
...~Happy Reading~...
Seharian ini, Ken bekerja dalam keadaan yang tidak tenang. Berulang kali ia bolak balik untuk pergi ke Toilet karena merasakan perutnya yang teramat sangat mulas. Namun, ketika ia sampai di toilet rasa mulas nya menghilang, dan ketika ia kembali bekerja, maka mules itu akan datang kembali.
“Ken, kamu itu kenapa sih? Dari tadi sudah berapa kali kamu bolak balik kaya setrikaan seperti itu?” tanya papa Kaisar dengan sedikit berdecak kesal.
Pasalnya, mereka sedari tadi saat meeting, Ken terus saja pamit untuk pergi ke toilet. Tentu saja hal itu membuat klien nya kesal dan marah karena merasa di permainkan. Beruntung, Kaisar bisa dengan sigap menggantikan Ken untuk persentasi. Namun meski begitu tetap saja, ia melihat wajah klien nya sedikit kurang puas dengan hasil yang di jelaskan oleh Kaisar. Karena sejak awal, proyek itu di pegang oleh Kenzo, dan selama ini setiap kali membahas tentang proyek adalah Kenzo.
“Gak tau, Pa. Aduhh, mules lagi, Ken ke toilet dulu!” seru nya seraya meremas perut nya yang kian terasa sangat mulas. Hingga membuat keringat bercucuran membanjiri kening dan leher Ken.
“Papaaaa!” teriak Ken yang sudah benar benar tidak sanggup merasakan sakit di perut nya.
“Astaga, Ken, kenapa—“
“Pah, sakit banget. Ken mau pulang, ayo Pa pulang,” ringis Ken menahan sakit, membuat Kaisar semakin tak tega melihat putra nya seperti itu. Ia pun segera memapah putra nya untuk berjalan dan pulang.
Sesampainya di rumah, rasa sakit nya kembali hilang. Ia segera menghambur memeluk istri nya yang siang itu tengah menikmati rujak bersama sang mama. Tentu saja, Naura yang bingung merasa terkejut dengan kedatangan Ken yang tiba tiba.
“Ken, kamu kenapa?” tanya Naura sedikit mengernyitkan dahi nya menatap suami nya dengan bingung. Terlebih ketika ia melihat masih ada sisa keringat yang membasahi kening suami nya, “Kamu pulang naik ojek? Atau jalan kaki? Ini kenapa bisa keringetan begini? Gak mungkin AC mobil mati kan?” imbuh nya beruntun, seraya mengusap keringat di dahi suami nya.
“Aku sakit,” gumam Ken begitu lirih dan manja mengendus dada istri nya.
“Ken, jangan seperti ini ah, malu sama mama. Astaga itu juga ada Papa, kamu pulang sama papa?” tanya Naura berusaha menjauhkan kepala Ken dari dada nya. Namun ternyata begitu sulit, karena pelukan Ken cukup erat.
“Suami kamu kembali membuat ulah, Ra. Meeting satu jam, dia izin ke toilet sampai lima kali!” ucap papa Kaisar mengadu, ia pun ikut mendudukkan diri nya di kursi sebelah sang istri.
__ADS_1
“Kamu sakit apa? Kamu diare?” tanya Naura, namun Ken dengan cepat menggelengkan kepala.
“Aku mau istirahat aja. Ayo kita ke kamar,” ajak Ken bangkit dan mengajak Naura untuk ke kamar.
“Pergilah, sana pergi. Tidak usah kerja, percuma!” sindir papa Kaisar yang masih kesal terhadap putra nya.
“Hus, kamu ini Mas. Anak lagi sakit, kok begitu sih!” celetuk mama Kiara dan langsung menepuk bahu sang suami.
Baru saja Ken dan Naura menaiki tangga, tiba tiba langkah kaki Naura terhenti ketika merasakan adanya sesuatu yang mengalir membasahi kaki nya.
Plup!
“Ken, aku ngompol,” ucap Naura sedikit berbisik sambil mencengkram tangan Ken.
“Hah!” Ken yang bingung, seketika langsung menunduk dan melihat ke arah bawah, dimana memang benar bahwa dress dan kaki Naura sudah basah kuyup. Tak hanya itu, lantai pun banjir karena cairan yang di keluarkan oleh Naura.
