
Malam minggu, malam yang indah untuk yang memiliki pasangan, seperti hal nya Ken dan Arsy yang saat ini memilih untuk pergi menonton film di bioskop dan berjalan jalan berduaan layaknya anak muda pada umum nya. Namun berbeda dengan Naura, sejak sore tadi, dirinya terus di recokin oleh dua manusia yang benar-benar membuat mood nya semakin berantakan.
“Ra, lo lagi PMS apa gimana sih, dari tadi ngomel mulu sama kita. Emang kita salah apa coba?” cetus Harry berdecak saat melihat Naura kembali berkacak pinggang di depan nya.
“Kampret, gimana gue gak ngomel kalau lo dari tadi makan kuaci begitu!” seru Naura dan langsung melempar bantal sofa ke arah Harry.
“Iya iya nanti gue bersihin, astaga. Giliran Ken saja gak pernah lo omelin, padahal dia biang onar dan biang rusuh, dia lebih jorok dariku!” sungut Harry mulai membandingkan diri.
Memang benar adanya, bahwa Ken jauh lebih rusuh di banding Harry, bila Ken yang memakan cemilan apalagi kuaci, bukan hanya lantai yang berserakan kulit nya namun karpet dan sofa bisa di pastikan ikut berantakan.
“Lo lupa kalau ini apartemen yang beli siapa hah!” cetus Naura memanyunkan bibir nya, “Dan kalau ini apartemen gue sendiri yang beli, udah pasti sikap gue ke dia gue samain sama kaya ke lo, bahkan lebih parah mungkin!” imbuh nya.
“Udah sini duduk,” Tiba tiba saja tangan Naura di tarik oleh Clay sehingga membuat dirinya langsung terduduk di samping manusia dingin itu.
“Udah diem, mending nikmatin saja film nya, kalian berdua terlalu berisik,” kata Clay tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar tv.
__ADS_1
Naura hanya mendengus, lalu ia ikut kembali menikmati saluran tv. Kini, posisi Harry tengah duduk di karpet tepat di depan Clay dan Naura yang duduk di sofa. Oh ralat, hanya Clay yang duduk di sofa, namun Naura memilih rebahan di paha Clay.
Tak berapa lama, Harry memilih pamit lantaran orang tuanya datang. Dengan terpaksa, laki laki tukang baper itu pergi meninggalkan apartemen Naura, dan kini hanya tinggal Naura dan Clay lah yang tersisa di ruangan itu.
“Ra ... “ panggi Clay tanpa menatap sang empunya karena mataya masih fokus dengan tontonan di layar tv, namun sejak tadi tangan nya sudah asik bermain di kepala Naura.
“Hemm,” jawab Naura sambil mengunyah chiki. Ia sama sekali tidak merasa risih bila rambut nya di permainkan, karena ia juga sudah terbiasa di perlakukan begitu oleh Ken.
“Kamu masih cinta sama Ken?”
“Tapi lo selalu terluka melihat kebersamaan mereka.”
“Biarin aja gue terluka, asal mereka bahagia.”
“Mau sampai kapan?”
__ADS_1
Naura mendongakkan kepala nya, menatap wajah Clay yang kini juga menunduk menatap dirinya, “Gue gak tau.”
“Mau gue bantu?” ajak Clay memberikan tawaran.
“Hahahaha bantu apa? Bahkan lo—“
“Aku bisa bantu kamu buat hapus perasaan itu, dan aku bisa jauh lebih bisa bahagiain kamu di banding dia.” Potong Clay dengan cepat.
“Gue gak butuh di kasihani Clay,” ucap Naura menghela nafas nya dengan berat.
“Aku gak pernah kasihan sama kamu,” jawab Clay, “Meskipun cinta itu belum ada, namun aku pastiin aku tidak akan menyakiti kamu seperti Dia. Kita bisa memulai dan belajar dari awal. Kita sama sama belajar Ra. Aku sayang sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu!”
Mendengar pengakuan dari Clayton, tentu saja membuat Naura langsung terkejut, sayang bukan cinta, namun itu sudah sejak saat pertama bertemu berarti beberapa tahun yang lalu.
“Aku ikut bergabung dalam persahabatan kalian awal nya karena kamu.” Imbuh Clay yang lagi lagi membuat Naura terkejut, “Tapi setelah aku tahu bahwa kamu hanya menatap Ken, aku memutuskan untuk berhenti dan menganggap kedekatan kita pyur sahabat. Tapi lihat Ra, kamu selalu tersakiti oleh nya, dan aku tidak bisa hanya diam saja.”
__ADS_1