
Karena tidak tega melihat Naura terus murung karena Ken meragukan kandungan Naura. Akhirnya mama Kiara menemani Naura untuk melakukan USG lagi dan kini di saksikan oleh Ken dan dirinya, sementara papa Kaisar menunggu di luar.
“Usia kandungan nya sudah masuk minggu ke tujuh—“
“Tunggu Dok, minggu ke tuju artinya hampir dua bulan kan? Sementara aku dan istri saya baru melakukan nya sekitar lima mingguan yang lalu, eh lima apa enam. Intinya belum ada kalau tuju minggu!” saut Ken dengan cepat memotong ucapan Dokter Widhi yang hendak menjelaskan.
“Ken diem!” kata mama Kiara menatap tajam pada Ken, sementara tangan nya terus menggenggam tangan Naura.
“Begini,” Dokter Widhi memilih mengambil nafas panjang terlebih dulu, karena menjelaskan kepada anak SMA tengil seperti Ken akan memerlukan kesabaran extra. Pantas saja, dari sekian banyak dokter SPOG tidak ada yang mau menangani keluarga pemilik Rumah sakit.
Andai ada pilihan, mungkin dokter Widhi juga akan memilih menangani pasien lain, batin nya.
“Usia kehamilan, di hitung dari periode pembuahan sampai bayi lahir. Nah, untuk menghitung usia kehamilan itu, kami biasa melihat dari hari pertama haid terakhir, atau biasa di sebut, HPHT. Sesuai dengan penjelasan dari nona Naura tadi hari terakhir haid nya hingga kini, jadi di hitung tujuh minggu. Dan disini, kita bisa melihat bahwa ada dua kantung janin, itu berarti ada kemungkinan istri anda sedang mengandung dua bayi,” jelas nya dengan wajah tersenyum meski sedikit paksa kepada Ken.
__ADS_1
“Tapi selama ini kami selalu memakai pengaman, apakah sarung nya bocor, kok bisa hamil?” celetuk Ken masih bingung.
“Pemakaian sarung ketika berhubungan tidak menjamin efektif seratus persen tidak hamil. Jadi, meskipun kalian menggunakan pengaman, bila Tuhan sudah berkehendak, semua akan terjadi,” jawab dokter Widhi masih dengan senyum kesabaran nya.
“Oke, tapi kenapa bisa ada dua bayi? Yang satu bayi siapa?” pertanyaan konyol kembali keluar dari mulut manis Ken, yang membuat ketiga wanita di dalam ruangan itu langsung speechless menatap sang pelaku.
“Maksud dari pertanyaan kamu itu apa Ken? Astaga, astagfirullah al azim, Kenzo Aprilio Nolan! Kenapa mama bisa punya anak sebodoh kamu sih!” pekik mama Kiara frustasi. “Naura, amit amit jabang bayi, jangan sampai anak kamu nanti kaya ayah nya. Mama gak rela kelakuan anak kalian nanti seperti Ken!” imbuh mama Kiara mengusap dada nya berulang sambil tangan satu lagi mengusap perut Kiara.
“Itu kan bibit dari Ken, mana bisa gak boleh kaya Ken, terus harus kaya siapa!” cetus Ken tak terima.
Bug!
Mama Kiara langsung memukul kepala Ken dengan cukup keras hingga membuat sang empunya langsung memekik kesakitan, “Itu tahu kalau bibit kamu, kenapa masih banyak tanya hah!” seru nya tak habis pikir.
__ADS_1
“Ya Ken cuma bertanya Ma, gapapa kan Dok?” tanya Ken menatap dokter Widhi dengan wajah polos tanpa dosa.
“Allahu akbar!” Mama Kiara kembali memejamkan mata dan menarik nafas panjang, “Naura, semoga kamu sabar menghadapi suami seperti dia. Kalau gak sanggup, kamu bisa bilang sama Mama, akan mama bantu asing kan dia agar jauh dari kamu. Bila perlu, mau di lem biru juga tak apa!"
"Apaan lem biru?" tanya Ken mengerutkan dahi nya.
"Lempar cari yang Baru!" cetus mama Kiara kesal.
“Mama itu provokator!” seru Ken langsung menggeser posisi mama nya agar menjauhi Naura, “Jangan dengerin mama ngomong apa. Anggep angin lalu,” bisik Ken di telinga Naura.
“Kamu pergi Ken, aku gak mau lihat kamu dulu!” ucap Naura dengan wajah datar nya, lalu ia segera memalingkan wajah agar tidak melihat wajah suaminya.
Deg!
__ADS_1