
“Ken, kamu kenapa sih?” tanya Naura mengerutkan dahi nya ketika melihat Ken banyak terdiam dan melamun, “Kamu gak belajar?”
“Ra,” Ken langsung memutar kursi belajar nya dan menghadap ke arah Naura, “Ada yang ingin aku katakan sama kamu.”
Sejak tadi, Ken sedang berfikir bagaimana cara mengatakan kepada Naura. Setelah tadi ia meminta solusi kepada papa Kaisar, akhirnya papa mengusulkan bahwa Naura harus tahu. Namun harus darimana ia memulai ia tidak tahu, makanya sejak tadi ia hanya diam dan melamun karena sedang merangkai kata kata agar Naura tidak terlalu terkejut. Meski begitu, namun tetap saja Ken merasa takut. Ia takut bila nanti Naura akan menangis dan bersedih kembali.
“Ada apa sih Ken? Jangan buat aku takut deh. Muka kamu itu meragukan,” kata Naura sedikit lesu, entah mengapa hanya melihat dari raut wajah Ken, Naura merasa bahwa ada yang sedang tidak beres.
“Jujur Ra aku bingung.” Keluh Ken yang semakin membuat Naura penasaran.
“Apa sih Ken? Jangan begini ih!”
“Tadi, waktu pulang sekolah aku gak langsung pulang ke rumah.”
__ADS_1
“Terus kamu kemana?” tanya Naura tak sabar.
“Rumah sakit,” jawab Ken lirih.
“R—rumah sakit? Kamu kenapa? Kamu gapapa kan? Ngapain ke sana?” tanya Naura berubah panik.
“Awalnya, aku hanya ingin bertemu om Bastian. Tapi aku malah ketemu sama—“
“Ketemu sama siapa?” tanya Naura dengan cepat, “Ken, bisa gak sih kalau cerita jangan sepotong potong. Jangan bikin aku makin penasaran begini ih!” seru Naura dengan begitu kesal.
Deg!
Mendengar nama Bunda, Naura pun langsung menatap wajah Ken. Wajah nya kini sudah tidak kesal lagi, namun lebih bingung, “Bunda kenapa Ken? Bunda gapapa kan?” tanya nya begitu lirih.
__ADS_1
“Bunda mengalami luka cukup berat di bagian leher Ra,”
“Tunggu, k—kenapa bunda bisa dapat luka di leher?”
“Ra, kamu dengerin dulu penjelasan aku. Jangan menyela dan akau mohon, siapkan hati kamu.” Ken mengajak Naura beranjak dari tempat duduk nya dan mengajak nya duduk ke tempat tidur.
Naura hanya menganggukkan kepala nya dengan lemah, pandangan nya sudah begitu sayu, ia merasa bahwa ada hal besar yang akan di katakan oleh Ken. Dan ia berusaha untuk menyiapkan hati mendengar penjelasan itu.
“Keadaan Bunda masih kritis. Dan tadi aku juga ke kantor polisi untuk menemui bang Daniel. Dia di tahan karena—“ ucap Ken belum selesai menjelaskan namun langsung di potong oleh Naura.
“K—kak Daniel? Gak mungkin. Gak mungkin kakak ngelukai Bunda. Gak mungkin Ken, kakak sayang banget sama Bunda, jadi gak mungkin kalau kak Daniel tega nyakitin bunda sampai kaya gitu. Kamu jangan fitnah Ken!” pekik Naura seolah tak terima bila kakak nya tega menyakiti bunda nya sampai masuk rumah sakit dan kritis.
“Harusnya kamu langsung kabarin aku siang tadi, jadi aku bisa langsung ke sana. Kenapa kamu malah diem Ken, kenapa kamu gak telepon aku. Dia bunda ku Ken, dia bunda ku kenapa kamu diem aja, hiks hiks hiks.” Benar saja seperti dugaan Ken, bahwa Naura akan menangis histeris.
__ADS_1
“Kamu belum denger penjelasan aku sampai selesai. Kenapa kamu langsung—“
“Kamu gila Ken, gimana aku gak marah.Kamu fitnah kakak aku nyelakai bunda dan dia sekarang di kantor polisi kan. Kamu jahat Ken kamu jahat!” Naura langsung memukul dada Ken dengan membabi buta untuk meluapkan kemarahan nya.