi ia tak pernah bisa membuat suaminya memecat mereka.


Karena bagaimanapun karyawan di kantor milik Raymond itu tak pernah mengecewakan si pemilik, bahkan mereka selalu bisa di andalkan, hal tersebutlah yang membuat Raymond tak bisa memecat karyawan dengan sesuka hatinya.


Sebagaian para karyawan di kantor milik Raymond merupakan penjilat ulung, tentunya mereka semua tak pernah bisa melupakan kebaikan dari mendiang istri pertama pemilik kantor tempat mereka bekerja, menurut karyawan yang ada di kantor tersebut sejatinya mereka semua hanya berpihak pada mendiang istri pertama bos mereka di bandingkan dengan istri kedua dari bos mereka itu sendiri.


Sialan kalian aku sangat tahu kalian tak pernah berpihak padaku, sejak aku menjadi Nyonya besar di kantor ini kalian sudah terlihat sebagai penjilat. Bahkan aku tak bisa mengusir dan memecat kalian jika bukan kemauan Ray sendiri. Umpat Marista dengan geram.

__ADS_1


Karena tak tahan dengan para penjilat yang berada di kantor milik Raymond, dengan gerakan cepat ia terpaksa harus bisa sampai ke dalam ruangan kerja milik suaminya.


__ADS_2