
Naura hanya terdiam mendengar cerita dari Susan. Saat ini keduanya tengah menikmati waktu istirahat di kantin sambil menikmati makan siang. Susan mengatakan bahwa kemarin, ketika dirinya dan Ken tidak masuk sekolah, orang tua Clay datang untuk mengurus surat pindah Clayton.
Orang tuanya mengatakan bahwa Clay akan pindah sekolah ke luar negri, karena ujian hanya tinggal beberapa minggu lagi, pihak sekolah tidak bisa menuruti kemauan orang tua Clay. Namun mereka memberikan solusi bahwa Clay bisa mengikuti kelas dan ujian secara online. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya tambahan, namun keluarga Clay langsung mengiyakan.
“Jadi, wisuda nanti ada kemungkinan Clay akan datang?” gumam Naura pelan, karena Clay masih menjadi siswa di sana, meskipun tidak bisa bersekolah langsung dan hanya lewat virtual.
“Kemungkinan sih begitu,” kata Susan sambil memakan makanan nya, “Emang bener kalian berdua udah putus?”
“Iya,” jawab Naura lirih.
“Kenapa? Jangan bilang lo putusin Clay demi manusia rusuh itu?” tebak Susan yang membuat Naura langsung menghela nafas nya dengan berat.
“Hubungan ku sama Clay hanya akan menambah luka di banyak hati, San.”
__ADS_1
“Luka hati siapa? Gimana sih?”
Naura hanya menggelengkan kepala nya dan memilih kembali makan sambil terus berfikir. Berharap bahwa nanti dirinya dan Clay masih di berikan waktu untuk bertemu kembali. Setidaknya bila laki laki itu benar pergi meninggalkan negara ini, ia berharap Clay berpamitan dengan nya. Bukan dengan cara seperti ini, bahkan Naura belum sempat meminta maaf dengan laki laki itu karena sudah berprasangka buru.
“Ah iya, Jesika gimana?” tanya Naura karena sampai saat ini dirinya belum bertemu dengan Jesika.
“Jesika ada kok, tadi pagi gue lihat dia. Papasan di parkiran, tapi ya gitu, dia sekarang jadi dingin banget, gila. Bahkan menyapa aja kaya gak mau gitu,” jawab Susan sedikit mendengus.
“San, gue pergi dulu yah. Gue mau cari Jesika dulu, sebentar aja.” Kata Naura lalu ia segera beranjak dan berlari mencari keberadaan Jesika.
Naura mencari keberadaan Jesika ke seluruh kelas, taman bahkan parkiran, namun tidak menemukan dimana gadis itu. Ia pun kembali berlari menaiki tangga menuju roof top. Hanya itu yang belum ia datangi, dan benar saja. Ketika ia sampai, ia bisa melihat bahwa Jesika tengah menatap ke arah nya dengan raut wajah datar nya. Seolah memang Jesika tengah menunggu nya di roof top.
“J—Jesika ... “ gumam Naura dengan nafas terputus putus.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan kamu, Ra?” tanya Jesika berusaha tersenyum walau terlihat memaksa.
“Jes—“
“Dia pergi Ra, dia pergi jauh. Aku capek,” gumam Jesika begitu lirih, ia pun langsung membalikkan badan nya, menatap pemandangan dari atas gedung sekolah.
“Kamu tahu Ra, sedikit banyak, kisah kita hampir sama. Tapi—“ Jesika menarik nafas nya sedalam mungkin lalu menghembuskan nya perlahan mungkin, “Tapi kamu jauh lebih beruntung dari ku.”
“A—apa maksud kamu Jes?” tanya Naura mengerutkan dahi nya, ia melangkahkan kaki nya untuk mendekati Jesika. Kini keduanya berdiri bersebalahan sambil menikmati pemandangan lepas.
“Kamu beruntung Ra, karena cinta kamu terbalaskan oleh Ken. Selain itu, kamu di kelilingi oleh orang yang kamu sayang. Contoh nya Clay, dia cinta sama kamu Ra. Padahal aku yang sudah berjuang sejak aku kecil,” ucap Jesika tersenyum getir.
“Lucu ya, aku merasa kaya wanita murahan yang terus mengejar cinta seorang lelaki, tapi ternyata laki laki itu mencintai orang lain. Andai wanita itu bukan kamu Ra, aku sudah pastikan akan memperjuangkan Clay untuk kembali padaku. Sayang nya itu kamu, aku gak bisa Ra.”
__ADS_1
“Jesika ... “ Naura tidak bisa berkata apapun, hatinya ikut merasakan sesak ketika mendengar pernyataan yang kembali menampar hati nya. Benar dugaan nya, bahwa selama ini Jesika menyimpan perasan kepada Clay. Jadi, kini bertambah lagi orang yang ia sakiti, bukan hanya Arsy dan juga Clay, namun juga Jesika.