
Pagi harinya, Ken membawa salah satu mobil milik Clay, karena memang ternyata motor nya sudah tidak ada di sana. Entah kemana perginya, Ken tidak tahu dan ia sudah bertanya pada siapapun namun semua seperti patung, tidak ada yang membuka suara satu pun. Bahkan para pelayan yang melayani Ken dan Naura saat makan pun hanya datar dan diam.
“Aku rasa, pita suara mereka udah pada di ambil sama ayah nya Clay. Makanya pada bisu semua,” cetus Ken berdecak ketika sudah menjauh dari hutan.
“Ayah nya Clay gak mungkin sejahat itu,” kata Naura tak percaya.
“Kamu gak tahu bagaimana kehidupan mereka Ra, kamu gak lihat itu pengawal ada puluhan orang begitu Cuma buat jaga satu rumah doang. Dan ya kamu belum pernah datang ke rumah nya yang di Jakarta. Di sana, pengawal lebih ketat dari sini, apalagi kalau bunda dan adik nya pergi ke Mall, bisa bawa rombongan satu RT.” Cerita Ken sambil menggelengkan kepala nya.
“Ngaco kamu, mana ada begitu,” tentu saja Naura tidak percaya, bagaimana mungkin keluarga Clay ternyata seperti itu.
“Gak percaya ya sudah, kamu bisa tanya sama Jesika besok. Aku harap dia juga gak pergi dari sini. Karena dia dan Clay kaya sepaket sendal yang bila satu pergi maka sebelah nya jua harus pergi.”
“Aku merasa bersalah banget sama Clay,” keluh Naura menyandarkan kepala nya pada kaca mobil, sambil tangan nya terus mengukir nama lay pada kaca.
__ADS_1
“Kamu sadar gak sih Ken, kalau hubungan kita menyakiti semua orang? Arsy, Clay, dan mungkin juga Jesika. Kenapa—“
“Jangan pikirkan itu lagi. Semua akan baik baik saja.” Potong Ken dengan cepat.
“Kalau baik baik saja, Clay gak akan pergi!” cetus Naura mendengus.
“Clay pergi bukan karena kita,” jawab Ken dengan wajah serius.
“Terus kenapa?” tanya Naura mengerutkan dahi nya.
Sebenarnya, ia juga tau bahwa Clay pergi memang untuk menghindari nya dan Naura. Namun, terlepas dari itu, Clay pernah bercerita padanya, bahwa dia memiliki satu pekerjaan yang cukup bahaya. Clay harus pergi ke suatu tempat, untuk melanjutkan pekerjaan nya. Namun, selama ini Clay selalu mengulur waktu, dan setelah kejadian ini Clay langsung pergi.
“Bagaimana dengan Arsy?” tanya Naura lagi mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
“Dia baik baik saja, bahkan dia yang bantuin aku untuk sadar.” Jawab Ken menatap Naura sekilas.
"Dia pasti sakit hati banget, dia cewek pasti rasa sakit nya melebihi yang Clay rasakan. Dia gak akan pergi dari Indonesia juga kan?" Gumam Naura berfikir dan merasa sedikit takut.
Ken hanya terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Naura. Karena pada dasarnya ia juga tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu dengan pasti. Sejak berakhirnya hubungan mereka ketika di rumah nya. Ia belum lagi berbicara dengan Arsy.
Bohong bila Ken tidak perduli atau tidak merasa bersalah. Ken sangat merasa bersalah, ia juga sakit karena sudah menyakiti hati wanita sebaik Arsy, namun ia tidak tahu harus bagaimana. Karena kini, ia sudah yakin akan perasaan nya yang memang hanya untuk Naura. Terlebih, karena nya, Naura kehilangan kehormatan nya. Sangat tidak mungkin bila Ken sampai tega meninggalkan Naura seperti perjanjian awal dulu.
Lagipula, dirinya tidak akan mungkin sanggup.
"Kita lihat ke depan ya Ra. Kita jadikan masa lalu sebagai pengalaman hidup kita. Aku mohon, kita lupakan yang sudah sudah," ucap Ken menggenggam tangan Naura.
"Ken, kamu yakin?" tanya Naura masih sedikit ragu.
__ADS_1
"Apa perbuatan ku semalam tidak bisa membuat mu percaya bahwa aku mencintai kamu, Ra?" Ken mengerutkan dahinya menatap Naura serius, kini keduanya tengah berhenti di lampu merah sehingga memudahkan Ken untuk menatap Naura seolah memberikan jawaban bahwa perasaan nya memang sangat yakin.
"Aku memang cowok gak peka Ra, tapi aku bukan bajing*an yang bisa melakukan sexx hanya karena napsu semata! Aku tulus sama kamu dan aku melakukan itu karena memang aku cinta sama kamu." jelas Ken panjang lebar dan begitu tulus, terbukti dari tatapan matanya dan Naura bisa merasakan nya.