
Warning!!!!
Mengandung sedikit anu, di bawah umur sepertinya SKIP dulu ya, Sayang. Biar otak kalian tetap suci dan gak nyasar kemana mana. Yah, meski gak ada uh ah uh ih atau apalah. Tapi ya begitulah, sedikit anu pokoknya.
...Happy reading!...
🍁
🍁
🍁
“Ken, tangan kamu!”
“Tangan aku kenapa? Udah pas banget kok.”
“Geli Ken!”
“Tapi enak kan?”
“Dih, apaan sih!”
“Sayang, gantian kenapa sih.” Pinta nya dengan wajah memelas.
“A—aku gak bisa Ken,” kata Naura sedikit takut.
__ADS_1
“Gapapa, pelan pelan, nanti juga biasa lama lama.”
“Lama lama, berarti kamu mau terus terusan!” cetus Naura tiba tiba.
“Ya kalau kamu mau juga gapapa, tiap hari aku malah seneng,” jawab Ken terkekeh, “Ayo dong, Sayang.”
“Ken, beneran kalau itu aku agak gimana gitu,” ringis Naura menggigit bibir bawah nya.
“Gapapa benaran deh, kamu sekali cobain nanti pasti ketagihan. Ayo dong Sayang, aku gak kuat nih!”
“Astaga Ken.”
“Ayo Sayang ... “ Ken memejamkan matanya saat menikmati setiap sentuhan yang di berikan istrinya. Ya, meskipun mereka sudah sering melakukan nya, namun untuk servisan satu ini, adalah kali pertama dari Naura. Karena selama ini, Ken lah yang selalu memimpin dan memberikan kepuasan untuk Naura.
Bukan berarti Ken tidak puas, hanya saja ini kali pertama Ken menyuruh Naura melakukan hal yang belum pernah Naura lakukan sebelum nya. ( Jangan tanya apa dan bagaimana, ssttt silent. )
“Tangan aku nganggur, gak enak banget Sayang. Makanya aku kasih kerjaan,” desis Ken menahan suara nya, “Ayo Sayang terusin lagi,” imbuh nya tak sabaran.
“Iya tapi—“ belum sempat Naura protes, tiba tiba Ken sudah membalikkan tubuh Naura dan menindihnya. Ia merasa tak sabar dengan cara kerja Naura untuk menjadi pemimpin dalam proyek nya. Jadilah akhirnya ia kembali mengambil alih pimpinan itu.
“Katanya biar aku yang mimpin,” cetus Naura memanyunkan bibir nya kesal.
“Aku gak tahan kalau kaya begini, aku tidak se sabar itu, Sayang.” Bisik Ken lalu ia mulai memberikan sentuhan demi sentuhan mematikan di tubuh Naura.
Memberikan efek luar biasa hingga membuat wanita itu mendesis dan mende sah panjang ketika jari jemari Ken berjelajah manja di tempat tempat terlarang nya.
__ADS_1
“Kenn!”
“Hemm ,... keluarkan saja, tak apa.” Bisik Ken dan kembali melanjutkan pekerjaan nya untuk membuka tanggul istimewa Naura, dan tak butuh waktu lama akhirnya tanggul itu terbuka hingga mengakibatkan banjir bandang di sekitar nya.
“Ken, aku capek,” gumam Naura lirih dengan nafas yang sudah terengah engah.
“Gapapa, kamu diem aja. Biar aku yang bekerja,” kata Ken dan mulai mengarahkan benda kesayangan nya untuk mempompa tanggul agar tidak banjir. Namun, karena Ken terus memompa nya dengan sedikit kasar hingga terjadilah banjir susulan yang berulang.
“Ken, stop!” pekik Naura tiba tiba, di tengah aktifitas pekerjaan Ken.
“Kenapa sayang, sedikit lagi,” balas Ken masih terus fokus mengejar pelepasan.
“Sakit Ken, sakit!”
Mendengar Naura merintih kesakitan, sontak membuat Ken langsung menghentikan gerakan nya. Ia menatap Naura dengan dahi berkerut.
“Kamu kenapa?”
“Gak tahu, pinggang aku sakit banget,” ringis Naura menggigit bibir nya seolah menahan sakit, “Lepasin dulu.”
Karena tidak tega, akhirnya Ken menganggukkan kepala nya dan melepaskan pompa nya, dan betapa terkejut nya dia ketika melihat ada bercak merah menghiasi pompa dan tanggul kesayangan nya.
“Yank, kamu gak lagi dapet kan?” tanya Ken menelan saliva nya.
“Hah, dapet? Ini tanggal berapa?” kata Naura balik bertanya dengan wajah terkejut.
__ADS_1
“A—aku lupa tapi lihat deh.” Naura pun langsung beringsut duduk dan melihat keadaan di bawah sana, dan ternyata benar bahwa ia menemukan adanya noda merah di tengah tengah pergelutan panas nya.
“Pantes aja pinggang aku sakit banget,” desis Naura semakin menggigit bibir bawah nya karena kini tak hanya pinggang namun juga perut nya terasa begitu nyeri.