
Jam pulang sekolah, Hary sengaja menunggu kedatangan Susan di tempat parkir. Sejak di kelas, Hary hanya diam dan berfikir.
"Tunggu!" panggil Hary ketika melihat Susan hampir melewati nya, "Aku bilang tunggu!"
"Mau apa sih? udahlah gak usah bahas yang tadi. Anggap aku gak pernah ngomong gitu, dan mulai sekarang—"
"Mulai sekarang apa? berakhir? kamu pikir aku bakal lepasin kamu gitu aja!" seru Hary tiba tiba membuat Susan mengerjap bingung.
"A—apa maksud kamu?"
"Ayo ikut!" Hary langsung menuntun Susan dan membawa nya masuk ke dalam mobil nya.
"Hary kamu gila! buka gak pintu nya? aku mau pulang!" seru Susan berusaha membuka pintu mobil Hary namun tak bisa karena Hary mengunci nya.
__ADS_1
"Aku gak nyangka kalau akan secepet ini ketahuan." kata Hary tiba tiba membuat Susan berhenti memberontak.
"Maksud mu?"
Hary menghela nafasnya dengan berat, “Sebenarnya aku sudah tahu sejak beberapa minggu yang lalu. Makanya akhir akhir ini aku jarang online. Maaf, tapi sungguh aku sama sekali tidak memandang fisik,” tutur Hary jujur.
“Kapan kamu tahu bahwa Rainbow itu aku?” tanya Susan memberanikan diri menatap mata Hary.
Saat itu, memang Susan sengaja pergi ke Bali berniat menemui Donuts sang kekasih, sengaja mengajak bertemu di sebuah kafe yang berada di dekat pantai. Namun, cukup lama Susan menunggu tidak ada tanda tanda kekasih nya datang. Saat dirinya hendak pulang, malah ia melihat Hary yang tengha mabuk di kafe tersebut.
Kaget, tentu saja. Hary yang biasa nya paling kalem dan paling bener di antara Ken dan Clay, bisa tiba tiba mabuk di Bali. Awalnya, Susan berfikir bahwa Hary di Bali karena sedang liburan bersama Ken, Clay dan Naura. Namun kini ia baru sadar, bahwa saat itu Hary di Bali karena mau bertemu dengan nya.
“Kamu mabuk karena kecewa kalau itu aku?” tanya Susan lagi menahan sesak.
__ADS_1
“Iya,” jawab Hary jujur, “Aku mencoba menghindari kamu perlahan. Aku coba tutup akun, dan membuang ponsel ku, tapi gak bisa. Nyatanya hanya sebentar aku membuat akun baru lagi dan masih menghubungi kamu dengan nomor baru ku kan,” jelas nya serta menghela nafas berat.
Memang benar, saat itu Susan sempat kehilangan jejak kekasih nya, namun hanya sebentar. Dan saat itu kekasih nya mengatakan bahwa ponsel nya hilang dna baru bisa beli setelah satu mingguan. Susan tidak terlalu mempermasalahkan nya, memang yang Susan tahu, kekasihnya bukan lah dari kalangan berada. Hary mengatakan bahwa dia orang menengah ke bawah, ia sengaja berbohong agar bisa mendapatkan seseorang yang tulus padanya.
Susan menghela nafas nya dengan kasar, ia tersenyum getir mentertawakan nasib nya yang begitu ajaib baginya. Lucu, marah, kesal dan kecewa bercampur menjadi satu.
“Susan, aku emang gak suka sama kamu. Tapi bukan karena fisik kamu, aku kesel setiap kali berdebat dengan mu. Tapi aku juga kehilangan saat kamu mendiamkan ku. Aku nyaman dengan hubungan kita meski hanya virtual, tapi aku sudah berusaha untuk menerima semuanya. Kita mulai dari awal ya,” kata Hary dengan tulus menggenggam tangan Susan.
“Aku gak tau mesti seneng, terharu atau marah sama kamu Har,” ucap Susan jujur, dengan raut wajah datar nya.
“Apa kamu udah gak nyaman sama aku?”
“Ini bukan soal kenyamanan Har, tapi emmtt—“ Susan langsung membulatkan matanya ketika dengan tiba tiba ada sebuah benda kenyal nan basah hinggap di bibir nya. Sangat singkat, dirinya tak bisa menolak karena hanya dalam hitungan detik Hary sukses merebut firs kiss nya.
__ADS_1