
Setelah beberapa saat mengendarai motor nya, kini Naura sudah sampai di suatu tempat yang menjadi tujuan nya, kantor polisi. Tanpa berlama lama, bahkan Naura hanya memarkirkan motor nya sembarang arah, ia melangkahkan kaki nya dengan terburu buru agar bisa segera bertemu dengan sang pelaku utama.
“Ken!” panggil Naura begitu sampai di sebuah ruangan yang di tunjuk oleh salah satu petugas kepolisian.
“Naik apa kesini?” tanya Ken dengan raut wajah datar nya, dahi nya sempat mengernyit ketika melihat peluh masih membasahi dahi nya.
“Kenapa bisa sampai nyasar kesini?” kata Naura malah balik bertanya dengan nafas yang masih naik turun.
“Ckck,” Ken hanya berdecak lalu memalingkan wajah nya, namun meski begitu tangan nya sudah mengepal dengan kuat untuk meredam emosi nya.
__ADS_1
“Kamu diem disini,” kata Naura seperti memberikan perintah kepada anak kecil, ia segera menemui polisi yang tadi menghubungi nya. Naura sudah hafal dan sudah cukup mengenal beliau karena Naura sudah sering bertemu.
Cukup lama Naura berbicara dengan polisi untuk membahas mengenai masalah yang di buat oleh Ken. Ini bukanlah kali pertama Ken berada di kantor polisi karena berbuat ulah, hanya saja ini adalah kali pertama Naura yang datang seorang diri. Biasanya, Naura akan datang bersama mama Kiara atau papa Kaisar.
Setelah mendengar penjelasan cukup panjang, akhirnya Naura hanya bisa menghela nafas nya dengan berat. Keributan yang di buat oleh Ken mengakibatkan dua orang masuk rumah sakit dan beberapa orang lain cidera ringan.
“Baiklah Pak, saya minta maaf yang sebesar besar nya. Karena orang tua kami sedang tidak ada di rumah, jadi saya yang akan menjamin semuanya. Dan untuk ganti rugi kepada mereka dan dua orang lainnya, akan saya urus juga. Saya berani menjamin nya,” kata Naura di sertai helaan nafas berat.
“Menurut kamu, aku harus telfon siapa? Mama, Papa atau om Bastian?” tanya Naura ketika sudah berbicara dengan Ken.
__ADS_1
“Aku? Kamu?” Ken mengerutkan dahi nya ketika baru menyadari bahwa kini Naura sudah memakai kata aku kamu.
“Ini kan yang kamu mau? Ckck.” Naura menghela nafas nya lagi dan berdecak, “Aku gak habis pikir kenapa kamu bisa semarah itu hanya karena pembahasan sepeleh itu sih Ken? Ya Allah!”
Ken hanya diam karena ia menyadari kesalahan nya, “Sekarang aku harus minta uang ke siapa? Ayo bilang?” kata Naura lagi.
“Telfon om Abas aja,” jawab Ken pada akhirnya, Naura mengangguk dan segera menghubungi om Bastian untuk meminjam sejumlah uang dan meminta bantuan.
Cukup lama Naura menelfon dan menjelaskan semua masalah yang terjadi, bukan marah om Bastian malah terdengar terkekeh di seberang sana. Naura hanya menganggukkan kepala nya paham, karena om dan suaminya memang sama saja, sama sama ajaib, batin Naura.
__ADS_1
Bagaimana tidak ajaib, seorang om mendengar bahwa keponakan nya mengalami musibah masuk kantor polisi karena berantem dan respon nya malah terkekeh. Namun meski begitu, om Bastian termasuk orang baik dan aling banyak membantu Naura serta Ken selama ini, dan kali ini bahkan di tengah kesibukan nya, om Bastian tetap mau mengurus sisa masalah yang di akibatkan oleh Ken.
“Astaga Ken, Ken.. dari jaman masih benih sampai jadi pembuat benih, kenapa gak pernah berubah sih. Apa harus punya benih sendiri dulu baru bisa sembuh dari ke ajaiban kamu, ckckck!” decak Bastian menggelengkan kepala nya, lalu ia segera beranjak dari ruang kerja nya dan menuju alamat yang sudah di kirimkan oleh Naura.