
Sepulang dari rumah Kenzo, Arsy tidak langsung pulang ke rumah. Ia lebih memilih mendatangi kantor Mike agar bisa meluapkan segala keluh kesah nya. Ya, memang inilah kebiasaan Arsy sejak dulu, dirinya tidak memiliki teman yang benar benar bisa ia percaya untuk tempat curhat. Jadilah ia selalu merecoki om nya agar mau mendengarkan curhatan hatinya. Walau sebenarnya, laki laki itu enggan dan selalu merasa kesal, namun entah mengapa Arsy selalu merasa nyaman dan segala keresahan hatinya bisa berkurang lega setelah menceritakan semuanya kepada Mike.
“Assalamualaikum, Om—“ Tubuh Arsy langsung mematung ketika membuka pintu dan melihat pemandangan di depan nya.
“Ma—maaf, tadi a—aku ... “ kata Arsy dengan nada terbata dan memundurkan langkah nya perlahan, “Ma—maaf sudah mengganggu, permisi.”
“Chila tunggu!” pekik Mike langsung beranjak dan mengejar Arsy yang tidak jadi masuk dan malah berlari pergi.
Mike bisa melihat bahwa mata Arsy tengah sembab, menandakan bahwa gadis itu sedang tidak baik baik saja. Mike yang sudah hafal dengan kebiasaan Arsy bila datang ke kantor nya, langsung mengejar dan berusaha menenangkan nya.
“Aku bilang tunggu!” Seru Mike dengan wajah marah setelah berhasil mencekal tangan Arsy yang hendak masuk ke dalam lift.
__ADS_1
“Maaf, tadi Chila cuma mau— hiks hiks hiks. Chila gak bermaksud ganggu, jadi Chila pergi. Nanti, nanti kalau om udah pulang aja Chila temuin om lagi. Sekarang, hiks hiks sekarang Chila mau pulang dulu,” kata Arsy berusaha menahan isak tangis nya hingga membuat Mike menghela nafas nya dengan kasar.
“Kita kembali ke ruangan ku,” ucap Mike hendak menarik tangan Arsy dan kembali membawa nya ke ruang kerja.
“Gak mau!” tolak Arsy dengan cepat, “Chila malu sama kak Els, Chila gak mau kelihatan nangis begini! Chila mau pulang hiks hiks.”
“Dia akan segera pergi,” kata Mike lagi namun Arsy tetap menggelengkan kepala nya, “Masuk sekarang, atau jangan pernah temui aku lagi.” Ancam Mike membuat Arsy di ambang dilema.
Sementara itu, Naura yang sudah lelah dengan tangis nya, akhirnya ia memutuskan untuk mandi. Meskipun tubuh nya maish sedikit lemah, namun ia ingin menenangkan pikiran nya, ia memutuskan untuk berendam di bathtub agar lebih rileks.
Drrttt ... Drrttt ... Drrtt ..
__ADS_1
Meski matanya terpejam, namun Naura masih bisa mendengar suara dering dan getaran dari ponsel nya di dalam kamar. Meski enggan, namun telinga nya terus merasa terusik, akhirnya mau tak mau Naura bangkit dan memakai bathrobe nya, menyudahi waktu santai nya demi sebuah dering telfon.
“Siapa sih,” gumam nya berdecak sedikti kesal.
“Halo—“
“Iya, saya sendiri. Ada yang—“
“Apa!!” pekik nya tiba tiba, ia langsung menjatuhkan ponsel nya, air matanya langsung mengalir dengan deras.
Hanya beberapa detik, ia segera tersadar, ia mengambil kembali ponsel nya, “Baik, saya akan segera ke sana.” Setelah mengatakan itu, Naura segera menghapus air mata nya dan bergegas memakai baju.
__ADS_1
“Astagfirullah, kenapa bisa begini sih, hiks hiks.” Gumam nya terisak sambil bersiap. Setelah semua siap dan tak ada barang yang ketinggaan, Naura segera mengambil kunci motor milik Kiano dan segera melenggang pergi.