“Mana aku tahu, aku aja gak ngerasa apa apa kok!” jawab Naura juga bingung.
Sementara itu, Kiara dan Kaisar yang mendengar anak dan menantu nya berdebat, ikut menghampiri karena penasaran, “Kalian kenapa sih?” tanya mama Kiara di iringi dengan helaan nafas berat.
“Mah, Naura jorok. Masa dia ngompol!” kata Ken mengadu kepada mama nya persis seperti anak kecil sambil tangan nya menunjuk ke arah bawah sana.
“Astagfirullah!” pekik mama Kiara langsung menutup mulut nya, “Naura, kamu gak ngerasain sakit, Sayang?” tanya mama Kiara cemas.
“Enggak Ma, maaf ya Ma. Naura gak sengaja, Naura—“
__ADS_1
“Sayang, kamu bukan ngompol, tapi itu air ketuban kamu!” seru mama Kiara seketika menjadi panik, “Mas cepat siapin mobil Mas. Kita bawa Naura ke rumah sakit!”
Kaisar yang ikut panik, berusaha untuk tetap tenang. Ini bukan kali pertama dirinya menghadapi wanita akan melahirkan, batin nya. Sementara itu, Ken yang sejak tadi terdiam masih mencerna ucapan dan kepanikan orang tua nya. Hingga tiba tiba, ia merasakan kembali bagaimana perut nya begitu nyeri, panas seperti kram dan sangat sulit untuk utarakan.
“Ma, shhhh perut Ken sakit lagi!” lirih Ken meringis dan memegang perut serta pinggang nya.
“Mah, yang mau melahirkan Naura kan? Kenapa Ken yang sakit perut? Perut Naura gak sakit sama sekali,” ungkap Naura yang di landa kebingungan dan tak tega melihat sang suami yang terus memekik menahan rasa sakit.
“Duuhh, mama jadi ikut bingung. Udah ayo kita ke rumah sakit sekarang!” ucap mama Naura membantu anak nya untuk berjalan menuju mobil, sementara Naura masih begitu santai berjalan mengikuti di sisi kanan mama mertua nya.
“Paahh, Maah cepetan. Sakit banget! Ken gak kuattt!” jerit nya semakin memekik ketika ia merasakan dorongan luar biasa seperti orang ingin buang air besar.
“”Pah, mampir ke sana sebentar dong. Naura pengen itu,” ujar Naura ketika melihat seorang pedagang di pinggir jalan yang begitu menggiurkan.
“Sayang, jangan gila. Perut aku sakit!” seru Ken tak terima.
“Tapi aku pengen itu, Ken.” Kata Naura tak kalah seru seraya memanyunkan bibir nya kesal.
“Pah, langsung ke rumah sakit saja Pa. Perut Ken udah sakit banget!” desis Kenzo sampai menggigit bibir bawah nya untuk menahan rasa sakit, tangan nya pun sejak tadi tidak diam, terus saja mencengkram jas yang ia kenakan.
“Sebentar aja Pa, Naura pengen itu. Nanti cucu papa ileran gimana? Papa berhenti,” rengek Naura terus memohon, hingga membuat Kiara dan Kaisar tak tega. Keduanya pun sepakat untuk berhenti sejenak, membuat Kenzo semakin panik dan menjerit kesakitan.
Setelah beberapa saat, Naura sudah mendapatkan pesanan nya. Ia pun memilih makan di mobil karena tidak tega melihat suami nya terus merintih kesakitan. Aneh bukan, dirinya yang akan melahirkan namun suami nya yang kesakitan. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Naura begitu enjoy menikmati kue serabi yang tadi ia beli di pinggir jalan. Sementara Ken hanya diam menahan sakit dengan lelehan keringat membasahi wajah nya.
“Kamu mau, Ken?” tanya Naura menawarkan dan hendak menyuapi Ken.
__ADS_1
“Gak!” jawab nya dengan sangat ketus, karena ia kesal dengan Naura yang mementingkan kue serabi di banding dirinya yang sedang kesakitan.
“Gak mau ya sudah, aku makan sendiri,” balas Naura cuek dan ia segera memakan kue tersebut.